Kajian atas Faktor Mendasar dari Studi Agama

Dikirim Pemikiran pada April 5, 2009 oleh bintangtimur

By RENO AZ

Abstrak

Agama sebagai sebuah keyakinan yang hingga kini terus dibahas dan diperdebatkan, kerap menimbulkan persinggungan antarperadaban-hampir disetiap era dan perikehidupan manusia. Sudah begitu banyak ulasan dan hasil penelitian yang dilakukan dari agama-bagama besar dunia, termasuk Islam, tapi bahkan hingga kini pun, kita masih tetap bersilangsengkarut aregumen, apakah dunia akan lebih aman dan damai dengan adnya agama, atau malah sebaliknya? Untuk meramaikan pembicaraan seputar agama itu, dalam tulisan ini, kami akan menyertakan beberapa kata kunci yang bisa diikutkan dalam kajian tentang agama.

Apakah studi agama itu mungkin?

Kemungkinan untuk membuat sebuah studi tentang agama, sebenarnya sangat terbuka dan bisa saja dilakukan dengan menggunakan berbagai kerangka metode yang dibutuhkan. Hanya saja, kami ingin mengajak pembaca untuk menjawab beberapa pertanyaan mendasar berikut ini; kenapa mesti ada studi tentang agama? Untuk dan atas kepentingan apa sehingga studi tentang agama dirasa perlu? Apakah selama ini agama tak bisa terpahami dengan baik, sehingga dibutuhkan penelaahan ulang atasnya? Atau jangan-jangan, ada faktor luaran yang menyebabkan urgensi studi agama itu dilakukan? Seperti dengan maraknya perselisihan umat beragama dalam skala global-seperti kalangan pemeluk Hindu dan Muslim yang terus berjibaku memertahan kebenaran masing-masing. Baca selebihnya »

Extraordinary

Dikirim Puisi pada Februari 28, 2009 oleh bintangtimur

Pada penantian
Pengenalan tentang sabab musabab
Aku tentang aku
Berjalan bersama waktu

Pada waktu
Pengenalan pada bijak dan keingintahuan
Aku tentang aku
Berjalan bersama keheningan

Pada ruang
Merajut keberadaan
Aku tentang aku
Menyatu dengan bintang, bulan, segala penampakan

Duduk diam
Mengembara
Kaki tangan terpotong bilah ruang dihimpit waktu
Tentang ketakterbatasan

Hilang aku
Kembali aku
Tak terkenali lagi
Dan diam dalam kemahaluasan

Cililitan, Jum’at, 28 Februari 2009
Saat gemuruh suara di langit menggema
Sayup suara alam
Duduk diam
Merajut simponi keindahan
Mengenali gerbang kesakralanku

Catatan Perjalanan: Kami Ingin Merasakan Goresan Angin

Dikirim Perjalanan pada Februari 8, 2009 oleh bintangtimur

Hari-hari yang melahkan. Entah apa yang dapat kami temukan dalam perjalanan ini. Mungkin di akhir kami mendapatkan sesuatu yang membahagiakan hati. Tentu saja demikian, paling tidak aku untuk sementara ini.

Perasaan tenang mengisi hati. Setelah kemarin basah kuyup diterpa hujan, juga tidur kebasahan dalam tenda karena selain tidak ada baju kering tersedia, tenda yang aku tempati tak mampu menahan air. Meski hujan tak terlampau deras mengguyur. Baca selebihnya »

Tentang Para Psikopat dan Mereka yang Gila Perang

Dikirim Editorial dengan kaitan (tags) , , pada Januari 13, 2009 oleh bintangtimur

Minggu-minggu ini sunggung sangat menyebalkan.
Menjenuhkan dengan berita yang melulu sama topiknya
Ada pada hampir semua media
Koran, Radio, TV, juga wacana-wacana yang sedang menghangat di Blog-blog lokal maupun luar negeri
Sungguh membosankan
Mencemaskan
Bukan cemas soal serangan Israel yang membabi-buta
Tapi karena kekerasan sudah menjadi biasa
Bahkan telah menjadi tradisi umat manusia
Mungkin manusia memang untuk demikian diciptakan
Karena bagaimanapun Tuhan menganugerahinya, selain “ketenangan” juga ketamakan
Naluri malakutiyah juga hewaniyah..
Begitulah nasib manusia
Sisi hewaniahnya sedang merajalela

