Agaknya sebuah ironi besar nampak di akhir pekan ini dengan aksi longmarch sekawanan orang-orang dengan atribut partai mengitari mereka. Pembantaian yang menimpa warga Palestina menjadi modal yang berharga untuk menarik simpati masyarakat pada sebuah kelompok atau Parpol. Sejauh ini, sebuah Parpol begitu getol menampakkan diri dengan mengusung penderitaan rakyat Palestina. Melakukan aksi mereka di beberapa ruas jalan raya di negeri ini, sebut saja Thamrin Jakarta dan di Malang Jawa Timur. Momen yang benar-benar tepat, untuk seolah menunjukkan rasa solidaritas atas nama umat Islam dan kemanusiaan. Bukan ingin berburuk sangka, namun apa yang dilakukan oleh Parpol ini sudah kelewatan jika memang benar apa yang dilakukan adalah upaya semakin mengharumkan nama “besar” mereka. Baca selebihnya »
Momen Tepat Berkampanye
Posted in Refleksi on Januari 12, 2009 by bintangtimurFlatliners: Manusia Pusat Segala Putusan
Posted in Sinopsis Film dengan kaitan (tags) Dominion, Flatliners, Ketakutan on Desember 10, 2008 by bintangtimur
Flatliners. Mungkin akan sedikit manarik jika mau menghubungkan film ini dengan Dominion: Prequel to Exorcist. Dua film yang mungkin bersebrangan, namun memiliki satu titik temu, ketakutan. Kesimpulan awal dari dua film ini seperti hendak mengatakan bahwa pada dasarnya manusia memang ditakdirkan atau memiliki nasib untuk memiliki satu kondisi di mana ketakutan (fireness) ada bersamanya. Hanya saja, berbicara tentang dua film ini berarti bicara dua ruang yang berbeda cara pendekatannya. Flatiners bercerita melalui pendekatan psikologi manusia, Dominion: Prequel to Exorcist erat kaitannya dengan teologi Katholik Roma. Mengapa saya katakan dua film ini benar-benar berbeda. Yang satu menekankan aspek kemanusiaan dan coba dikembalikan pada diri manusia itu sendiri, sedangkan satunya lagi, menekankan pada aspek kemanusian dengan mengembalikan segalanya pada Tuhan. Baca selebihnya »
Hari Ini Aku Baik, Besok Pun Aku Demikian
Posted in Editorial on Desember 10, 2008 by bintangtimurKisah tentang perintah suci penyembelihan Ismail telah demikian dikenal umat Islam. Beberapa kali Ibrahim bermimpi tentang sebuah upacara pengorbanan. Selalu dikaitkan, bahwa Tuhan hendak menguji keimanan dan keikhlasan putra pembuat berhala ini. Ismail adalah putra terkasihnya, dan Ibrahim harus merelakannya menjadi sesembahan bagi-Nya. Tanda ketaatan pada Tuhannya. Dan ketika hari pengorbanan telah tiba, Ibrahim dan putranya menyusuri padang Arafah. Pada acara pengorbanan, ketika Ibrahim siap menyembelih puternya, Ismail pun digantikan domba. Dalam beberapa lukisan yang menggambarkan kisah ini, malaikat membawa seekor domba untuk menggantikan Ismail sebagai kurban. Ibrahim dan putranya berhasil melalui ujian yang Tuhan embankan.
Dari kisah ini pun sering disebutkan bahwa, ketika Ibrahim mengalami kebimbangan, Ismail dengan tegas siap menjadi kurban. Ini perintah Tuhan! Dengan yakin akhirnya Ibrahim menjalankan kehendak Tuhan ini. Kental sekali dengan kecintaan dan keikhlasan. Baik Ibrahim, maupun Ismail. Keduanya menjadi hamba yang taat dan rela mengorbankan apapun demi Tuhan. Bagi umat Islam, di mana Ismail hendak dikurbankan oleh ayahnya menjadi salah satu hari besar dan suci yang tiap tahun diperingati. Selain juga, menjadi sebuah ritual wajib bagi kaum muslim yang menunaikan rukun Islam kelima, haji. Tiga hari pada awal minggu kedua bulan Dzulhijah ini pun menjadi begitu sakral. Delapan, sembilan, dan sepuluh Dzulhijah, yang dipercaya menjadi hari-hari perintah suci itu datang dan dilaksanakan. Baca selebihnya »
Talk MOre Do More
Posted in Editorial on November 26, 2008 by bintangtimur“Jangan, ‘Sedikit Bicara, Bekerjalah!’, tetapi, ‘Banyak Bicara, Banyak Bekerja!’!” Mungkin kata-kata yang dilontarkan Bung Karno ini, aku temukan dalam “Di Bawah Bendera Revolusi”, ada benarnya tentu. Menjadi manusia efektif dalam bayangan yang digambarkan Soekarno.
