Kebebasan Humanistik

Penggunaan simbol agama atau atribut yang dianggap suci oleh agama dengan maksud melecehkan atau tidak sengaja menjadikannya sebagai media untuk merendahkan, atau bahkan tanpa maksud jelek sekalipun akan tetap memunculkan polemik di masyarakat. Baru-baru ini, Majalah tempo mendapatkan getahnya. Foto yang dipampang di cover majalah edisi khusus Seoharto edisi 4-10 Februari 2008, membuat beberapa kalangan melakukan protes. Foto itu di nilai melecehkan umat Katholik, meskipun saya yakin tak ada niat buruk Tempo dalam rangka pemasangan foto “saduran” Perjamuan Malam Terakhir itu. Beberapa kalangan yang melakukan protes itu di antaranya, Forum Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katholik RI, Forum Masyarakat Kaholik Indonesia, Solidaritas Masyarakat Katholik RI, Perhimpunan Mahasiswa Katholik, Pemuda Katholik, Tim Pembela Kebebasan Beragama, dan Wanita Katholik RI.

Dari kasus cover majalah Tempo ini saya kembali teringat pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW di surat kabar Anikes Allehanda, Swedia. Bedanya dengan kasus Tempo, pemuatan karikatur Nabi Muhammad ini memunculkan nuansa pelecehan yang begitu nampak ada dalam pernyataan editornya. Dengan dalih kebebasan, editor koran ini, membela pemasangan karikatur tidak senonoh itu.

Kebebasan dimunculkan sebagai luapan keinginan yang ada pada diri setiap individu yang dapat diekspresikan sesuai kehendak. Satu individu dapat dikatakan bebas jika dapat melepaskan setiap keinginan-keinginan melalui kehendaknya. Tak peduli ekspresi keinginan-keinginan itu dapat merugikan, menyakiti, menghina, atau bahkan mengorbankan hak-hak individu lain. Setidaknya definisi kebebasan semacam ini yang dapat saya tangkap ketika membaca editorial yang dipampang satu edisi bersamaan karikatur kartun Nabi Muhammad di surat kabar Anikes Allehanda, Swedia beberapa waktu lalu. “Editor koran Swedia itu menyatakan bahwa negara yang liberal seperti Swedia akan malu bila tidak melindungi kebebasan berekspresi seseorang. Meskipun, kebebasan itu mengorbankan perasaan orang lain.”

Dari definisi itu, ada satu aroma kenaifan yang tercium dalam penerapan kebebasan di negeri-negeri liberal layaknya Swedia. Kenaifan itu muncul ketika perlindungan kebebasan itu ternyata memiliki konseskuensi mencederai kebebasan orang lain. Editor surat kabar Anikes Allehanda mencoba berupaya untuk mengakomodasi semua kebebasan individu yang berbeda dan terkadang dapat saling berbenturan. Perbedaan dan benturan kebebasan itu terlihat dengan munculnya berbagai kencaman terhadap karikatur Nabi Muhammad yang ada di koran tersebut. Padahal untuk menjalankan semua bentuk kebebasan secara penuh itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Mengingat apa arti kebebasan itu sendiri.

Upaya koran itu untuk tetap melindungi kebebasan seseorang dalam mengekspresikan diri tentu bukan hal yang salah juga. Dan menurut hemat penulis bahkan dapat dijadikan contoh dalam bagian kategori tertentu. Bahwa memang kebebasan seseorang harus dapat dilindungi. Namun, sayangnya sang editor koran tersebut seakan lupa bahwa setiap kebebasan juga memiliki batasan. Ada norma-norma dan nilai-nilai yang membatasinya. Meskipun kita tahu bahwa norma dan nilai di suatu tempat tak selalu dapat sama. Tapi mengingat konsep kebebasan, tentunya manusia di seluruh duniapun menyadari bahwa setiap kebebasan itu memiliki konsekuensi untuk dibatasi, dan itu selalu.

Manusia yang lahir di dunia ini tentu tak akan dapat lepas dari norma-norma dan nilai-nilai yang muncul sebagai aturan-aturan dan hukum-hukum di lingkungannya. Bahkan ketika laparpun ia harus makan karena keterbatasan fisiknya, meskipun ia memiliki kebebasan untuk tidak makan misal. Secara kodrati aturan-aturan dan hukum-hukum itu akan mengelingi manusia dalam setiap gerak hidupnya. Tak ada satu manusiapun yang bisa lepas dari yang namanya aturan dan hukum. Dan perlu digaris bawahi bahwa semakin memasuki kehidupan modern, maka aturan dan hukum yang mengikat manusia semakin banyak dan beragam. Tentunya hukum dan aturan ini akan selalu menawan kebebasan manusia dalam kehidupan sosial kemasyarakatannya.

Meraba-raba konsep kebebasan humanistik

Menyadari bahwa memang manusia dengan kebebasannya itu tak mungkin bebas, saya membayangkan tentang adanya satu konsep kebebasan yang humanis. Konsep kebebasan humanistik dapat hadir dalam konsep kebebasan yang sadar betul bahwa kebebasan manusia memang terbatas. Dan karena terbatas itulah manusia menyadari kebebasan orang lain di sekitarnya. Konsep kebebasan seperti ini tentu dapat kita temukan di banyak ideologi maupun agama, tak terkecuali Islam. Ada satu hal yang menarik dalam konsep kebebasan yang diajarkan Islam. Di dalam Islam diajarkan bagaimana seorang muslim itu harus menyikapi dan menggunakan kebebasannya dengan baik sesuai dengan petunjuk-Nya, dengan tidak mencederai kebebasan orang lain.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Al Hujaraat, 11)

Dari ayat ini, kita bisa melihat perbedaan antara konsep kebebasan Islam dan konsep kebebasan liberalisme. Penekanan ajaran kebebasan di dalam Islam terletak pada hubungan antara individu yang satu dengan yang lainya. Setiap kebebasan individu diupayakan untuk tidak saling berbenturan satu sama lain. Konsep kebebasan yang ditawarkan Islam merupakan konsep kebebasan yang diterapkan dengan melihat bahwa setiap individu itu hidup di antara manusai lainnya. Di dalam satu kelompok atau masyarakat yang kebebasan setiap individu itu tentu ada tetapi tidak akan pernah dapat mutlak. ”Aku bebas untuk memperoleh pekerjaan tetapi aku tidak bebas untuk merampas pekerjaan orang lain.”

