Kurusethra

Posted in Puisi dengan kaitan (tags) , , , , , on Oktober 26, 2009 by bintangtimur

Terjadi
Berulang
Sejarah manusia
Maupun cerita tentang para dewa di kahyangan

Manusia
Baik buruk
Bicara keadilan atau kebenaran
Antara hak dan ketamakan

Manusia
Darah mengalir
Di padang perang antar pasukan
Masih tentang keadilan juga kebenaran
Beradu kekuatan
Meski waktu merubah zaman
Satu hal itu tak pernah berubah

Manusia
Siapa yang paling benar?
Yang menang?
Yang berkalang tanah?
Mungkin para dewa yang benar?
Ah Tuhan sajalah yang benar

Manusia
Di padang Kurusetra
Tak mau berhenti
Entah berapa ribu juta lagi dikorbankan nyawa

Cililitan Kecil, 25Oktober11:30, 2009
Saat hanya kata2 saja yang bisa aku dayagunakan
Saat merindukan kaki tangan untuk aku gunakan
Saat aku lelah dengan kata2 bualan yang tak jelas maksud dan tujuan
Saat aku ingin terbakar, hilang, segera terlahir kembali menjadi aku yang baru yang lebih bermakna
Mungkin kata2ku ini sekali lagi adalah bualan yang tak bermaksud tak bertujuan
Mungkin memang begitu aku musti harus berperan

Sebuah Tanya pada Kita yang Mengaku Islam

Posted in Islam on September 4, 2009 by bintangtimur

Islam rahmatal lil alamin masih saja menjadi slogan. Didengungkan macam kata indah kampanye para politikus yang ingin memenangkan pemilu. Tiga buah kata yang ternyata begitu berat untuk diwujudkan, atau malah untuk dinampakkan saja demikian adanya, begitu susah. Tiap hari kita mendengar kata-kata ini diucapkan di tempat-tempat umat Islam biasa berkumpul. Bisa saja di masjid-masjid atau sebuah seminar mewah di sebuah hotel yang kebetulan membahas tema-tema keislaman. Dan sampai sekarang belum nampak bukti konkrit hal ini terwujudkan atau diupayakan untuk diwujudkan. Sekedar slogan atau kata-kata penghias bibir. Harus diakui bahwa kondisi umat Islam pada saat ini ada pada satu kondisi terbelakang, tidak maju-maju. Dan bagaimana bisa sebuah umat yang terbelakang dapat menjadi sebuah “komunitas” yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. Diri sendiri saja belum menjadi umat yang dirahmati. Jika hal ini dilihat dalam konteks Baca selebihnya »

Siapa Bilang Kita Belum Merdeka

Posted in Refleksi on Agustus 17, 2009 by bintangtimur

Hanya orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT-lah yang bilang bahwa bangsa ini, negeri ini, belum merdeka. Bagaimana kita tidak merdeka? Di negeri inilah berjuta kemudahan dan kebebasan begitu gampangnya di dapat. Coba sekarang sebutkan negara mana yang begitu bebas di dunia ini selain di Indonesia? Amerika? Inggris? Belanda? Atau bahkan Malaysia atauThailand?
Negara-negara itu aku pikir masih begitu kalah dibanding Indonesia. Amerika? Tak ada apa-apanya jika kita bicara soal kemerdekaan warga negaranya. Di hadapan Indonesia mereka musti harus banyak belajar hal. Malaysia? Ah..masih kita saksikan bagaimana susahnya orang-orang di sana atau pemerintahannya menghargai orang. Tak akan susah kita temukan diferensiasi kelas di sana berdasarkan etnis yang ada di sana, di mana etnis melayu begitu menonjol ruang gerakannya. Belum lama kita ingat kasus demo warga India di sana, menuntut hak-hak yang seharusnya mereka peroleh sebagai warga negara. Belum lagi kita bicara soal nasib TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja di sana. Belum ada kemerdekaan di sana. Di Thailand, isu diskriminasi kelas berdasarkan agama jelas menjadi isu menarik yang dapat kita sebut sebagai tanda ketidakmerdekaan warga negara di sana. Hak-hak warga negara Islam dan Buddha jelas berbeda.
Lagi-lagi hanya orang yang kurang pandai bersyukur yang bilang bahwa negara Indonesia ini belum merdeka. Kita tahu bahwa di belahan bumi lain, masih banyak saudara kita sebagai umat manusia yang masih di selimuti kondisi perang, yang mungkin seperti tak pernah ada habisnya. Awal 2009 kita begitu diguncang dengan agresi militer Israel ke Gaza. Belum lagi kerusuhan di Afghanistan, buntut dari perang yang entah kapan dimulai. Di Irak, di Somalia, dan masih banyak lagi yang lainnya. Melihat nyawa manusia-manusia di tempat-tempat itu begitu tak ada artinya, kita di negeri yang telah damai ini masih saja enggan mau bersyukur.
Tulisan ini bukan hendak mengabaikan bahwa di negeri ini masih di selimuti persoalan-persolan, dari korupsi yang merajalela sampai persoalan kemiskinan yang tak ada habisnya. Tetapi melihat hal ini terlalu dalam dan menghujat sana-sini, bilang bahwa negeri ini begitu bobroknya, belum merdeka, adalah sikap tidak mau mensyukuri nikmat dan anugerah itu. Saya khawatir dari sikap semacam ini apatisme dan pesimisme akan melanda negeri ini, hingga lupa bahwa kemerdekaan fisik dengan segala kekurangannya ini perlu diisi dengan segala macam tindakan perbaikan.
Begitupun dengan segala macam heroikisme yang kini masih saja menjadi acara resmi di negeri ini kala merayakan ulang tahunnya. Berteriak-teriak macam orang gila, atau melakukan upacara yang dianggap sedemikian sakralnya tetapi minim penghayatan. Hal ini begitu nampak berlebihan. Belum lagi kalo melihat para pejabat yang perutnya buncit-buncit itu dengan bangganya mengangkat tangan berpawai ria mengitari kota. Merayakan kemerdekaan Indonesia, lupa dengan keprihatinan yang seharusnya menjadi perhatian kita semua.
Semoga dengan adanya nilai penghargaan sebagai bentuk dari rasa syukur kita pada nikmat dan karunia Allah SWT dan adanya nilai keprihatinan yang melandasi di sisi yang lain, kita dapat dengan optimis membangun negeri ini. Dan rasa optimis saja tidak cukup untuk merubah negeri ini tanpa tindakan dan kerja nyata dari kita semua yang menyebut diri manusia-manusia Indonesia.

