Kain Tenun Songket

Masyarakat Indonesia pada umumnya tentu mengenal kain tenun asal Sumatra yang disebut songket. Berdasarkan asal-muasal namanya, songket berasal dari kata tusuk dan cukit yang disingkat menjadi suk-kit. Dalam perkembangannya kemudian suk-kit itu kemudian banyak dilafalkan sebagai sungkit yang kemudian berubah menjadi songket.

Sulit dicari asal-usul kapan kain songket pertama kali dibuat, untuk apa, dan di mana. Bisa jadi kain ini dibuat pertama kali di kerajaan Sriwijaya, mengingat bahwa kerajaan ini merupakan pintu masuk budaya yang beragam dan perdagangan dari berbagai negara. Namun, kalau dilihat lebih seksama dari motif yang ada, unsur-unsur yang mendominasi dalam kain tenun songket adalah unsur budaya China dan India.

Penampilannya yang gemerlap dengan benang emas, dan kainnya yang halus karena berbahan dasar sutra, menjadikan kain songket sejak dulunya merupakan kain “milik” para bangsawan, sebagai salah satu lambang status kekayaan mereka. Konon ketika itu, setiap kelompok bangsawan memiliki corak motif masing-masing, untuk membedakannya dari kelompok yang lain.

Lama kelamaan, kain songket pun menjadi pakaian yang wajib dikenakan pada saat upacara adat atau upacara resmi lainnya. Ketentuan adat itu terus bertahan hingga kini. Dalam upacara perkawinan, misalnya, mengenakan kain songket menjadi keharusan dalam tradisi sebagian masyarakat Melayu.

Industri songket biasanya dilakukan dalam skala-skala rumah tangga, misalnya seperti yang dilakukan oleh perajin Silungkang, di Padang. Pembuatan songket biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu. Bahkan ada yang sampai enam bulan. Tergantung tehnik yang dipakai.

Bahan baku
Pada masa dahulu, penyiapan bahan baku tenun seperti benang dan pewarnaannya dikerjakan dengan bahan-bahan yang diambil dari alam. Dahulu untuk mendapatkan warna merah biasanya dengan menggunakan kayu sepang yang diambil inti kayunya kemudian dicampur dengan akar mengkudu dan setelah itu direbus bersamaan dengan benang yang ingin diwarnai. Warna biru didapat dari indigo, warna kuning dari kunyit, dan warna-warna sekunder seperti hijau, ungu, dan oranye biasanya dilakukan pencampuran cat dari warna merah, biru, dan kuning. Dan untuk membuat warna agar tidak mudah luntur, pada waktu pencelupan biasanya diberi tambahan tawas.

Namun sekarang bahan-bahan itu sudah tergantikan dengan bahan-bahan buatan pabrik. Untuk benang biasa, kebanyakan para perajin saat ini menggunakan katon atau sutra, bisa juga campuran keduanya, sebagai dasar utama songket. Tapi untuk hasil yang paling bagus biasanya para perajin menggunakan sutra, untuk memperolah kain yang lebih lentur biasanya. Sedangkan benang emas yang menjadi motifnya biasanya menggunakan katon yang dicelup dengan cairan emas, yang biasanya memiliki kadar delapan karat.

Ada beberapa tipe benang emas yang biasanya digunakan dalam pembuatan songket. Pertama, benang emas jantung. Yaitu benang emas yang umurnya sudah tua dan tidak diproduksi lagi. Untuk mendapatkan benang emas ini biasanya para perajin mengambilnya dari kain songket yang telah kuno, kemudian ditenun kembali. Keunggulan benang emas ini adalah sifatnya yang tidak mudah luntur. Dan daya tahannya memang sangat lama, bahkan bisa sampai satu abad lebih. Kedua, benang emas bangko yang berwarna emas keperak-perakan dan bermanik-manik seperti mutiara. Ketiga, adalah benang sartibi. Warnanya emas agak keputih-putihan dan lebih halus. Dan benang yang digunakan masyarakat melayu kebanyakan adalah benang mamilon. Warnanya keemasan dengan tekstur agak kasar.

