Karena Aku Punya Harga Diri

Kasus kekerasan atas nama agama lagi-lagi marak terjadi. Kini jamaat Ahmadiyah yang menjadi korban. Penyerangan ribuan orang terhadap kelompok ini menjadi berita hangat akhir-akhir ini. Bahkan, Wapres Jusuf Kalla pun sempat berkomentar berkenaan dengan hal ini. “Apapun dalihnya, tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan.” Katanya. Kasus terkini muncul di Majalengka, Jawa Barat. Masjid milik jemaat Ahmadiyah diserang oleh puluhan orang tak dikenal.

Senada dengan Wapres Ketua I PBNU Masdar Farid Masudi mengatakan bahwa kekerasan yang dialami kelompok Islam sempalan tidak dapat dibiarkan. Dan diakui atau tidak hal ini merupakan akibat logis dari fatwa penyesatan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia menilai, ke depan MUI tidak perlu mengeluarkan fatwa sesat lagi.

“Fatwa sesat itu sebenarnya tidak ada apa-apanya. Setiap agama, keyakinan pasti menilai agama dan keyakinan lain itu sesat. Tidak akan ada implikasi apa-apa. Namun, ketika itu dikeluarkan oleh MUI sebagai representasi umat, maka kelompok sempalan pun menjadi pesakitan,” kata Masdar kepada Media Indonesia, Sabtu (22/12).

Fatwa sesat yang dijatuhkan MUI, menurut Masdar, memberikan legitimasi dan keberanian kepada kelompok yang suka melakukan kekerasan. “Meski memang tidak ada fatwa kekerasan secara eksplisit,” ujarnya.

Ia mengusulkan, untuk menyelesaikan kasus aliran dan sekte Islam ke depan dengan cara baru yang dinilai elegan. “Undang saja para pimpinan sekte tersebut ke dalam satu forum terbuka yang bisa disiarkan televisi. Minta mereka masing-masing berargumen. Bisa jadi nanti, Lia Aminuddin membantah kenabian Mussadeq karena selaku Jibril, ia tidak pernah menurunkan wahyu.”

Menurut Masdar, dengan demikian para sekte akan saling menguji prinsip teologis mereka. “Biar umat menyaksikan dengan akal sehat mereka. Nanti setelah penyisihan, baru MUI memberikan penjelasan,” katanya.

Ia mengatakan, prinsip yang dijalankan NU, antaragama adalah lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). “Untuk antaraliran dalam Islam, lana a’maluna, lakum a’malukum, bagimu amalanmu, bagiku amalanku. Tidak usah dipaksa dan dicap sesat,” jelasnya.

Namun demikian dapat dilihat pula bahwa secara naluriah memang manusia akan selalu cenderung membela apa yang dianggapnya benar, apalagi jika itu berkenaan dengan keyakinan yang telah mendarah daging. Mereka tentu tidak mau bila agama yang mereka cintai dan yakini diobok-obok orang, dengan memunculkan aliran-aliran sempalan baru. Dan apa yang dilakukan oleh oknum-oknum yang menyerang jemaat Ahmadiyah di Kuningan maupun Majalengka dapat dikatakan sebagai upaya pembelaan itu, namun dengan jalan yang salah.

Menyikapi hal ini semua pihak harusnya berupaya agar masalah ini tidak berlarut-larut. Pihak yang berwajib juga harus memiliki ketegasan akan hal in. Menurut salah satu, salah satu jemaat Ahmadiyah di Kuningan, aparat bahkan tidak mau menghentikan aksi para penyerang yang berjumlah ribuan itu dengan alasan sudah ada fatwa sesat dari MUI. Jelas satu tindakan yang patut disayangkan. “Bagaimanapun sebagai aparat hukum, seharusnya mereka menghentikan tindak anarkis orang-orang itu”Katanya.

Apa kita terus biarkan aksi kekerasan merajalela. Orang bernalar tentu menjawab tidak.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s