Saat Kali Pertama Kita Jumpa

Posted in Kata Cinta on Agustus 17, 2009 by bintangtimur

Ingatku saat kali pertama kita benar berjumpa. Di halte yang kau aku sama tau. Kau suruh aku menunggu sebelumnya, sedang kau masih menunggu hujan cukup reda. Cukup lama, sejam, mungkin dua jam, bagiku tak apa. Dan hujan juga belum hendak reda. Aku menunggu, sesekali membalas sms-mu.
Cukup lama, hujan belum juga reda. Kembali kuterima sms-mu, entah yang ke sekian, memintaku untuk kembali saja karena telah terlalu lama aku menunggu. Dan memang sepertinya hujan belum mau mereda. Handphonku berdering, kamu menelpon rupanya, tak kuangkat, baterai habis, selain itu suara di sekitarku begitu berisik. Kamu sms lagi, tetap memintaku untuk kembali, lagi-lagi karena sudah terlalu lama aku menunggumu. Aku tetap menunggumu, kubalas sms-mu itu. “Kamu sih nekad segala!” katamu karna tahu awan di langit begitu tebalnya siang menjelang sore itu.
Benar juga. Ketika berangkat, melaju di jalan Raya Cawang, belok ke kanan arah UKI, ke kiri menuju Jatinegara, awan di atasku seperti sudah mau tumpah. Di cakrawala langit utara, kulihat masih ada harapan, sebagian sisi langitnya tak banyak tertutup mendung. Aku pun berdoa hujan tak turun. Berharap tempatmu ada pada naungan mendung yang tak begitu tebal itu. Di lampu merah Jatinegara, aku harap-harap cemas dengan awan tebal di atasku, selain berdebar segera bertemu kamu. Menelusup di antara ruang-ruang kosong mobil satu dengan yang lainnya, aku berebut ruang dengan pengendara motor lainnya untuk ada pada barisan depan antrian panjang di lampu merah. Kembali motorku melaju, lurus ke timur, menuju tempatmu.
Di Cipinang, angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering dari pohon di tepi jalan. Tak begitu cepat, tapi inginku segera sampai tempat yang kutuju. “Stasiun Klender! Habis ini gumanku. Terus melaju. Sampaiku di sebuah halte di depan stasiun yang kamu ceritakan padaku. Aku menunggu di situ. Dan sepertinya benar juga katamu, aku seperti tak mau memperhitungkan air yang akan segera tumpah ke bumi ini. Tapi awan-awan itu nampaknya berbaik hati menungguku untuk sampai pada tempat yang aku tuju. Sesaat hujan turun dengan derasnya. Kuterima SMS-mu.
Beberapa jam setelah kusampai, hujan mulai reda, dengan rintik-rintik kecil yang masih tak hendak berhenti. Kau bilang segera menemuiku. Aku tunggu. Benar juga beberapa saat kau datang juga. Ya benar, dengan senyum manismu itu, kau menyapaku. Halte sudah cukup rame kala itu, dengan turunnya kembali air dari langit itu. Kau dan aku tau setelah itu!