Motif-motif
Motif yang digunakan para perajin dari masa ke masa sepertinya tidak mengalami perubahan begitu banyak. Hal ini dikarenakan pada proses pembuatan songket itu sendiri. Karena rumitnya, untuk mengembangkan motifpun menjadi begit sulit. Motif hias songket biasanya berbentuk geometris atau hasil stilisasi dari flora dan fauna, yang masing-masing mempunyai arti perlambangan yang baik. Misalnya bunga cengkeh, bunga tanjung, bunga melati dan bunga mawar yang wangi yang melambangkan kesucian, keanggunan, rezeki dan segala kebaikan.

Motif benang emas yang rapat dan mendominasi permukaan kain disebut songket tepus, sedangkan yang motif emasnya tersebar disebut songket tawur. Pada tepi kain biasa dibuat motif tumpal, segitiga atau segi tiga terputus, yang disebut motif pucuk rebung. Tunas rebung yang tumbuh menjadi batang bambu yang kuat dan lentur, tidak tumbang diterpa angin ini melambangkan harapan yang baik.

Alat tenun
Sampai saat ini, kebanyakan para perajin masih menggunakan alat tenun tradisional warisan leluhur mereka yang terbuat dari kayu dan bambu. Alat utama dinamakan panta adalah sebuah konstruksi kayu biasanya berukuran 2 x 1.5 meter tampat merentangkan banang yang akan ditenun. Benang dasar yang dinamakan lungsin atau lusi, juga disebut tagak digulung pada gulungan dan terpasang pada arang babi di bagian yang jauh dari panta.

Perajin yang mengerjakan tenun ini duduk pada semacam bangku di bagian pangkal dari panta ini. Di depannya ada dua buah tiang yang menyangga kayu paso tempat kain yang sudah ditenun akan digulung. Jadi lungsin terentang antara gulungan dengan paso dan di antaranya terdapat satu pasang karok dan satu buah suri tergantung pada tandayan. Di kiri dan kanan penenun digantungkan tempat penyimpan skoci benang pakan dan skoci benang mas. Skoci ini dinamakan turak dan terbuat dari bambu.

Pembuatan
Pertama sekali perajin akan menggerakkan karok dengan menginjak salah satu tijak-tijak untuk memisahkan benang sedemikian rupa sehingga ketika benang pakan yang digulung pada kasali dan dimasukkan dalam skoci atau turak dapat dimasukkan dari kiri ke kanan melewati seluruh bidang karok, atau dari kanan ke kiri, secara bergantian, dan akan membentuk semacam ayaman yang ketika dipukul ke arah penenun dengan suri menjadi rapat dan membentuk kain.

Kemudian untuk membuat motif, digunakanlah benang emas. Benang emas digulung dengan kasali dan dimasukkan dalam turak. Akan tetapi jalur masukknya tidak dibuat dengan menggerakkan karok malainkan ditentukan dahulu dengan mancukie bagian-bagian tertentu dari benang lungsini dengan suatu alat sederhana dari bambu yang disebut pancukie. Tahap inilah yang sangat penting dan memakan waktu yang sangat lama karena benang lungsin itu harus dihitung satu persatu dari pinggik kanan kain hingga pinggir kiri menurut hitungan tertentu sesuai dengan contoh motif yang akan dibuat. Karena kebanyakan motif tenun adalah simetris, maka pada waktu penenun selesai membuat satu jalur makau, akan diletakkan satu batang lidi untuk menandai jalur itu sehingga dapat dipakai kembali ketika polanya kembali sama.

