Arsip untuk Juli, 2008

Kala Negarawan Beretorika, Sedang Filosof Tak Ada

Posted in Editorial on Juli 18, 2008 by bintangtimur

Empat ratus tahun sebelum masehi, dengan selempang jubah khas Yunani berjalan seorang tua di antara kerumunan orang dan para pemuda di tengah kota. Pada mereka satu persatu, orang ini bertanya tentang apa ini dan itu, tentang semua. Apa itu manusia? Apa itu kebenaran? Apa itu kekuasaan? Apa itu golongan? Apa itu kepentingan? Segala pertanyaan dasar tentang segala sesuatu. Dan coba dikembalikan pada kemendasaran pertanyaan-pertanyaan itu mencari pemahaman yang sebenarnya atas jawaban-jawaban yang terlontar dari mulut orang-orang itu.

Orang tua ini terus bertanya dan terus mengejar jawab dari mereka yang ditanyanya. Apa itu manusia? “Manusia adalah makhluk yang berfikir” Jawab satu di antara mereka.

“Apa makhluk yang berfikir itu?” Tanyanya lagi.

“Makhluk yang menggunakan akalnya dalam menggali keingintahuannya” Baca selebihnya »

Menjadi Penipu Yuk!!

Posted in Refleksi on Juli 17, 2008 by bintangtimur

Menjadi cerita sejarah mungkin jika ada orang Indonesia yang menjadikan diri mereka baik. Trendnya bukan demikian. Indonesia penuh dengan orang jahat dengan kecenderungan semakin jahat. Kalaupun ada orang baik, baik dalam artian sebenarnya bukan sekedar pengakuan, mungkin hanya tinggal dua tipe saja. Pertama, mereka yang mengasingkan diri, menjauh dari hiruk pikuk kegelapan Indonesaia. Kedua, mereka orang baik yang selalu jadi sasaran kejahatan orang-orang kelam Indonesia.

Kecenderungan bangsa ini memang tidaklah mau menjadi bangsa yang baik. Melanggar aturan, memainkan hukum, menipu orang, dan yang terparah beretorika di sana-sini untuk menyelamatkan diri dari aib yang disimpannya karena telah mencurangi negara misal, atau juga untuk membohongi orang-orang baik itu. Begitulah alam sosial Indonesia. Menjadi hutan belantara dengan hukum rimba yang menghalalkan segala cara demi sebuah cita dan keinginan yang hendak dicipta. Baca selebihnya »

Mungkin Kita Salah Menafsirkan

Posted in Islam on Juli 5, 2008 by bintangtimur

Mungkin kita, umat Islam, salah melakukan penafsiran pada firman-firman Tuhan dalam al-Qur’an, sehingga salah memahami petunjuk yang diajarkan Islam. Tidak benar bahwa Islam yang kita pahami dan kita ikuti mengajarkan berbagai paham tentang perbedaan, multikulturalisme, pluralisme, inklusivisme, atau tentang pengakuan adanya kemutlakan kebenaran lain di luar ajaran Islam. Semua itu hanyalah bid’ah-bid’ah yang tak diperlukan Islam dan manusia dalam membangun kehidupan. Atau kalau perlu kita dapat menyebut ajaran-ajaran itu sebagai ajaran setan yang disuarakan melalui mulut-mulut orang kafir dan orang-orang yang telah dibeli oleh jutaan dolar Amerika oleh Barat. Sebuah kekeliruan besar, seperti yang telah dilakukan orang-orang di antara umat Islam sendiri, ketika menggunakan beberapa ayat Surat al-Kafirun misal, untuk menyatakan bahwa kita harus mengakui ada kebenaran di agama lain. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku tidaklah tepat ditafsirkan demikian. Baca selebihnya »