By RENO AZ
Abstrak
Agama sebagai sebuah keyakinan yang hingga kini terus dibahas dan diperdebatkan, kerap menimbulkan persinggungan antarperadaban-hampir disetiap era dan perikehidupan manusia. Sudah begitu banyak ulasan dan hasil penelitian yang dilakukan dari agama-bagama besar dunia, termasuk Islam, tapi bahkan hingga kini pun, kita masih tetap bersilangsengkarut aregumen, apakah dunia akan lebih aman dan damai dengan adnya agama, atau malah sebaliknya? Untuk meramaikan pembicaraan seputar agama itu, dalam tulisan ini, kami akan menyertakan beberapa kata kunci yang bisa diikutkan dalam kajian tentang agama.
Apakah studi agama itu mungkin?
Kemungkinan untuk membuat sebuah studi tentang agama, sebenarnya sangat terbuka dan bisa saja dilakukan dengan menggunakan berbagai kerangka metode yang dibutuhkan. Hanya saja, kami ingin mengajak pembaca untuk menjawab beberapa pertanyaan mendasar berikut ini; kenapa mesti ada studi tentang agama? Untuk dan atas kepentingan apa sehingga studi tentang agama dirasa perlu? Apakah selama ini agama tak bisa terpahami dengan baik, sehingga dibutuhkan penelaahan ulang atasnya? Atau jangan-jangan, ada faktor luaran yang menyebabkan urgensi studi agama itu dilakukan? Seperti dengan maraknya perselisihan umat beragama dalam skala global-seperti kalangan pemeluk Hindu dan Muslim yang terus berjibaku memertahan kebenaran masing-masing. Baca selebihnya »
Agaknya sebuah ironi besar nampak di akhir pekan ini dengan aksi longmarch sekawanan orang-orang dengan atribut partai mengitari mereka. Pembantaian yang menimpa warga Palestina menjadi modal yang berharga untuk menarik simpati masyarakat pada sebuah kelompok atau Parpol. Sejauh ini, sebuah Parpol begitu getol menampakkan diri dengan mengusung penderitaan rakyat Palestina. Melakukan aksi mereka di beberapa ruas jalan raya di negeri ini, sebut saja Thamrin Jakarta dan di Malang Jawa Timur. Momen yang benar-benar tepat, untuk seolah menunjukkan rasa solidaritas atas nama umat Islam dan kemanusiaan. Bukan ingin berburuk sangka, namun apa yang dilakukan oleh Parpol ini sudah kelewatan jika memang benar apa yang dilakukan adalah upaya semakin mengharumkan nama “besar” mereka.
Flatliners. Mungkin akan sedikit manarik jika mau menghubungkan film ini dengan Dominion: Prequel to Exorcist. Dua film yang mungkin bersebrangan, namun memiliki satu titik temu, ketakutan. Kesimpulan awal dari dua film ini seperti hendak mengatakan bahwa pada dasarnya manusia memang ditakdirkan atau memiliki nasib untuk memiliki satu kondisi di mana ketakutan (fireness) ada bersamanya. Hanya saja, berbicara tentang dua film ini berarti bicara dua ruang yang berbeda cara pendekatannya. Flatiners bercerita melalui pendekatan psikologi manusia, Dominion: Prequel to Exorcist erat kaitannya dengan teologi Katholik Roma. Mengapa saya katakan dua film ini benar-benar berbeda. Yang satu menekankan aspek kemanusiaan dan coba dikembalikan pada diri manusia itu sendiri, sedangkan satunya lagi, menekankan pada aspek kemanusian dengan mengembalikan segalanya pada Tuhan.