Islam rahmatal lil alamin masih saja menjadi slogan. Didengungkan macam kata indah kampanye para politikus yang ingin memenangkan pemilu. Tiga buah kata yang ternyata begitu berat untuk diwujudkan, atau malah untuk dinampakkan saja demikian adanya, begitu susah. Tiap hari kita mendengar kata-kata ini diucapkan di tempat-tempat umat Islam biasa berkumpul. Bisa saja di masjid-masjid atau sebuah seminar mewah di sebuah hotel yang kebetulan membahas tema-tema keislaman. Dan sampai sekarang belum nampak bukti konkrit hal ini terwujudkan atau diupayakan untuk diwujudkan. Sekedar slogan atau kata-kata penghias bibir. Harus diakui bahwa kondisi umat Islam pada saat ini ada pada satu kondisi terbelakang, tidak maju-maju. Dan bagaimana bisa sebuah umat yang terbelakang dapat menjadi sebuah “komunitas” yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. Diri sendiri saja belum menjadi umat yang dirahmati. Jika hal ini dilihat dalam konteks Baca selebihnya »
Arsip untuk Islam kategori
Mungkin Kita Salah Menafsirkan
Posted in Islam on Juli 5, 2008 by bintangtimurMungkin kita, umat Islam, salah melakukan penafsiran pada firman-firman Tuhan dalam al-Qur’an, sehingga salah memahami petunjuk yang diajarkan Islam. Tidak benar bahwa Islam yang kita pahami dan kita ikuti mengajarkan berbagai paham tentang perbedaan, multikulturalisme, pluralisme, inklusivisme, atau tentang pengakuan adanya kemutlakan kebenaran lain di luar ajaran Islam. Semua itu hanyalah bid’ah-bid’ah yang tak diperlukan Islam dan manusia dalam membangun kehidupan. Atau kalau perlu kita dapat menyebut ajaran-ajaran itu sebagai ajaran setan yang disuarakan melalui mulut-mulut orang kafir dan orang-orang yang telah dibeli oleh jutaan dolar Amerika oleh Barat. Sebuah kekeliruan besar, seperti yang telah dilakukan orang-orang di antara umat Islam sendiri, ketika menggunakan beberapa ayat Surat al-Kafirun misal, untuk menyatakan bahwa kita harus mengakui ada kebenaran di agama lain. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku tidaklah tepat ditafsirkan demikian. Baca selebihnya »
Mohon Maaf Ahmadiyah
Posted in Editorial, Islam on April 29, 2008 by bintangtimurMohon maaf Ahmadiyah. Kami memasukkan keyakinan dan keberadaan anda sebagai persoalan besar yang mengancam negeri ini. Daripada kemiskinan, kelaparan, kenaikan harga bahan pokok serta biaya pendidikan yang makin mahal, kami lebih memilih anda sebagai sasaran pekerjaan. Keseriusan kami semata-mata karena ini menyangkut keyakinan, sesuatu yang sangat prinsipil bagi setiap umat manusia.
Bertahun-tahun kami dikondisikan untuk selalu curiga terhadap lain keyakinan. Ibarat musuh dalam selimut, ia lebih berbahaya karena bisa menyerang siapa saja dan kapan saja. Kami tidak terbiasa untuk terbuka dan mempelajari dengan serius sistem keyakinan lain tanpa harus takut terpengaruh karenanya. Sebagai mayoritas, justru yang kami lakukan adalah membuat anda merasa tidak aman, nyaman dan bebas menjalankan kegiatan sehari-hari. Baca selebihnya »
Benarkah “Liberalisasi” Islam Membahayakan
Posted in Islam dengan kaitan (tags) ahistoris, Liberalisasi, Liberalisme, Nasr Hamid Abu Zayd, Ulil Abshor Abdala on Februari 5, 2008 by bintangtimurMembaca tulisan Rifqi Fauzi tentang “Bahaya Gerakan Liberalisme Islam” (Republika, 14-12-07), menimbulkan sedikit ganjalan di dalam benak saya. Dalam tulisan itu setidaknya Rifqi menyimpulkan dengan kemungkinan bahwa gelombang ateisme dan deisme akan muncul jika gerakan Islam Liberal terus berkembang. Saya tidak akan membantah jika memang ada kemungkinan seperti itu yang akan muncul pada suatu hari. Baca selebihnya »
Mau Kau Kemanakan NU?
