Arsip untuk Februari, 2008

Individualitas kita

Posted in Editorial on Februari 25, 2008 by bintangtimur

Untuk ke sekian kalinya saya memiliki teman baru melalui jaringan dunia maya. Acara ber-chating ria yang mengisi waktu luang pada kegiatan saya, mengaitkan satu hubungan perkawanan saya pada seorang kawan baru. Meski tidak tahu secara persis seperti apa rupanya dan dia, saya mempercayai bahwa ia orang baik. Dan saya pikir rasa percaya itu penting, semangat positif yang disemai pada akhirnya juga akan membawa sesuatu yang positif juga, demikianlah saya belajar untuk melihat hal positif pada hal-hal yang masih nampak abu-abu. Toh untuk tahu seseorang itu baik apa buruk dapat dilihat dalam proses perkawanan itu terjadi. Baca selebihnya »

Sado Masokisme Ala Indonesia

Posted in Puisi on Februari 25, 2008 by bintangtimur

Inilah panggung sandiwara Indonesia

Macam-macam intrik dimainkan di sana-sini

Dari penipuan kelas teri sampai kelas paus mengisi

Semua mengalir bagai air begitu saja dan merasuki setiap bagian tubuh bangsa ini

Retorika-retorika diciptakan

Cerita-cerita menarik dibubuhkan

Muka-muka manis dipampang

Topeng-topeng keindahan digunakan

Semua dilakukan demi satu tujuan, “keuntungan!

Satu sama lain mencari kata-kata tipuan dan rayuan

Satu berkata “jumlahnya dua ribu, pak!”, yang lain berkata “benar sekali pak, jumlahnya dua ribu”, padahal hanya ratusan

Aksi tutup-menutupi, aksi bagi-membagi dan saling melindungi menjadi lumrah dalam negeri kacau-balau ini

Lagi-lagi semua demi satu tujuan, “keuntungan!

Satu sama lain mencari-cari celah

Memunculkan isu-isu penting

Menjadikan yang biasa menjadi genting

Menjadikan yang penting menjadi biasa

Inilah bangsa Indonesia yang melupakan moral dan norma-norma

Benar bisa dikatakan salah, salah dikatakan benar

Kecurangan dijadikan teman, kejujuran dijadikan lawan

Bagai tanaman, Indonesia pohon yang penuh benalu

Benalu-benalu ini satu sama lain terhubung, membentuk simulasi-simulasi pendukung

Pengusaha menyiapkan dana, politisi merubah suasana, para pejabat sebagai juru bicara dan penegak hukumnya diam berjaga

Entah susana apa ini…?

Tapi ini nyata…

Dengan begitu kloplah simulasi ini

Rakyat menjadi diam

Ilusi-ilusi kecil membuat mereka dipenuhi kekaguman

Janji-janji penguasa membumbungkan harapan akan indahnya masa depan

Orang-orang ini terlanjur terpukau

Mereka begitu terlampau takjub dengan dengan kesempurnaan simulasi-simulasi buatan

Mereka tidak bergerak

Mereka diliputi mimpi-mimpi

Kaki mereka terlalu lama dipasung

Gerak mereka terlalu lama dikekang

Yah, begitulah yang tinggal hanya kepasrahan dan “keceriaan”

Segala kesenangan dan kenikmatan di atas kepedihan, penderitaan, dan tangisan saudara sebangsa ada begitu saja….

Aku hanya bisa heran dibuatnya…aku heran….aku heran dibuatnya

Aku kaya maka aku ada! Akulah manusia Indonesia…!

7 Februari 2008

Selamat Jalan Mayor

Posted in Editorial on Februari 18, 2008 by bintangtimur

Mayor Alfredo Alves Reinado telah tewas beberapa waktu lalu. Peluru-peluru dari moncong senjata anak buah Ramos Horta menembus tengkoraknya. Tubuh tegapnya yang masih mengenakan seragam tentara berlumuran darah. Isak tangis mengiring jenazahnya di rumah duka tempat kelahirannya. Tanah “panas” Timor Leste hari itu menyambut salah seorang putranya. Selamat jalan mayor!