Kajian atas Faktor Mendasar dari Studi Agama

Posted in Pemikiran on April 5, 2009 by bintangtimur

By RENO AZ

Abstrak

Agama sebagai sebuah keyakinan yang hingga kini terus dibahas dan diperdebatkan, kerap menimbulkan persinggungan antarperadaban-hampir disetiap era dan perikehidupan manusia. Sudah begitu banyak ulasan dan hasil penelitian yang dilakukan dari agama-bagama besar dunia, termasuk Islam, tapi bahkan hingga kini pun, kita masih tetap bersilangsengkarut aregumen, apakah dunia akan lebih aman dan damai dengan adnya agama, atau malah sebaliknya? Untuk meramaikan pembicaraan seputar agama itu, dalam tulisan ini, kami akan menyertakan beberapa kata kunci yang bisa diikutkan dalam kajian tentang agama.

Apakah studi agama itu mungkin?

Kemungkinan untuk membuat sebuah studi tentang agama, sebenarnya sangat terbuka dan bisa saja dilakukan dengan menggunakan berbagai kerangka metode yang dibutuhkan. Hanya saja, kami ingin mengajak pembaca untuk menjawab beberapa pertanyaan mendasar berikut ini; kenapa mesti ada studi tentang agama? Untuk dan atas kepentingan apa sehingga studi tentang agama dirasa perlu? Apakah selama ini agama tak bisa terpahami dengan baik, sehingga dibutuhkan penelaahan ulang atasnya? Atau jangan-jangan, ada faktor luaran yang menyebabkan urgensi studi agama itu dilakukan? Seperti dengan maraknya perselisihan umat beragama dalam skala global-seperti kalangan pemeluk Hindu dan Muslim yang terus berjibaku memertahan kebenaran masing-masing. Baca selebihnya »

Extraordinary

Posted in Puisi on Februari 28, 2009 by bintangtimur

Pada penantian
Pengenalan tentang sabab musabab
Aku tentang aku
Berjalan bersama waktu

Pada waktu
Pengenalan pada bijak dan keingintahuan
Aku tentang aku
Berjalan bersama keheningan

Pada ruang
Merajut keberadaan
Aku tentang aku
Menyatu dengan bintang, bulan, segala penampakan

Duduk diam
Mengembara
Kaki tangan terpotong bilah ruang dihimpit waktu
Tentang ketakterbatasan

Hilang aku
Kembali aku
Tak terkenali lagi
Dan diam dalam kemahaluasan

Cililitan, Jum’at, 28 Februari 2009
Saat gemuruh suara di langit menggema
Sayup suara alam
Duduk diam
Merajut simponi keindahan
Mengenali gerbang kesakralanku

Catatan Perjalanan: Kami Ingin Merasakan Goresan Angin

Posted in Perjalanan on Februari 8, 2009 by bintangtimur

Hari-hari yang melahkan. Entah apa yang dapat kami temukan dalam perjalanan ini. Mungkin di akhir kami mendapatkan sesuatu yang membahagiakan hati. Tentu saja demikian, paling tidak aku untuk sementara ini.

Perasaan tenang mengisi hati. Setelah kemarin basah kuyup diterpa hujan, juga tidur kebasahan dalam tenda karena selain tidak ada baju kering tersedia, tenda yang aku tempati tak mampu menahan air. Meski hujan tak terlampau deras mengguyur. Baca selebihnya »

Tentang Para Psikopat dan Mereka yang Gila Perang

Posted in Editorial dengan kaitan (tags) , , on Januari 13, 2009 by bintangtimur

Minggu-minggu ini sunggung sangat menyebalkan.
Menjenuhkan dengan berita yang melulu sama topiknya
Ada pada hampir semua media
Koran, Radio, TV, juga wacana-wacana yang sedang menghangat di Blog-blog lokal maupun luar negeri
Sungguh membosankan
Mencemaskan
Bukan cemas soal serangan Israel yang membabi-buta
Tapi karena kekerasan sudah menjadi biasa
Bahkan telah menjadi tradisi umat manusia
Mungkin manusia memang untuk demikian diciptakan
Karena bagaimanapun Tuhan menganugerahinya, selain “ketenangan” juga ketamakan
Naluri malakutiyah juga hewaniyah..
Begitulah nasib manusia
Sisi hewaniahnya sedang merajalela

Jika aku dapat, akan kupanggil Sigmund Freud dan muridnya, William James utuk mengobati mereka
Jika aku dapat, akan kupanggil Sade untuk mengajari mereka tentang kebenaran
Jika aku dapat, akan kupanggil Tuhan untuk meredam peperangan
Jika aku dapat………………………………………