Karena begitu rumitnya, untuk menyelesaikan satu lembar kain songket dibutuhkan minimal empat minggu. Meski ada yang dapat dikerjakan dalam dua minggu, biasanya hasilnyapun kualitasnya kurang. Dalam pembuatan songket biasanya para perajin menggunakan tiga tehnik penyulaman. Pertama, dengan satu benang. Jadi satu persatu benang diurai ke kanan dan ke kiri. Tenhik ini merupakan tehnik yang paling lama pengerjaannya. Dan hasilnyapun tentu paling bagus. Biasanya pembuatan songket dengan mengguanakan tehnik ini membuhkan waktu tiga sampai empat bulan. Kedua, dengan tehnik benang rangkap dua. Ketika menggunakan tehnik ini para perajin menggunakan dua helai benang. Karena benangnya rangkap motif yang dihasilkannyapun terlihat lebih jarang dibanding dengan yang pertama. Ketiga, tehnik dengan menggunakan benang rangkap empat. Tentu dengan tehnik inilah, satu kain songket dapat dihasilkan dalam waktu yang cukup singkat. Namun, hasilnya lebih kaku dan motifnya nampak lebih jarang.

Secara garis besar pembuatan kain songket ini dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama, pencungkilan, artinya tahap ini merupakan tahap pembuatan motif kain songket itu sendiri. Dengan cara menyilah-milah benang dari benang songket, lama prosesnya tergantung dari kerumitan motif kain songket itu. Motif songket digambarkan dengan tuntunan lidi yang dipasang ditenunan yang disebuut sebagai “dayan”.

Kedua, proses penyambungan, artinya memisahkan benang untuk pakan songket, dengan cara diuraikan untuk persiapan penenunan. Para perajin biasanya menggulung dengan alat yang dinamakan “undaran benang.

Ketiga adalah penenunan, artinya proses akhir dalam pembuatan kain songket. Sama seperti tahap pertama, lama pembuatan juga dipengaruhi oleh motif yang digunakan. Tahap ini merupakan tahap paling lama dalam pembuatan sebuah kain songket. Selain karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran, juga diperlukanlah kecermatan dalam menempatkan benang antar benang yang dimasukkan dalam tenunan yang menggunakan undaran benang.

Pemasaran
Kain songket dapat dikatakan sebagai salah satu jenis pakaian yang mewah. Untuk satu set kain songket dengan kualitas bagus, yang terdiri dari tumpal (kepala kain) dan selendangnya, dijual sampai Rp 50 juta. untuk kelas songket yang paling murah, yaitu kain super dengan benang mamilon, dan ukuran selendangnya kecil, harga jualnya Rp 250.000 per set. Jika selendangnya berukuran tanggung, harganya menjadi Rp 350.000 per set. Sedangkan jika selendangnya dodot maka harganya Rp 500.000 per set. Dengan melihat betapa sulitnya membuat songket tentu harga yang ditawarkan tersebut dapat dikatakan sesuai. Selain itu pada umumnya untuk mendapatkan bahan-bahan seperti benang yang berkualitas, biasanya para perajin mengimpor dari China, India, atau Thailand, jadi kalau harga kainnya selangit itu wajar.

Biasanya oleh para perajin kain songket itu dijual distand-stand yang telah mereka buat sendiri. Atau para pembeli juga dapat membeli kain songket itu langsung di rumah para perajin, karena memang ini merupakan industri skala rumahan.

Sedangkan untuk pemasaran yang lebih luas, karena songket memiliki unsur estetika dan nilai jual yang tinggi tentu pangsa pasarnyapun terbuka lebar. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya tentu merupakan daerah pemasaran yang menjanjikan. Peluang inipun tentu menggiurkan, tak hanya bagi para pedagang atau para distributor, para desainer terkenal Indonesiapun banyak yang menaruh perhatian pada kain songket ini. Ini menggambarkan bahwa memang songket telah menjadi komoditi dagang yang sangat bernilai. Bahkan sebelum Indonesia merdeka songket merupakan salah satu barang dagangan yang diandalkan dalam pasar dagang internasional. Terbukti dengan diikutsertakannya kain tenun ini pada Pekan Raya Ekonomi yang dilangsungkan di Brussel, Belgia pada tahun 1910. Pada waktu itu Ande Baensah seorang perajin sekaligus penjual tenun songket dari Silungkang ikut serta dalam Pekan Raya Ekonomi itu untuk mendemonsatrasikan cara membuat kain tenun ini.