Jika aku dapat, akan kupanggil Sigmund Freud dan muridnya, William James utuk mengobati mereka
Jika aku dapat, akan kupanggil Sade untuk mengajari mereka tentang kebenaran
Jika aku dapat, akan kupanggil Tuhan untuk meredam peperangan
Jika aku dapat………………………………………

Momen Tepat Berkampanye

Dikirim Refleksi pada Januari 12, 2009 oleh bintangtimur

israeli-attacks-on-gaza-24-palestinan-woman-in-a-funeralAgaknya sebuah ironi besar nampak di akhir pekan ini dengan aksi longmarch sekawanan orang-orang dengan atribut partai mengitari mereka. Pembantaian yang menimpa warga Palestina menjadi modal yang berharga untuk menarik simpati masyarakat pada sebuah kelompok atau Parpol. Sejauh ini, sebuah Parpol begitu getol menampakkan diri dengan mengusung penderitaan rakyat Palestina. Melakukan aksi mereka di beberapa ruas jalan raya di negeri ini, sebut saja Thamrin Jakarta dan di Malang Jawa Timur. Momen yang benar-benar tepat, untuk seolah menunjukkan rasa solidaritas atas nama umat Islam dan kemanusiaan. Bukan ingin berburuk sangka, namun apa yang dilakukan oleh Parpol ini sudah kelewatan jika memang benar apa yang dilakukan adalah upaya semakin mengharumkan nama “besar” mereka. Baca selebihnya »

Flatliners: Manusia Pusat Segala Putusan

Dikirim Sinopsis Film dengan kaitan (tags) , , pada Desember 10, 2008 oleh bintangtimur

flatliners-ld1Flatliners. Mungkin akan sedikit manarik jika mau menghubungkan film ini dengan Dominion: Prequel to Exorcist. Dua film yang mungkin bersebrangan, namun memiliki satu titik temu, ketakutan. Kesimpulan awal dari dua film ini seperti hendak mengatakan bahwa pada dasarnya manusia memang ditakdirkan atau memiliki nasib untuk memiliki satu kondisi di mana ketakutan (fireness) ada bersamanya. Hanya saja, berbicara  tentang dua film ini berarti bicara dua ruang yang berbeda cara pendekatannya. Flatiners bercerita melalui pendekatan psikologi manusia, Dominion: Prequel to Exorcist erat kaitannya dengan teologi Katholik Roma. Mengapa saya katakan dua film ini benar-benar berbeda. Yang satu menekankan aspek kemanusiaan dan coba dikembalikan pada diri manusia itu sendiri, sedangkan satunya lagi, menekankan pada aspek kemanusian dengan mengembalikan segalanya pada Tuhan. Baca selebihnya »

