Arsip untuk Puisi kategori

Kurusethra

Posted in Puisi dengan kaitan (tags) , , , , , on Oktober 26, 2009 by bintangtimur

Terjadi
Berulang
Sejarah manusia
Maupun cerita tentang para dewa di kahyangan

Manusia
Baik buruk
Bicara keadilan atau kebenaran
Antara hak dan ketamakan

Manusia
Darah mengalir
Di padang perang antar pasukan
Masih tentang keadilan juga kebenaran
Beradu kekuatan
Meski waktu merubah zaman
Satu hal itu tak pernah berubah

Manusia
Siapa yang paling benar?
Yang menang?
Yang berkalang tanah?
Mungkin para dewa yang benar?
Ah Tuhan sajalah yang benar

Manusia
Di padang Kurusetra
Tak mau berhenti
Entah berapa ribu juta lagi dikorbankan nyawa

Cililitan Kecil, 25Oktober11:30, 2009
Saat hanya kata2 saja yang bisa aku dayagunakan
Saat merindukan kaki tangan untuk aku gunakan
Saat aku lelah dengan kata2 bualan yang tak jelas maksud dan tujuan
Saat aku ingin terbakar, hilang, segera terlahir kembali menjadi aku yang baru yang lebih bermakna
Mungkin kata2ku ini sekali lagi adalah bualan yang tak bermaksud tak bertujuan
Mungkin memang begitu aku musti harus berperan

Extraordinary

Posted in Puisi on Februari 28, 2009 by bintangtimur

Pada penantian
Pengenalan tentang sabab musabab
Aku tentang aku
Berjalan bersama waktu

Pada waktu
Pengenalan pada bijak dan keingintahuan
Aku tentang aku
Berjalan bersama keheningan

Pada ruang
Merajut keberadaan
Aku tentang aku
Menyatu dengan bintang, bulan, segala penampakan

Duduk diam
Mengembara
Kaki tangan terpotong bilah ruang dihimpit waktu
Tentang ketakterbatasan

Hilang aku
Kembali aku
Tak terkenali lagi
Dan diam dalam kemahaluasan

Cililitan, Jum’at, 28 Februari 2009
Saat gemuruh suara di langit menggema
Sayup suara alam
Duduk diam
Merajut simponi keindahan
Mengenali gerbang kesakralanku

Biarkan Sajak INi mengalir Tentangmu

Posted in Puisi on September 22, 2008 by bintangtimur

Tentangmu
Kemarin dahulu
Sekarang bersamaku
Atau di masa depan nanti
Tetap tentangmu

Hanya tentangmu
Dalam diriku
Mungkinpun ada yang lain
Biar itu mewarnai dan hilang pergi
Engkau selalu ada dalam diriku

Masih tentangmu
Yang entah kapan dahulu waktu itu
Mulai aku kenali melalui mataku
Meresap ke akalku, menghangati jiwaku
Sebuah perkenalan tak terduga aku kira

Kini, dan mungkin tetap nanti
Kau menghuni tiap sudut duniaku
Bahkan pijar bintangpun adalah matamu
Dan teduh rembulan adalah senyummu

Akan selalu tetangmu
Aku di sini
Kau dalam diriku
Aku bersamamu

Cililitan 21 September 2008
Sehabis mandi
Duduk tenang
Mengingatmu
Sebelum bertafakur dan bertanya tentang engkau pada Dzat yang Maha Tahu segala sesuatu.
Kau selalu menjadi Arwenku

Tuhan Kami Bersumpah

Posted in Puisi on Agustus 26, 2008 by bintangtimur

Demi masa

Tuhan kami Engkau berjanji

Kami benar merugi

Benar tentang waktu pada kami manusia

Tuhan….