Selain dalam Pekan Raya ini, tercatat pula bahwa songket juga telah diperdagangkan di Calcuta oleh seorang melayu bernama Muhammad Yassin dari Kampung Panai Empat Rumah pada tahun 1921. Di era lima puluhan di Indonesia ada Abidin, seorang penjaja songket dari kampung Dalimo Godang yang menggunakan jasa paket pos untuk menjual dagangannya. Kota-kota besar seperti Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Makasar telah menjadi daerah yang sering dia kirimi komoditi ini. Selain itu kain songket juga sering nampak di pasar-pasar malam yang pada waktu itu sedang menjadi trend kehidupan urban masyarakat Indonesia masa itu. Antara lain di pasar malam gambir di Jakarta, pasar malam Andir di Bandung, pasar malam Simpang lima di Semarang, pasar malam Alun-alun di Yogyakarta, dan pasar malam Yand Mart di Surabaya.

Pada tahun 1974 di Bali Room Hotel Indonesia, diadakanlah pameran hasil industri kecil yang diselenggarakan oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). Salah satu barang yang mendapatkan perhatian tentu adalah sebuah kain songket yang berumur dua ratusan tahun lebih, yang berwarna merah hati dengan menggunakan benang Mokuo Bulek Soriang, dan bermotif pucuk rebung. Dari waktu ke waktu nilai jual songket memang seakan tak akan habis dimakan zaman. Bahkan kinipun para desainer juga banyak menggunakan songket sebagai salah satu prodak andalan mereka. Misalnya Zainal Songket atau Dr. Zainal Arifin, yang telah menggelar peragaan busana di Celebities Cafe, Palembang pada bulan April lalu. Acara dengan tema Warna-warni ini nampak begitu berbeda dan menampilkan sosok lain dari kain songket. Kepiawaian Zainal songket telah merubah kekakuan yang biasanya nampak pada kain sonket menjadi sebuah kain yang elegan dan supel.

Acara yang dihadiri tokoh-tokoh penting Palembang itu diawali dengan kemunculan lima pasangan, pria dan wanita yang mengenakan songket yang didominasi warna merah. Lampu berpendar tatkala para peraga berjalan memperlihatkan kain yang dipakai kepada penonton. Musik pembukan berupa lagu pop mandarin. Usai itu, lima pasang lagi keluar, songketnya warna hijau, dengan diiringi lagu dangdut. Para model lalu berjoget. Gerakan berjoget ria tidak membuat para model kesulitan untuk menggerakan anggota tubuh seperti tangan dan kaki.
Cahaya kembali temaram. Terakhir lima pasang keluar dari belakang panggung, menampilkan aneka ragam songket dengan warna-warni. Keseluruhan rancangan Zainal ini memadukan gemerlapnya warna-warni kain songket dengan brokat, satin sutera, dan lace. Dengan peragaan busana ini Zaenal berharap para perajin dapat lebih mengembangkan motif-motif songket yang saat ini masih itu-itu saja.

Selain Zainal, desainer Indonesia lainya yang menggunakan songket sebagai bahan busana kreasinya adalah Merdi Sihombing. Merdi Sihombing mengangkat tema busana Songket melayu Sumatra Utara, ketika ikut serta dalam Festival Busana Nusantara 2007 di Discovery Shoping Mall, Jalan Kartika Plasa, Kuta November lalu. Di Fashion Tendence 2008, Fenny Mustafa seorang desainer anggota Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) mempersembahkan koleksi busanannya yang didominasi oleh bahan-bahan dari kain songket. Pada acara itu Fenny memilih kain songket Minangkabau serta sulam sungkit sebagai pengembangan gaya baju kurung dalam trend busana masa kini. Yang membuat menarik dari koleksi busana karyanya adalah karena Fenny menterjemahkan kembali kain songket minang dalam potongan yang lebih ringan dan siap pakai. Kesederhanaan dan kemewahan diangkat dalam kolaborasi eklektik dengan variasi warna hues, shade, dan tint, antara warna pastel dan warna solid. Nuansa emas yang biasanya mendominasi kain tenun songket diubah menjadi busana dengan aura lebih elegan. Selain itu melalui busana-busana karyanya Fenny lebih menekankan keringanan gaya wanita modern yang mengutamakan pada kenyamanan bahan untuk dikenakan dan juga detail yang menghiasinya. Seperti halnya Zainal Songket, Fenny sepertinya juga menginginkan agar kesan panas dan kaku pada kain songket dapat diminimalisir agar lebih menarik.