Hari Ini Aku Baik, Besok Pun Aku Demikian

Dikirim Editorial pada Desember 10, 2008 oleh bintangtimur

Kisah tentang perintah suci penyembelihan Ismail telah demikian dikenal umat Islam. Beberapa kali Ibrahim bermimpi tentang sebuah upacara pengorbanan. Selalu dikaitkan, bahwa Tuhan hendak menguji keimanan dan keikhlasan putra pembuat berhala ini. Ismail adalah putra terkasihnya, dan Ibrahim harus merelakannya menjadi sesembahan bagi-Nya. Tanda ketaatan pada Tuhannya. Dan ketika hari pengorbanan telah tiba, Ibrahim dan putranya menyusuri padang Arafah. Pada acara pengorbanan, ketika Ibrahim siap menyembelih puternya, Ismail pun digantikan domba. Dalam beberapa lukisan yang menggambarkan kisah ini, malaikat membawa seekor domba untuk menggantikan Ismail sebagai kurban. Ibrahim dan putranya berhasil melalui ujian yang Tuhan embankan.
Dari kisah ini pun sering disebutkan bahwa, ketika Ibrahim mengalami kebimbangan, Ismail dengan tegas siap menjadi kurban. Ini perintah Tuhan! Dengan yakin akhirnya Ibrahim menjalankan kehendak Tuhan ini. Kental sekali dengan kecintaan dan keikhlasan. Baik Ibrahim, maupun Ismail. Keduanya menjadi hamba yang taat dan rela mengorbankan apapun demi Tuhan. Bagi umat Islam, di mana Ismail hendak dikurbankan oleh ayahnya menjadi salah satu hari besar dan suci yang tiap tahun diperingati. Selain juga, menjadi sebuah ritual wajib bagi kaum muslim yang menunaikan rukun Islam kelima, haji. Tiga hari pada awal minggu kedua bulan Dzulhijah ini pun menjadi begitu sakral. Delapan, sembilan, dan sepuluh Dzulhijah, yang dipercaya menjadi hari-hari perintah suci itu datang dan dilaksanakan. Baca selebihnya »

Talk MOre Do More

Dikirim Editorial pada Nopember 26, 2008 oleh bintangtimur

“Jangan, ‘Sedikit Bicara, Bekerjalah!’, tetapi, ‘Banyak Bicara, Banyak Bekerja!’!” Mungkin kata-kata yang dilontarkan Bung Karno ini, aku temukan dalam “Di Bawah Bendera Revolusi”, ada benarnya tentu. Menjadi manusia efektif dalam bayangan yang digambarkan Soekarno.

Kenapa aku tak harus banyak bicara ketika misalnya aku dapat melakukannya, sekaligus bekerja dengan baik pula. Kualitas efektifitas hidup bukan hanya ditentukan oleh maksimalnya tangan dan kaki bergerak. Mulut yang bicara efektif pun akan mempengaruhi seberapa besar efektivitas yang akan kita capai.

Meskipun hal-hal semacam ini sangat kondisional, mengingat ini sekedar slogan. Tetapi, bukanlah slogan “Talk Less, Do More” adalah refleksi untuk mencitrakan kebiasaan kita yang malas bekerja, lebih banyak bicara. Dan bila mau menengok pada ruang politik negeri ini akan dapatkan realitas kondisi ini.

Para politikus yang mengumbar janji bukanlah cerita fiktif belaka. Hal yang paling aku ingat terkait hal ini adalah janji politik Fauzi Bowo, saat-saat gencar kampanye sebelum Pilkada Jakarta Agustus 2007. Janji mengatasi kemacetan dan menanggulangi banjir begitu manis terdengar saat itu. Dengan lantang mengatakan bahwa dia sanggup menangani dua masalah besar yang seperti menjadi situasi rutin masyarakat Jakarta. Namun, satu tahun masa kepemimpinan orang yang mengaku warga (atau malah menjadi ketua cabangnya) NU (Nahdlatul Ulama) ini tidaklah memunculkan perubahan yang berarti. Bahkan terkesan mengalami penurunan dibandingkan masa kepemimpinan Sutiyoso dan terkesan terbengkalai. Lihat saja misalnya proyek transportasi masal Busway. Lima belas koridor Busway yang dicanangkan, baru terealisasi tujuh koridor saja. Dan koridor delapan-sepuluh yang sedianya diresmikan akhir tahun ini (mundur setahun dari yang ditargetkan), sarana dan prasana yang telah disediakan pun nampak terbengkalai. Betapa terlihat bahwa memang Fauzi Bowo terlalu banyak bicara, namun bekerja seadanya. Tentu manusia macam ini belum menjadi manusia yang efektif. Dan lagi-lagi itu pun tetap kondisional, dalam artian tergantung ke mana itu mau diarahkan. Manusia memiliki kemampuan dalam melakukan sesuatu (bicara dan bekerja) secara positif. Dan tentu keduanya tetap akan lebih baik dilakukan secara bersama dari pada, “Talk Less, Do More” atau “Talk More, Do Less” saja. Jadilah “Talk More, Do More”. Menjadi manusia efektif.

Sunday, 23 November 2008

02:58, Cililitan