Arsip untuk Refleksi kategori

Siapa Bilang Kita Belum Merdeka

Posted in Refleksi on Agustus 17, 2009 by bintangtimur

Hanya orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT-lah yang bilang bahwa bangsa ini, negeri ini, belum merdeka. Bagaimana kita tidak merdeka? Di negeri inilah berjuta kemudahan dan kebebasan begitu gampangnya di dapat. Coba sekarang sebutkan negara mana yang begitu bebas di dunia ini selain di Indonesia? Amerika? Inggris? Belanda? Atau bahkan Malaysia atauThailand?
Negara-negara itu aku pikir masih begitu kalah dibanding Indonesia. Amerika? Tak ada apa-apanya jika kita bicara soal kemerdekaan warga negaranya. Di hadapan Indonesia mereka musti harus banyak belajar hal. Malaysia? Ah..masih kita saksikan bagaimana susahnya orang-orang di sana atau pemerintahannya menghargai orang. Tak akan susah kita temukan diferensiasi kelas di sana berdasarkan etnis yang ada di sana, di mana etnis melayu begitu menonjol ruang gerakannya. Belum lama kita ingat kasus demo warga India di sana, menuntut hak-hak yang seharusnya mereka peroleh sebagai warga negara. Belum lagi kita bicara soal nasib TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja di sana. Belum ada kemerdekaan di sana. Di Thailand, isu diskriminasi kelas berdasarkan agama jelas menjadi isu menarik yang dapat kita sebut sebagai tanda ketidakmerdekaan warga negara di sana. Hak-hak warga negara Islam dan Buddha jelas berbeda.
Lagi-lagi hanya orang yang kurang pandai bersyukur yang bilang bahwa negara Indonesia ini belum merdeka. Kita tahu bahwa di belahan bumi lain, masih banyak saudara kita sebagai umat manusia yang masih di selimuti kondisi perang, yang mungkin seperti tak pernah ada habisnya. Awal 2009 kita begitu diguncang dengan agresi militer Israel ke Gaza. Belum lagi kerusuhan di Afghanistan, buntut dari perang yang entah kapan dimulai. Di Irak, di Somalia, dan masih banyak lagi yang lainnya. Melihat nyawa manusia-manusia di tempat-tempat itu begitu tak ada artinya, kita di negeri yang telah damai ini masih saja enggan mau bersyukur.
Tulisan ini bukan hendak mengabaikan bahwa di negeri ini masih di selimuti persoalan-persolan, dari korupsi yang merajalela sampai persoalan kemiskinan yang tak ada habisnya. Tetapi melihat hal ini terlalu dalam dan menghujat sana-sini, bilang bahwa negeri ini begitu bobroknya, belum merdeka, adalah sikap tidak mau mensyukuri nikmat dan anugerah itu. Saya khawatir dari sikap semacam ini apatisme dan pesimisme akan melanda negeri ini, hingga lupa bahwa kemerdekaan fisik dengan segala kekurangannya ini perlu diisi dengan segala macam tindakan perbaikan.
Begitupun dengan segala macam heroikisme yang kini masih saja menjadi acara resmi di negeri ini kala merayakan ulang tahunnya. Berteriak-teriak macam orang gila, atau melakukan upacara yang dianggap sedemikian sakralnya tetapi minim penghayatan. Hal ini begitu nampak berlebihan. Belum lagi kalo melihat para pejabat yang perutnya buncit-buncit itu dengan bangganya mengangkat tangan berpawai ria mengitari kota. Merayakan kemerdekaan Indonesia, lupa dengan keprihatinan yang seharusnya menjadi perhatian kita semua.
Semoga dengan adanya nilai penghargaan sebagai bentuk dari rasa syukur kita pada nikmat dan karunia Allah SWT dan adanya nilai keprihatinan yang melandasi di sisi yang lain, kita dapat dengan optimis membangun negeri ini. Dan rasa optimis saja tidak cukup untuk merubah negeri ini tanpa tindakan dan kerja nyata dari kita semua yang menyebut diri manusia-manusia Indonesia.