Untuk ke sekian kalinya saya harus mengucapkan kata sakral itu, yang kini saya persembahkan untuk Sang Mayor, setelah sebelumnya terucap mengiringi kepergian Jenderal Besar Soeharto. Beda tempat, beda waktu, dan pangkat tidak menyurutkan saya untuk salut pada dua orang ini. Dua tokoh dengan dua karakter yang hampir sama. Untuk catatan awal…mereka adalah orang besar! Baca selebihnya »

Lupakan Nasionalisme Indonesia

Posted in Editorial on Februari 18, 2008 by bintangtimur

Begitu susahnya hidup sebagai warga Indonesia, apalagi bagi mereka yang hidup di perbatasan dengan negeri orang yang notabene kondisinya lebih baik dibanding negeri sendiri seperti Malaysia. Orang-orang yang tinggal di perbatasan kerap kali mengalami masalah dalam diri mereka. Paling tidak nasionalisme mereka menjadi beban moral tersendiri yang harus dipikul nurani. Di satu sisi mereka terlahir dan hidup di Indonesia, di sisi lain, karena perhatian negeri sendiri kurang, mereka harus rela menipu diri untuk sekedar mengisi perut dengan sesuap nasi. Baca selebihnya »

Topeng Hitam Wajah Indonesia

Posted in Refleksi on Februari 18, 2008 by bintangtimur

Moral menjadi bagian terpenting dalam keprihatinan negeri ini. Bangsa Indonesia mengalami demoralisi yang begitu serius. Moral adalah bagian terpenting untuk mencapai tujuan bangsa ini. Jika moral manusia-manusia Indonesia tetap amburadul, jangan harap ada perubaan di negeri ini.

Complex demoralization ini jika dibiarkan akan menjadi bom atom yang mengancam keberlangsungan hidup bangsa. Demoralisasi yang mengakar hingga jauh ke dalam tubuh bangsa menjadikan negara ini mati. Tidak mati fisik, tetapi mati jiwanya. Meskipun pada akhirnya akan termbunuh juga fisik bangsa ini. Demoralisasi ini tidak hanya menjamah ranah ekonomi, sosial, budaya, dan politik saja, tetapi dunia hukumpun di Indonesia tak luput jadi mangsanya. Baca selebihnya »

Kisah Manusia

Posted in Puisi dengan kaitan (tags) on Februari 15, 2008 by bintangtimur

Aku melihat manusia hidup di padang gersang gerindang kering kerontang

Gubug-gubug indah mereka dirikan pada tanah yang airpun tak mau berkawan…nampak serasa nyaman

Bernyanyi tertawa bersama gadis-gadis kecil mereka…..bermain dengan anjing yang lucu-lucu dengan bulu kaku

Wajah-wajah yang nampak kusam tak terlihat rona kecantikan maupun ketampanan……debu-debu sering menerpa rupanya

Tapi jangan heran…jangan heran

Mereka tak mudah ditahlukkan….mereka selalu menang

Aku ingin seperti mereka

Menghirup udara kebebasan bersama ilalang

Tak mau hilang ditelan zaman…ilalang di tanah bebatuan

 

Aku sering lihat pula manusia menetap di bukit-bukit salju yang membeku

Mereka  di sana…bertahan mengucap janji dengan para burung hantu itu

Berbagai ruang berbagi makan berburu tikus di liang

Mereka selalu bertahan…badai..angin topan kerap mereka hinakan

Terkadang pula nampak mereka ada di sungai-sungai, bening…nampak hening air membeku di permukaan

Berbagi bersama beruang mencari ikan mencari berang-berang

Mereka tetap saja bertahan…angin dingin menusuk tulang menghunus pedang tak mampu mengalahkan