Kenapa aku tak harus banyak bicara ketika misalnya aku dapat melakukannya, sekaligus bekerja dengan baik pula. Kualitas efektifitas hidup bukan hanya ditentukan oleh maksimalnya tangan dan kaki bergerak. Mulut yang bicara efektif pun akan mempengaruhi seberapa besar efektivitas yang akan kita capai.
Meskipun hal-hal semacam ini sangat kondisional, mengingat ini sekedar slogan. Tetapi, bukanlah slogan “Talk Less, Do More” adalah refleksi untuk mencitrakan kebiasaan kita yang malas bekerja, lebih banyak bicara. Dan bila mau menengok pada ruang politik negeri ini akan dapatkan realitas kondisi ini.
Para politikus yang mengumbar janji bukanlah cerita fiktif belaka. Hal yang paling aku ingat terkait hal ini adalah janji politik Fauzi Bowo, saat-saat gencar kampanye sebelum Pilkada Jakarta Agustus 2007. Janji mengatasi kemacetan dan menanggulangi banjir begitu manis terdengar saat itu. Dengan lantang mengatakan bahwa dia sanggup menangani dua masalah besar yang seperti menjadi situasi rutin masyarakat Jakarta. Namun, satu tahun masa kepemimpinan orang yang mengaku warga (atau malah menjadi ketua cabangnya) NU (Nahdlatul Ulama) ini tidaklah memunculkan perubahan yang berarti. Bahkan terkesan mengalami penurunan dibandingkan masa kepemimpinan Sutiyoso dan terkesan terbengkalai. Lihat saja misalnya proyek transportasi masal Busway. Lima belas koridor Busway yang dicanangkan, baru terealisasi tujuh koridor saja. Dan koridor delapan-sepuluh yang sedianya diresmikan akhir tahun ini (mundur setahun dari yang ditargetkan), sarana dan prasana yang telah disediakan pun nampak terbengkalai. Betapa terlihat bahwa memang Fauzi Bowo terlalu banyak bicara, namun bekerja seadanya. Tentu manusia macam ini belum menjadi manusia yang efektif. Dan lagi-lagi itu pun tetap kondisional, dalam artian tergantung ke mana itu mau diarahkan. Manusia memiliki kemampuan dalam melakukan sesuatu (bicara dan bekerja) secara positif. Dan tentu keduanya tetap akan lebih baik dilakukan secara bersama dari pada, “Talk Less, Do More” atau “Talk More, Do Less” saja. Jadilah “Talk More, Do More”. Menjadi manusia efektif.
Sunday, 23 November 2008
02:58, Cililitan
Aku Mengenalmu, Aku Aman Darimu
Posted in Refleksi on November 26, 2008 by bintangtimurSetidaknya kenapa aku begitu tertarik mengamati orang-orang, karena aku ingin tetap aman dari siapapun dan dalam kondisi apapun. Harus kuakui aku orang yang hampir selalu ingin berada dalam posisi aman dan tidak suka mencari masalah. Aku terkadang malas menghadapi tantangan. Ini alas an pertama.
kedua, dengan mengenali karakter orang aku tentu ingin tahu bagaimana menyikapi orang-orang dengan karakter yang berbeda-beda itu dengan tepat. Alasan pertama tadi menggambarkan bahwa aku ingin selalu dalam posisi aman, tetapi suatu keadaan atau situasi kan tidak selalu seperti yang aku inginkan. Melulu aman. Terkadang gejolak muncul, baik yang dengan sengaja aku munculkan atau karena tanpa sengaja ada menimpaku. Mungkin tiba-tiba aku menghadapi masalah yang pelik, atau tiba-tiba aku berada dalam kerumunan orang-orang yang ingin menghajarku. Situasi seperti itu kadang tidak terperkirakan. Jadi mulai sejak awal aku harus mempelajari ini semua. Baca selebihnya »
Sejarah Yang Tak Pernah Objektif; Nihilitas Yang Selalu Menyertai
Posted in Sinopsis Film on Oktober 22, 2008 by bintangtimurNama Mary atau Maryam dalam bahasa Aramaiknya adalah legenda yang dikenal hampir-hampir di seluruh bumi, sejak awal kemunculan Kristen hingga sekarang. Mengingat, nama ini disebutkan dalam kitab suci dua agama besar di dunia-Kristen dan Islam. Dalam Injil setidaknya nama ini muncul dalam Matius dan Lukas.