Di dalam konsep kebebasan yang ditawarkan Islam, ada semacam upaya untuk menyeimbangkan posisi kebebasan individu sebagai individu dan kebebasan individu sebagai anggota masyarakat. Kebebasan individu tetap hadir tanpa menghilangkan hak individu ini dalam menjalani hidup bersama orang-orang sekitarnya. Contoh konkritnya dapat kita lihat ketika Nabi SAW berhasil menakhlukkan Makkah. Dengan kebebasan yang dimiliki beliau, sebagai seorang pemenang tentu bisa saja Nabi menjadikan seluruh musuh-musuhnya menjadi tawanannya. Atau bahkan melenyapkan mereka. Tapi karena prinsip dasar dalam Islam mengajarkan untuk menghormati kebebasan setiap individu, maka Nabi pun tidak melakukan hal itu. Bahkan Nabi mengajak mereka untuk bersama hidup berdampingan.

Selain itu, ada kaidah-kaidah moral yang diajarkan Islam ketika membahas kebebasan. Ada tanggung jawab moral yang harus diemban ketika kebebasan itu hendak dilakukan. Besar kecilnya tanggung jawab itu tergantung seberapa besar implikasi yang ditimbulkan bila kebebasan itu dilaksanakan. Ketika tanggung jawab itu semakin besar, maka semakin ditekan pula kebebasan itu. Seperti masalah karikatur Nabi di koran Anikes Allehanda. Sang karikatur pada dasarnya bebas membuat karikatur yang diinginkannya, seperti apapun bentuknya, terserah kehendaknya selama itu untuk dirinya sendiri. Di tataran lingkup ini tanggung jawab moral itu tentu masih nampak kecil. Tanggung jawab moral itu akan besar bila sang karikatur memperlihatkan atau mempublikasikan karyanya itu pada individu lain atau khalayak umum. Ketika sampai batasan ini, ia mulai harus berhubungan dengan eksistensi kebebasan orang lain yang juga ingin tetap terjaga. Ketika tanggung jawab ini semakin besar, maka pelaksanaan kebebasan ini harus semakin ditekan untuk menjaga harmonitas masyarakat.

Seperti itulah konsep kebebasan yang ditawarkan Islam, adanya kebebasan karena ada kebebasan orang lain yang menyertainya. Kemudian kita lihat kebebasan yang ditawarkan liberalisme itu seperti apa. Perbedaan apa yang membedakan konsep kebebasan yang ditawarkan liberalisme dengan konsep kebebasan ala Islam. Lagi-lagi kita akan kembali pada penekanan dua konsep ini. Jika tadi di dalam Islam penekanannya pada kebebasan orang lain, maka di dalam liberalisme, kebebasan itu ditekankan pada kebebasan individu itu sendiri. Sudut pandang yang jelas berbeda. Liberalisme menjadikan kebebasan individu-individu dengan pola subjek-objek, sedangkan Islam menggunakan pola subjek-subjek. Karena pola yang digunakan subjek-objek, ketika menjadi subjek kebebasan, maka setiap individu dapat menegasikan kebebasan individu yang lainnya sesuai kehendaknya, karena mereka objek kebebasan. Tak ada batasan moral yang menjadi tanggung jawab sang subjek itu. Semua berupaya untuk menegasikan satu sama lain.

Pada akhirnyapun kita dapat menyimpulkan bahwa tak ada kebebasan yang benar-benar bebas dalam artian sesungguhnya. Mengacu pada ini saya melihat bahwa kebebasan manusia dapat dikatakan bebas bila hanya dengan tidak meniadakan kebebasan manusia lainnya. Kebebasan itu akan bebas jika dapat menjaga keharmonisan hubungan antar kebebasan yang saling berinteraksi itu. Kebebasan tak bisa dimaknai dengan melepas keinginan sebebas-bebasnya. Itu bukan kebebasan, tetapi keterasingan manusia karena halusinasi kebebasan yang diciptakannya. Manusia hidup dengan manusia lainnya, jika ingin bebas maka merekapun harus menjaga kebebasan manusia lainnya.

5 thoughts on “Kebebasan Humanistik

  1. wew….suatu buah pemikiran yg bgs tuk kebebasan.

    t’kadang sy juga binun,, knp org mengatasnamakan kebebasan sampai mencederai perasaan org lain..!!! s’mpat berfikir,,,buat ap klo gtu kita perkenalkan konsep kebebasan…bukannya hanya m’munculkan ketidakharmonisan dalam hidup…

    artikel yg bgs…salam kenal..!!

  2. Kenapa kebebasan mesti dibatasi? buat saya kebebasan amat tak berbatas, jikapun terpaksa dibatasi, maka timbangannya hanya akal. Jika akal digunakan, maka moral dls akan ikut akal.
    Kebebasan adalah kebebasan dan ketidakbebasan adalah ketidakbebasan. Tak ada batas disitu….wallahu a’lam

    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s