kudengar kau memanggilku kembali
sudah begitu lama sepertinya
kudengar kau kembali memanggilku
tlah lama
saat kudengar panggilanmu
ku hanya menoleh
dan aku hanya menoleh saja meski esok saat berulang kau memanggilku untuk datang padamu
aku
kapan aku mengerti?
ada pertanyaan itu berulang kali
aku tahu aku tak menghiraukanmu
aku
terlalu aku, ini aku
mengabaikan kau, aku
lantas?
iya, aku melayang-layang
kau mungkin, ah pasti melihatku ke sana kemari sesukaku
iya, sesukaku bersama angin
tapi jangan salahkan angin, ia hanya kawan pelipur duka laraku
ia teman yang kupaksa menemaniku berhembus bersamanya, kadang bersama awan dan terik matahari
aku kepayahan bila sering bersama matahari
maka aku berkawanlan dengan awan
ia kawan yang baik aku kira
aku senang jika ia mau menumpahkan dingin sejuk airnya
saat itu datang, hah, matahari kubilangi dia agar semakin menerikkan sinarnya
dan aku semakin senang saat awan bilang matahari, “terikkmu tak cukup melemparkanku dari pipimu. cobalah minta bantuan angin biar aku dihempaskannya menjauh darimu.!”
aku dan angin terpingkal, kemudian berlalu sesaat meninggalkan mereka di senja tiba
kembali kudengar kau memanggilmu
aku pura tak tau, tak mendengarmu, kubiarkan suaramu menggema diantara bulan sabit dan bintang kejora di timur cakrawala
aku kembali bersama angin, ia kawan karibku
menjadi kawan baikku, seperti kumengenali diriku ada pada dirinya
akulah angin, dan dialah angin aku
angin
aku dan dia adalah kebebasan
keinginan yang terbang bebas dari penjuru langit manapun kami ingin berada
tapi sekali lagi jangan salahkan angin
ia hanya teman karib yang menemani perjalanan panjangku
akulah
aku yang memang tak mau mendengarmu
dan hari ini biarlah aku menangis
kembali mendengarmu
kembali kepadamu
dan kutinggalkan angin sendiri
atau bolehkah aku mengajaknya menemuimu saat kau memanggilku
4 rajab 1432 h
Filed under: Sajak | Leave a Comment
Tag:Aku, angin, dia, memanggilku, tuhan

No Responses Yet to “kudengar kau memanggilku kembali”