Disebutkan bahwa Maria atau Maryam adalah seorang perawan yang ditunangkan pada seorang yang berhati lurus, Yusuf. Dalam masa pertunangan itu Maryam hamil tanpa berhubungan dengan lelaki manapun. Sebuah proses kejadian yang diyakini sebagai sebuah mukjizat (miracle) yang diperlihatkan Tuhan, menitipkan anaknya pada rahim seorang perawan. Maryam dan Yusuf hidup pada masa kekaisaran Romawai di bawah kuasa Raja Herodes. Seorang raja lalim yang melakukan segala cara demi mencapai tujuan, termasuk ketika membunuh setiap bayi laki-laki di bawah dua tahun setelah mendengar pernyataan orang Majush yang mengatakan bahwa akan datang seorang juru selamat dari Bethlehem. Dalam al-Qur’an pun Mary atau Maryam juga disebutkan secara jelas. Bahkan secara khusus al-Qur’an mencantumkan nama tersebut sebagai salah satu surat di dalamnya.
Mary atau Maryam, tepatnya sejarah kebenaran legenda Mary film The Virgin Mary yang berdurasi 90 menitan ini bercerita. Sebuah film yang lebih tepat disebut sebagai film rekonstruksi daripada film Baca selebihnya »
Selamat Datang Pada Mimpi dan Puncak Kegilaan
Posted in Refleksi on Oktober 21, 2008 by bintangtimur
Apa hal menarik yang dapat dilakukan di dalam sebuah kelas yang membosankan dengan dosen yang kerap begitu menyebalkan?
Membaca mungkin. Menambah wawasan akan hal-hal yang mungkin juga baru pada diri, kalau beruntung mendapatkan buku yang tidak sama membosankan dan menyebalkan dengan suasana kelas dan dosen-dosen otoriter plus keras kepala. Kerapkali aku dapatkan buku-buku dengan tema dan isi murahan, mungkin saja ada manfaatnya tapi terkadang lebih sering nampak tidak begitu penting. Termasuk beberapa novel yang sedang digandrungi teman-temanku. Novel-novel naïf yang isinya tak lebih dari roman-roman picisan murahan. minim nilai-nilai sastra, lebih sarat berisi hal yang diorientasikan pada selera pasar. Lebih-lebih lagi pada novel-novel yang mengekor, terlihat kurangnya daya kreatifitas. Ketika ada seorang penulis menulis ini, yang lainpun ikut begini. Namanya penulispun kadang disama-samakan. Meskipun demikian aku masih bersukur, sebagai seorang penikmat sastra dapat juga sebagian novel-novel bagus penggugah muncul menggugah semangat dan memunculkan secercah keindahan pada diri. Dan seperti kata seorang dosenku, yang satu ini cukup qualified, hanya segelintir penulis yang mau menciptakan sebuah karya sastra yang serius. Baca selebihnya »
Antara Filsafat dan Sastra
Posted in Refleksi on September 22, 2008 by bintangtimurFilsafat dan Sastra sama-sama mendambakan sebuah tujuan tanpa tempat, tanpa batas. Kadang terombang-ambing pada lubang putih ketidakjelasan. Selalu memperkaya diri dengan kedalaman kontemplasi.
Dengan berfilsafat aku menemukan diriku mencoba mengarungi lautan pengetahuan dan tentang semua.
Sayang, aku dibatasi teori-teori dan pandangan-pandangan orang terdahulu atau yang lebih dulu mendahuluiku di dalamnya. Aku menjadi tidak bisa bebas. Padahal aku ingin lepas.
Dengan Sastra aku menemukan diriku pada satu tempat yang aku kira sama ketika aku berfilsafat. Menyelami tentang segala sesuatu, namun dengan ketakterbatasanku. Dengan ide-ide yang selalu berubah dalam diriku, aku menemukan ketakterhinggaan. Kadangpun sampaiku pada sang ultimum being. Being as being for beings. Meski aku sekedar membicarakannya. Aku bebas mengepakkan sayapku. Aku suka itu.
Meskipun juga takkan kulupa kecintaanku pada filsafat. Hanya saja aku tak mau dibatasi. Oleh doktrin-doktrin atau teori-teori.
Keduanya tetap mengajakku merenungi segala sesuatu secara dalam.