Posted in Editorial, Islam dengan kaitan (tags) Gus Dur, Harlah NU ke 82, Hedonis, Miskin, NU, Pembesar NU, Warga NU on Februari 1, 2008 by bintangtimurPeringatan Harlah NU yang akan dilaksanakan Minggu besok sepertinya tidak akan dihadiri salah satu tokoh besarnya. Abdurrahman Wahid yang sering disapa Gus Dur enggan menghadiri acara yang nampak akan meriah itu. Alasan yang dikemukan, mengenai rencana ketidakhadirannya itu bukan lantaran karena fisik beliau yang lemah. Ini berhubungan dengan sikap beliau yang sepertinya tidak “merestui” pembesar-pembesar NU dalam peringatan Harlah itu.
Bukan Gus Dur namanya kalau tidak mengeluarkan percik-percik api dalam setiap statemennya. Gus Dur menilai bahwa NU kini dipenuhi oleh orang-orang yang tidak lagi memiliki niat baik membangun NU dan bangsa. Mereka kebanyakan lebih mementingkan diri sendiri, dari pada kepentingan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Mereka bukan orang-orang bersih yang patut dihargai, menjadikan NU masuk ke dalam labirin ketidakjelasan orientasi. Selain itu acara itu dilihat Gus Dur terlalu dibesar-besarkan, apalagi melihat kondisi negeri yang seperti in. Sebuah ceremony yang nampak tidak memberikan manfaat akan segera digelar.
Jika diamati, apa yang disampaikan Gus Dur memang benar adanya. NU diusianya yang ke 82 ini, nampak terombang ambing gelombang pasang dan tidak jelas arah tujuannya. Tekanan dari luar dan ulah orang-orang di dalam membuatnya nampak oleng. Kedua hal yang saling terkait erat. Saya kira situasi ini juga disadari oleh pembesar-pembesar NU. Mereka saja yang sepertinya merasa tidak tahu atau juga mungkin kondisi ini memang sedang menguntungkan mereka sehingga tetap dipertahankan. Dari luar kini NU dihadapkan pada kenyataan bahwa semakin banyak saja organisasi atau kelompok Islam yang lebih mampu memberi jaminan pada jamaahnya. Jaminan keselamatan, ketegasan bersikap, dan tentunya perhatian penuh yang tidak didapatkan dari organisasi yang berpusat di sebuah gedung di Salemba ini. NU gagal mempertahankan umatnya untuk berbondong-bondong pindah ke jaringan kelompok atau organisasi lain. Hal ini disebabkan adanya kurang perhatian pengurus yang ada di PBNU terhadap jamaah yang sebenarnya merupakan pilar utama organisasi ini. Lagi-lagi seperti yang dikatakan Gus Dur, mereka lebih peduli pada diri mereka dari pada umat dan bangsa ini.