Momen Tepat Berkampanye

Posted in Refleksi on Januari 12, 2009 by bintangtimur

israeli-attacks-on-gaza-24-palestinan-woman-in-a-funeralAgaknya sebuah ironi besar nampak di akhir pekan ini dengan aksi longmarch sekawanan orang-orang dengan atribut partai mengitari mereka. Pembantaian yang menimpa warga Palestina menjadi modal yang berharga untuk menarik simpati masyarakat pada sebuah kelompok atau Parpol. Sejauh ini, sebuah Parpol begitu getol menampakkan diri dengan mengusung penderitaan rakyat Palestina. Melakukan aksi mereka di beberapa ruas jalan raya di negeri ini, sebut saja Thamrin Jakarta dan di Malang Jawa Timur. Momen yang benar-benar tepat, untuk seolah menunjukkan rasa solidaritas atas nama umat Islam dan kemanusiaan. Bukan ingin berburuk sangka, namun apa yang dilakukan oleh Parpol ini sudah kelewatan jika memang benar apa yang dilakukan adalah upaya semakin mengharumkan nama “besar” mereka. Baca selebihnya »

Aku Mengenalmu, Aku Aman Darimu

Posted in Refleksi on November 26, 2008 by bintangtimur

Setidaknya kenapa aku begitu tertarik mengamati orang-orang, karena aku ingin tetap aman dari siapapun dan dalam kondisi apapun. Harus kuakui aku orang yang hampir selalu ingin berada dalam posisi aman dan tidak suka mencari masalah. Aku terkadang malas menghadapi tantangan. Ini alas an pertama.

kedua, dengan mengenali karakter orang aku tentu ingin tahu bagaimana menyikapi orang-orang dengan karakter yang berbeda-beda itu dengan tepat. Alasan pertama tadi menggambarkan bahwa aku ingin selalu dalam posisi aman, tetapi suatu keadaan atau situasi kan tidak selalu seperti yang aku inginkan. Melulu aman. Terkadang gejolak muncul, baik yang dengan sengaja aku munculkan atau karena tanpa sengaja ada menimpaku. Mungkin tiba-tiba aku menghadapi masalah yang pelik, atau tiba-tiba aku berada dalam kerumunan orang-orang yang ingin menghajarku. Situasi seperti itu kadang tidak terperkirakan. Jadi mulai sejak awal aku harus mempelajari ini semua. Baca selebihnya »

Selamat Datang Pada Mimpi dan Puncak Kegilaan

Posted in Refleksi on Oktober 21, 2008 by bintangtimur

Apa hal menarik yang dapat dilakukan di dalam sebuah kelas yang membosankan dengan dosen yang kerap begitu menyebalkan?
Membaca mungkin. Menambah wawasan akan hal-hal yang mungkin juga baru pada diri, kalau beruntung mendapatkan buku yang tidak sama membosankan dan menyebalkan dengan suasana kelas dan dosen-dosen otoriter plus keras kepala. Kerapkali aku dapatkan buku-buku dengan tema dan isi murahan, mungkin saja ada manfaatnya tapi terkadang lebih sering nampak tidak begitu penting. Termasuk beberapa novel yang sedang digandrungi teman-temanku. Novel-novel naïf yang isinya tak lebih dari roman-roman picisan murahan. minim nilai-nilai sastra, lebih sarat berisi hal yang  diorientasikan pada selera pasar. Lebih-lebih lagi pada novel-novel yang mengekor, terlihat kurangnya daya kreatifitas. Ketika ada seorang penulis menulis ini, yang lainpun ikut begini. Namanya penulispun kadang disama-samakan. Meskipun demikian aku masih bersukur, sebagai seorang penikmat sastra dapat juga sebagian novel-novel bagus penggugah muncul menggugah semangat dan memunculkan secercah keindahan pada diri. Dan seperti kata seorang dosenku, yang satu ini cukup qualified, hanya segelintir penulis yang mau menciptakan sebuah karya sastra yang serius. Baca selebihnya »