Dari sini kita dapat sedikit menyimpulkan bahwa keberhasilan satu produk untuk dihasilkan setidaknya memerlukan tiga hal, semangat, kekreatifan, dan kejelian melihat keinginan pasar. Orang-orang seperti Ande Baensah, Muhammad Yassin, Abidin, Zaenal Songket, Merdi Sihombing, dan Fenny Mustafa adalah orang-orang yang bekerja dengan dua hal itu. Mereka memperkenalkan songket kesana- kemari, dengan merantau, dengan peragaan busana diberbagai tempat, demi satu tujuan yaitu barang dagangan dan karya mereka dapat dikenal dan menarik untuk dibeli masyarakat.

Kekreatifan sangat diperlukan dalam upaya menumbuhkan minat pembeli untuk membeli barang dagangan dan karya yang ditawarkan, melihat bahwa memang sifat dasar manusia adalah pembosan. Jadi hal-hal baru yang menarik dan berkualitas harus diciptakan untuk memenuhi keinginan pasar. Orang tentu tak akan mau membeli barang yang itu-itu saja. Untung saja kain songket memiliki daya tarik tersendiri dan unsur sejarah yang membangin, sehingga meskipun motif dan coraknya agak monoton kain satu ini tetap begitu menarik untuk diminati pembeli. Namun, ini juga harus dijadikan titik pijakan bahwa pada suatu hari nanti bila motif dan bentuk busana songket tetap seperti ini tentu peminatnya akan semakin berkurang. Zaenal Songket dan Fenny Mustafa telah mulai penjajakan kain songket lebih jauh. Mereka orang-orang yang dengan ide-ide segarnya selalu berupaya agar kain songket tetap menjadi komoditi yang menarik, nyaman dipakai, esotis, dan berkualitas. Orang-orang seperti merekalah yang mampu bertahan di dunia pasar yang begitu keras. Orang-orang yang memiliki semangat, kekreatifan, dan mampu melihat keinginan pasar.

Tips Merawat Songket
Kain songket hendaknya sebelum disimpan digulung terlebih dahulu dengan paralon atau karton. Tetapi sebelum digulung lebih baik dilapisi dahulu dengan kertas minyak, kertas roti, atau kertas kopi. Dan jangan sekali-kali menggunakan kertas koran. Kemudian kain songket yang sudah digulung hendaknya dibungkus plastik dan letakkan di lemari dengan posisi berdiri atau miring. Sebaiknya lemari diberi kamper, lada atau cengkeh, agar ngengat dan rayap tidak merusak kain songket. Dan yang terakhir, kain tidak boleh di dry cleaning dan di laundry, atau dipanaskan langsung dari sinar matahari, jadi ketika selesai dicuci, kain songket cukup diangin-anginkan saja.

22 thoughts on “Kain Tenun Songket

  1. Saya binggung neh untuk milih songket.saya minta tolong,kirimin model songket untuk dipake Nikah.kira2 habis berapa duit ya semua untuk bahan dan jahitnya.tlg info ke email saya:ulipangaribuan@yahoo.co.id
    thx-uli

  2. saya mau info2 tentang kain tenun songket nusantara dan kain tenun songket palembang dilihat dari sejarahnya,motif2 lama,dan motif2 baru…dan buku2 tentang kerajinan songket

  3. Makna dan nilai-nilai filosofis dari songket itu pasti ada apalagi dari ragam motifnya, sebab ini sifatnya turun-temurun. Mohon sahabatku dijelaskan lebih dalam ya? saya sangat tertarik dengan hal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s