Maha Pemurah jua Pengasih dan Penyayang

Ampunilah kami

Pelupa, tak mampu menepati sering berjanji

Jangan Kau Risau Melihatku

Posted in Puisi on April 22, 2008 by bintangtimur

Jangan kembali kau risau kala melihatku

Menatapku tajam …menjamahku dengan berjuta kekhawatiran

Aku bukanlah aku yang selalu tetap dengan diriku

Tanyalah pada waktu tentang aku sayang

Ribuan perbedaan telah aku ciptakan

Jangan teteskan airmata pula untukku

Sedikit menebar aroma kepedihan coba kau tunjukkan padaku

Sunyi dan gelap….terasa ruang batinmu

Merisaukan…benar merisaukan aku

Tenangkan jiwamu cinta

Teduhkan…….

Biarlah awan putih di langit meneduhkan

Teteskan air suci kehidupan

Menyemai benih-benih keindahan, tumbuh bersama akar-akar rumput yang sempat layu

Tumbuhkan kesejukan yang terkoyak musim lalu

Aku tetap di sini

Aku belum jua akan pergi

Bernyanyilah tentang nyanyian-nyanyian itu

Bukakankah kau telah tahu lagu-lagu bidadari Arwen yang aku kenalkan padamu

Bernyanyilah tentang keindahan bersamaku senja ini

Pagi yang kita lalui….menebar aroma surgawi dipenuhi bidadari penebar wewangi

Waktu aku dan kamu menunggu tanpa kita sadar kita telah lalui itu

Kau masih pula menangis melihatku…

Bahagialah cinta….bahagialah….

Jangan kau tenggelamkan wajah ayumu dalam lumpur kepedihan itu

Ijinkanlah dirimu menari bahagia bersamaku…

Menarilah bahagia….menarilah bahagia…

Aku ada selalu untukmu…

Aku Cukup Mengenal Mereka

Posted in Puisi on April 15, 2008 by bintangtimur

Ku Tanya tentang engkau pada air yang tak pernah mau meluangkan waktu untuk diam sejenakpun

Kutanya padanya yang tiada tenang menahan kerinduan pada muara tentang engkau

Dia hanya tersenyum padaku tanpa berkata

Hanya sebuah tanda padaku yang diberikannya satu jejakmu aku kira

Dan hanya sedikit tentangmu yang aku terima

Tak jua muncul satu gambaran tentangmu padaku

Masih meninggalkan tanya padaku siapa engkau

Masih dan masih meninggalkan tanya

Ku Tanya masih tentangmu pada angin

Wajah garangnya menatapku sejenak kemudian berpaling kembali dariku

Tubuh halus kerasnya serasa menampar wajahku aku kira

Angin diam seribu bahasa tak mau berkata

Angin meninggalkanku tiadapun ia berlalu menyapaku yang bertanya tentangmu padanya

Aku biarkan angin

Pada api yang berkobar menyambar hendak membakar pun aku bertanya tentangmu padanya

Tak suatupun aku dapatkan darinya, apalagi tentangmu

Darinya hanya nampak gambaran ketakutan yang aku dapatkan

Ketakutan yang membuatnya tak pernah diam tenang di perapian yang mengahangatkan manusia kala musim dingin datang menghujam membekukan hati dan jiwa

Jua tak lupa pada tanah nampak basah, hujan habis mengguyurnya, aku bertanya, pula padanya tentangmu