Antara Filsafat dan Sastra

Posted in Refleksi on September 22, 2008 by bintangtimur

Filsafat dan Sastra sama-sama mendambakan sebuah tujuan tanpa tempat, tanpa batas. Kadang terombang-ambing pada lubang putih ketidakjelasan. Selalu memperkaya diri dengan kedalaman kontemplasi.
Dengan berfilsafat aku menemukan diriku mencoba mengarungi lautan pengetahuan dan tentang semua.
Sayang, aku dibatasi teori-teori dan pandangan-pandangan orang terdahulu atau yang lebih dulu mendahuluiku di dalamnya. Aku menjadi tidak bisa bebas. Padahal aku ingin lepas.
Dengan Sastra aku menemukan diriku pada satu tempat yang aku kira sama ketika aku berfilsafat. Menyelami tentang segala sesuatu, namun dengan ketakterbatasanku. Dengan ide-ide yang selalu berubah dalam diriku, aku menemukan ketakterhinggaan. Kadangpun sampaiku pada sang ultimum being. Being as being for beings. Meski aku sekedar membicarakannya. Aku bebas mengepakkan sayapku. Aku suka itu.
Meskipun juga takkan kulupa kecintaanku pada filsafat. Hanya saja aku tak mau dibatasi. Oleh doktrin-doktrin atau teori-teori.
Keduanya tetap mengajakku merenungi segala sesuatu secara dalam.

Menjadi Penipu Yuk!!

Posted in Refleksi on Juli 17, 2008 by bintangtimur

Menjadi cerita sejarah mungkin jika ada orang Indonesia yang menjadikan diri mereka baik. Trendnya bukan demikian. Indonesia penuh dengan orang jahat dengan kecenderungan semakin jahat. Kalaupun ada orang baik, baik dalam artian sebenarnya bukan sekedar pengakuan, mungkin hanya tinggal dua tipe saja. Pertama, mereka yang mengasingkan diri, menjauh dari hiruk pikuk kegelapan Indonesaia. Kedua, mereka orang baik yang selalu jadi sasaran kejahatan orang-orang kelam Indonesia.

Kecenderungan bangsa ini memang tidaklah mau menjadi bangsa yang baik. Melanggar aturan, memainkan hukum, menipu orang, dan yang terparah beretorika di sana-sini untuk menyelamatkan diri dari aib yang disimpannya karena telah mencurangi negara misal, atau juga untuk membohongi orang-orang baik itu. Begitulah alam sosial Indonesia. Menjadi hutan belantara dengan hukum rimba yang menghalalkan segala cara demi sebuah cita dan keinginan yang hendak dicipta. Baca selebihnya »

Menyinari Ruang Batin Wanita

Posted in Refleksi on April 22, 2008 by bintangtimur

Tidak dipungkiri lagi Kartini adalah seorang emansipatoris dunia wanita Indonesia. Di zaman yang mengukung gerak wanita, ia terus berjuang atas nama kebebasan kaum hawa. Kartinilah yang dengan kekiniannya mendobrak kekolotan dan kekakuan adat dan tradisi yang mengerdilkan peran wanita. Dengan semangat pembaruan ia mencoba melepaskan wanita dari kekangan adat dan tradisi itu. Ia ingin semua wanita Jawa atau Indonesia pada umumnya dapat menikmati kebebasan. Kebebasan fisik dan mental yang pada masa itu hanya menjadi angan bagi wanita kebanyakan. Ia berjuang dan terus berjuang demi mengangkat harkat dan martabat kaumnya.

Namun sayang, perjuangan wanita selesai pada usianya yang keduapuluh lima. Tanggal 13 September 1904 istri Bupati Rembang ini wafat, setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Ia dimakamkan di Mantingan, sebuah kecamatan di selatan Rembang, berbatasan dengan Blora. Baca selebihnya »

Berlomba-lomba Menuju Surga Kita

Posted in Editorial, Refleksi dengan kaitan (tags) , , , , , on Maret 30, 2008 by bintangtimur

Orang-orang Islam yang menjadikan al-Qur’an dan Sunah Rasul sebagai pegangan hidupnya adalah mereka yang bersedia menghormati dan mau hidup damai dengan orang lain di sekitarnya, meski berbeda agama dan madzab atau golongan. Orang-orang yang demikianlah yang sesungguhnya mengamalkan pesan-pesan suci Islam yang tersurat dalam al-Qur’an dan Sunnah. Demikianlah kira-kira intisari perkataan Kang Jalal, Zuhairi Misrawi, dan Albertus Patty dalam acara bedah buku “al-Qur’an Kitab Toleransi: Insklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme” di Audiotorium Universitas Paramadina, Jum’at kemarin. Baca selebihnya »