Sesekali menikmati secangkir kopi di musim dingin

Sedikit susu segar dimasukkan, putih gurih, nikmat di lidah

Pahit, gurih, manis bercampur

Menarik hasrat untuk mencicipi

 

Sejenak aku ingat akan Adam Hawa yang gagal hidup abadi di surga karena sebuah rekayasa

Yang dulu secara sembunyi menemuiku di bukit Thursina nyaris tanpa busana

Mereka terdiam dalam hati meratapi dosa pada Tuhannya

Aku tak sempat mengucapkan sepatah dua patah kata…aku tetap terdiam….tak ada kata

Mereka juga mengerti aku tak akan bicara

Sejak itu dua manusia ini aku biarkan dan membiarkanku terus mengawasi

Dan mereka tetap bertahan…terus bertahan, hanya tidak pada godaan yang pernah dilakukan mereka lupakan

 

Mereka bertahan..mereka bertahan

Dari zaman Adam hawa hingga era pembantaian…mereka terus bertahan

Mereka terbiasa tertawa…riuh….mereka bersuara

Sesekali kesedihan juga menghibur tubuh lelah mereka

Bermandi peluh sehabis kerja

Perlu sedikit warna dunia ini kata mereka

Itu semua terasa biasa

Manusia…manusia…luar biasa

Panas terik gurun dan dingin thundra adalah biasa…ya..hanya biasa bagi mereka…

Tak ada yang istimewa menjadi penghuni neraka atau surga

Nampak biasa dan terlihat biasa….

 

 

Memaknai Valantine dengan Baik, Kenapa Tidak?

Posted in Editorial, Refleksi on Februari 13, 2008 by bintangtimur

Hampir selalu sama wacana yang beredar menjelang Valentine Day. Kalau tidak tentang cinta dan kasih sayang, wacana yang muncul dari tahun ke tahun adalah boleh tidaknya merayakan hari kasih sayang ini, terutama di kalangan umat Islam. Berita teranyar menjelang perayaan hari pesan cinta ini terdengar muncul dari dapur MUI, yang senang buat heboh dengan racikan-racikan fatwanya yang terasa pedas itu. Valentine Day is forbidden for our. Dengan alasan, peringatan hari ini yang biasanya oleh muda-mudi selalu dilakukan dengan acara hura-hura dan senang-senang. Baca selebihnya »

Mau Kita Apakan Pancasila?

Posted in Editorial, Refleksi on Februari 12, 2008 by bintangtimur

Entahlah…sejak tinggal di Jakarta dan meninggalkan bangku sekolah menengah negeri dua setengah tahun yang lalu, saya menjadi begitu asing dengan yang namanya Pancasila. Dulu ketika masih sekolah, nama Pancasila selalu saja nampak di depan mata. Setiap hari Senin paling tidak pembina upacara membacakannya di dalam ritual upacara mingguan yang masuk kategori wajib pada waktu itu, entah sekarang. Selain itu, dari kelas satu hingga kelas tiga SMA, atau bahkan sejak saya SD, pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) atau sebelumnya dikenal dengan PMP (Pendidikan Moral Pancasila) selalu mengarahkan dan menekankan saya akan keberadaan dasar negara Indonesia ini. Namun sampai sekarangpun belum mengerti betul mengapa pada masa-masa itu saya masih belum mengenal Pancasila. Ada semacam rasa bahwa Pancasila adalah sekedar kumpulan tulisan yang digunakan sebagai pedoman moral bagi kami pada waktu itu. Sekedar tulisan, tak lebih. Mungkin karena proses pewarisannya yang bermasalah, atau juga mungkin pada dasarnya saya tidak membutuhkannya. Toh dalam ajaran-ajaran agama, atau norma-norma adat yang ada saya sudah diperkenalkan pandangan-pandangan hidup yang mungkin beberapa di antaranya mencangkup nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Baca selebihnya »