Kemudian dengan perayaan Harlah yang nampak dibesar-besarkan yang akan diselenggarakan di Senayan di tengah-tengah penderitaan rakyat, bukankah ini sebuah ironi. Dengan berbagai kegiatan, seperti seminar, pengajian, dan di hari puncak ditutup dengan Harlah di Senayan, tentu biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Bukankah dana yang sebesar itu akan lebih baik bila digunakan untuk memberdayakan warga NU, yang kebanyakan orang miskin. Ingat NU memang memiliki basis umat terbesar di Indonesia, namun NU juga menyumbang daftar orang-orang miskin terbesar juga dari kalangan umat Islam. Nampak wajar memang, dengan jumlah jamaah yang begitu besar tentu kemungkinan adanya orang-orang miskin di sini juga besar. Namun lag-lagi kita dibuat lupa, bahwa banyaknya jamaah yang ada di NU juga berpengaruh pada pemasukan keuangan NU. Bukankah organisasi, kelompok, pengusaha, atau badan-badan yang mensposori kegiatan NU juga akan melihat ini sebagai sebuah hal yang menguntungkan. Jumlah massa ternyata berkorelasi dengan pangsa pasar yang ada, bukankah demikian hukum ekonomi berkata. Lalu ke mana dana dari sponsor-sponsor itu? Hanya Allah dan merekalah yang tahu. Yang jelas warga NU jarang menerima hal itu, kalaupun dapat pastilah tinggal sisa yang paling sedikit dari kemungkina yang ada. Selain untuk memberdayakan warganya, bisa saja dana itu diarahkan ke Sidoarjo, disumbangkan kepada para korban di sana. Ingatkah kalian pada mereka yang kebanyakan makan-makanan yang kabarnya jarang di masak dengan baik itu, itupun tak selalu mereka dapatkan. Saya jadi teringat ketika menonton sebuh reportase yang meliput kehidupan para korban Lapindo. Teringat pada seorang nenek penjual pecel, yang kini telah menganggur lama, tinggal bersama beberapa cucunya. Sehari-hari untuk bertahan hidup nenek ini benar-benar mengandalkan bantuan makanan yang disalurkan pihak Lapindo tiap harinya. Namun sayangnya nasi dan lauk yang mereka berikan, jarang sekali masak dan layak untuk dimakan. Di jemurnya nasi itu untuk dijadikan aking. Aking yang terkumpul sebagian beliau jual dan sebagian lagi dimasak kembali. Dengan pola seperti itu mereka mempertahahankan hidup. Mungkin nenek itu juga warga NU, yang seharusnya mendapat perhatian dari para pengurus NU.
Namun para pemimpin NU lebih memilih cara lain, bukan cara untuk membantu mereka yang membutuhkan, tetapi cara bagaimana dana itu dialokasikan. Mereka lebih memilih menggunakan dana ratusan juta rupiah atau mungkin milyaran itu hanya untuk “berpesta-pesta” seperti yang akan dilangsungkan hari Minggu ini. Orang-orang NU kini semakin Hedonis, menjadi satu catatan penting di peringatan hari kelahirannya yang ke 82 ini. Kita semakin suka berfoya-foya ternyata.
Setelah melihat ini, satu pertanyaan muncul, memenuhi sudut pikiran saya. Sebenarnya ada apa dengan sikap kukuh para pembesar NU untuk tetap menyelengarakan Harlah ini secara besar-besaran? Namun pertanyaan ini tidak berlama-lama untuk ada dalam pikiran saya, karena memang jawabannya mudah ditebak. Karena mudah ditebak, silahkan mencari jawaban atas pertanyaan ini. Kata kuncinya unjuk kekuatan!
Kapan ini berubah…..? Semoga segera.
Kami Ingin Masjid Kami Berdiri Megah, Semegah Semangat Kami
Posted in Editorial, Islam on Januari 30, 2008 by bintangtimurPerjalanan ke Jakarta seminggu yang lalu dari rumah, di Jateng membekaskan satu pengalaman yang cukup mengharukan dan juga memprihatinkan. Masih terbayang wajah teman-temanku di sana, di tepi jalan dengan kantong yang terbuat dari kelambu mengarahkan ke kendaraan-kendaraan yang lewat, meminta sumbangan sekedarnya. Koin demi koin terkumpul dengan beberapa lembaran uang seribuan, mereka senang melakukan itu. “Agar masjid di desa kita yang dipugar cepat selesai” Kata mereka. Ya..memang masjid kami masih dalam tahap penyelesaian. Atapnya saja belum tersentuh genteng dan kayu penopangnya. Terharu rasanya teman-teman dengan sukarela menyumbangkan tenaganya. Namun sayang saya tak dapat berbuat banyak untuk masjid tercinta kami itu. Aku hanya dapat membantu doa saja, semoga tahun depan masjid itu sudah berdiri megah. Ya…megah..semegah semangat warga desa kami yang bahu membahu membangunnya.