Kembali sebuah tanda yang aku terima

Sedikit jelas membekas aroma yang nampak telah engkau tinggalkan padanya

Namun tanah enggan bercerita padaku tentangmu

Memilih diam tak mau berbagi tentangmu yang membekas pada dirinya

Aku payah dan putus asa

Jawaban tentangmu seperti tak mau tiba

Sebelum aku kembali bertanya

Ternyata aku telah lama mengenalmu begitu dekat tanpa kusadar merasa

Engkau begitu aku kenal

Engkau begitu nyata

Dari merekalah aku tahu siapa engkau

Engkau yang setiap saat aku tanyakan pada mereka

Bukan melalui kata atau tanda tentangmu mereka menjawab tanyaku

Cukup melalui mereka aku mengenal engkau

Kota Bambu, 14 April 2008

Lautan Biar Kau Ku Selami

Posted in Puisi dengan kaitan (tags) , , on April 8, 2008 by bintangtimur

Lautan…keabadian yang kunanti
Lautan membuatku pergi dan menenggelamkan diri
Jejakmu ku pandang di antara lumut dan bebatuan dalam air yang kuselami
Menakjubkan aku pada merah cahaya yang terpantul dari bias dirimu
Nampak kau sebagai kesempurnaan yang menyelimutiku
Jejakmu dan semerbak aroma kebebasan yang ada padamu aku merasanya
Mencium harummu dari kejauhan dan kedangkalanku
Aku semakin merindumu…..
Tak kunjung sampai….terasa lama waktu berputar
Entah sekian detik aku melewatinya…
Begitu lama…
Aku begitu merindumu
Aku berjumpa denganmu
Melepas semua tekanan ruh dan jiwaku, slalu memanggilmu…..
Sambutlah daku melampaui kesempurnaanmu
Biarlah aku tenggelam….terus tenggelam menyelam
Kemahaluasan
Kemahaindahan
Kemahacintaan
Keabadian…..
Padamu merasukiku dalam bening airmu
Aku semakin ingin tenggelam dalammu…menikmati kepuasan dahaku pada dirimu
Semakin tenggelam dan tenggelam
Aku ingin kau biarkan
Aku ingin terus merasakan
Dahaga biarlah hilang
Tenggelam hilang bersamaku dalam dalam air mahamu
Aku semakin rindu padamu…
Semakin aku ingin tenggelam dalam dirimu
Menanti itu segera terjadi
Angin..angin bantulah daku
Air……air oh air segera bawalah aku
Gelombang sambutlah aku
Biarlah aku sampai pada aku yang aku rindu
Kemahaluasan lautan yang menyelimutiku

Rinduku Pulang

Posted in Puisi on Maret 15, 2008 by bintangtimur

Akupun adalah batu besar di sungai dangkal

Diam ada bersama air yang terus saja berubah

Mendengar ini itu dari nyanyian Pingai, selalu saja bercerita tentang alam dan kejahatan

Aku batu besar di sungai dangkal

Berbicara tentang keresahan bersama ikan-ikan yang tak mau diam

Sesekali bercengkrama dengan katak hijau bersuara parau, duduk di pangkuanku

Adaku terkadang serasa membosankan aku bilang, takjub akan pergerakan katak dan ikan-ikan

Mereka alpa ketikaku bicara tentang ketidakadilan dan kegelisahan akan keberadaanku

Cemburu pada bayu yang terus saja memburu laku

Aku..aku…..dan aku….akupun semakin tak tau  

Aku batu besar yang selalu diterjang derasnya arus air sungai yang tak dalam

Ada diam menikmati waktu

Menunggu

Menanti waktu menggilasku

Menunggu waktu menghancurkanku

Menanti….menanti….tidak mudah..tiada menyenangkanku

Menunggu air melumatkanku, meleburku, meluluhkanku dalam alir air menuju kesempurnaan buru

Aku batu besar yang akan menjadi butir-butir pasir dan kapur semu

Mengalir dalam haribaan sang Air

Butir-butir pasir…bergulir

Terus ada menyatu bersama air

Menunggu…menunggu larut dalam bahari keabadian

Rinduku padamu menyayat…terus saja membuat luka…menawan jiwa

Sejuk baharimu selalu memanggil…..mengobati penat hati…membasahi kekeringanku

Aku batu besar yang segera ingin larut

Mengingat kembali mengarungi waktu bersama bahtera Nuh

Mengingat kembali keazalian yang kunanti

Tenggelam dan segera menghilang

Aku rindu ruang kebebasan…bersamamuAku rindu…aku rindu

Kembali pulang

Menangis jiwaku selalu….tak tau kapan akan bertahan

Tak tau kapan ini berlalu

Aku semakin rindu pada bahari indahmu