Dari Lebak bulus perjalananku hari itu berlanjut ke arah Mampang, naik Kopaja 20. Pengamen silih berganti memasuki dan mengisi keramaian bus dengan suara-suara musik yang mereka lantunkan. Di Buncit, di depan Kramayuda, bis melaju lambat, seperti jalanan Jakarta pada umumnya, di sinipun aku terjebak macet. Suasana tidak menyenangkan memenuhi diriku, panas dan terasa lama. Para pengamen nampak mengantri di tepi jalan, namun kali ini, seorang pengumpul dana pembangunan masjid yang singgah di bis yang aku tumpangi. Masjid Ar-Rahman, desa Sukmajaya, ya..itu nama masjid yang akan dibangun dengan dana sumbangan itu. Aku lihat tulisan ini dilembaran kertas yang dibagikan oleh seorang bapak dengan pakaian gamis, santun dia berucap. Shalawat dan salam pada Nabi dan doa ia lantunkan, mengharapTuhan membuka hati para penumpang bis untuk menyisihkan sebagian kecil harta mereka.
Sampai di kos, kabar tidak mengenakkan terlihat di koran yang aku baca. Beberapa masjid dirusak sekelompok orang. Gara-garanya, masjid itu milik salah satu firqah Islam yang dinyatakan sesat. Masjid-masjid itu lumayan rusak parah. Sayapun jadi heran..ada orang Islam merusak tempat ibadah mereka…? (Ini asumsi saya). Bisa saja mereka yang melakukan itu dengan sukarela ingin merubuhkan “rumah” Allah, atau juga karena terprovokasi. Tapi yang jelas tempat ibadah itu telah rusak…dan mungkin nantinya tak ada yang mau menggunakannnya lagi karena takut ada penyerangan yang bisa saja datang tiba-tiba. Sangat disayangkan memang. Masjid yang sudah berdiri kokoh itu harus dilibas begitu saja.
Rasa iri terkadang muncul di perasaan saya ketika melihat kelompok minor yang masjidnya di rusak itu dapat membangun masjid tanpa harus meminta sumbangan di pinggir jalan atau di bis-bis. Sedangkan kami…? Harus menunggu bertahun-tahun, karena dana yang terbatas, untuk melihat masjid yang kami bangun berdiri megah. Dan semoga setelah masjid kami itu berdiri megah, tidak ada orang yang membabi buta menyerangnya. Kami susah payah membangunnya bung, dan akan kami bela tempat itu mati-matian!
Kapan “rumah-rumah” Allah di negeri ini berdiri dengan tenang? Semoga segera.
Jauhkan Ar-Rahman Ar-Rahim Tuhan dari Islam
Posted in Islam on Januari 21, 2008 by bintangtimurKetika membahas sifat-sifat Allah yang ada dalam al-Qur’an, akan kita temukan bahwa Allah memiliki dua bangunan besar sifat. Jalaliyah dan Jamaliyah. Jalalaliyah representasi maskulinitasTuhan dan Jamaliyah representasi Feminitas Allah. Dan ternyata al-Qur’an lebih banyak menyebutkan sifat-sifat Allah yang ke dua, sifat maha feminin-Nya.
Kalau mau diungkap lebih jauh, meski inipun bukan hasil buah pikir saya, dominasi sifat-sifat jamaliyah itu ada bukan hanya sekedar ada untuk ditunjukkan pada manusia. Kenapa Al-Qur’an cenderung mengajarkan sifat-sifat keperempuanan dari pada sifat keperkasaan kelelakian? Dan itu karena Tuhan ingin menunjukkan bahwa ke-Maha Pengasih dan Maha penyanyangnya Tuhan itu lebih besar di banding dengan kemurkaan-Nya. Begitulah Tuhan ingin berpesan pada manusia.
Sayangnya ini tidak ditangkap baik oleh daya intelek manusia yang serba terbatas. Manusia lebih cenderung terbawa sifat kemanusiaannya dari pada mengikuti petunjuk Sang Kasih. Rasa ingin dihargai, dihormati, berkuasa, dan merasa paling benar sendiri menutupi cahaya cinta yang dipancarkan Tuhan. Luar biasanya manusia….! Tuhan yang Maha cantik diabaikan demi Tuhan yang Maha Perkasa….
” Standar manusia…” Teman saya bilang……