Anggota Dewan Untuk “Rakyat”, Quo Vadis.

Berita itu beredar di pagi hari, hari ini, (Rabu, 09/01). Benar-benar pagi, di sebuah berita salah satu stasiun televisi swasta nasional. Anggota dewan “Di Dunia Atas Angin” menerima gaji lagi, lagi-lagi gaji. Tidak sedikit jumlah uang yang mereka terima, 39 juta bagi masing-masing anggota dewan. Gaji itu dibayarkan negara hanya untuk gaji insentif legislasi.Selain gaji plus tunjangan yang mencapai Rp 26 juta per bulan, saku setiap anggota DPR juga masih dipenuhi dengan uang insentif pembahasan RUU, sewa rumah dan dana kunjungan konstituen. Sebagai wakil rakyat, setiap bulan mereka mendapat gaji plus tunjangan jabatan, keluarga, beras, listrik dan telepon sekitar Rp 16 juta. Jumlah itu masih ditambah dengan tunjangan komunikasi Rp 10 juta. Tak hanya itu, anggota DPR juga mendapat uang sewa rumah Rp 13 juta per bulan. Sedangkan untuk mengunjungi konstituen di daerah mereka diberi bekal Rp 40 juta per tiga bulan. Ini sudah termasuk uang tiket pesawat, hotel dan tranportasi lokal. Jika ditotal nilainya mencapai lebih dari seratus juta rupiah.Pemberian rapel uang insentif legislasi tahun 2007 tak pelak telah mengundang pro-kontra di kalangan anggota dewan. Anggota Fraksi PDI Perjuangan Panda Nababan menyetujui pemberian rapel insentif itu. Bahkan, menurut Panda, insentif senilai Rp 39 juta masih kurang karena pembahasan RUU memakan waktu lama dan membutuhkan kerja keras anggota dewan yang terlibat. Sikap seperti inipun disetujui oleh Ketua DPR Agung Laksono dari Fraksi Partai Golkar, dia mengatakan bahwa uang rapel ini memang hak anggota dewan yang telah bekerja keras membahas RUU.Hal sebaliknyapun juga muncul dari beberapa anggota dewan. Misalnya dari Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang meminta agar kebijakan ini ditinjau ulang. Menurutnya, hal ini selain tidak etis juga ada nuansa kongkalikong dari para anggota dewan tercinta. “Kalau memang DPR mau bersih, uang itu dikembalikan saja. Saya minta ini ditinjau kembali.” Ujarnya saat ditemui wartawan di Gedung DPR, Selasa (8/1).Hal senada juga diungkapkan Zulkifliemansyah dari  Fraksi PKS. Penerimaan uang ini menandakan anggota dewan tidak lagi sensitif penderitaan yang diraskan rakyat Indonesia saat ini.Ada baiknya jika dewan yang rumah rakyat yang agung itu, berfikir ulang tentang uang itu. 

3 thoughts on “Anggota Dewan Untuk “Rakyat”, Quo Vadis.

  1. Saya sangat muak kalo mendengar berita tentang anggota dewan. Gaji besar kerja tidak jelas. Suka berkelahi di ruang rapat. Kalo rapat kerjanya tidur, bukannya membela hak rakyat yang telah memilihnya. Kalo ngomong paling jago, seakan2 merekalah segalanya. Wakil rakyat sekarang bukanlah mewakili rakyat tapi mewakili dirinya sendiri, kepentingannya sendiri demi perutnya sendiri….
    PKS mah sama saja.. mula2 saja menolak supaya dilihat rakyat..eh lama2 terima juga…

    Salam

  2. Nasib Wakil Rakyat memprihatinkan

    Kembali rakyat ditohok, “Nyolok mata bunceulik” ceuk si emang tukang sol dan asli dari Garut,ketika mendengar tuntutan para anggota dewan yang terhormat dapat dana tunjangan legislasi dari setiap pembahasan undang-undang selama setahun sebesar Rp. 38 juta, biaya kontrak rumah sementara Rp. 60 juta sebelum renovasi di komplek Kalibata selesai dan gaji katanya setelah diambil Partai-nya sebesar Rp. 11 juta.

    Sok hitung sama kita berapa penghasilan wakil rakyat kita di dewan terhormat. belum tender proyek-proyek, belum kunjungan resmi maupun tidak resmi ke kawasan industri atau kunjungan studi banding ke luar negeri plus pasilitas yang diberikan pemerintah yang luar biasa dan ironis itu terjadi disaat harga-harga semakin melambung, BBM sulit sehingga harus diganti dengan gas, kemiskinan semakin meningkat yang diikuti pengangguran semakin menjadi, situasi politik-pilkada yang carut marut dengan keterlibatan pemerintah pusat dan mahkamah hukum terhadap KPUD, pembongkaran dan pengambil alihan lahan rakyat.

    Sebelah mana mewakili rakyat kalau sense social dari para anggota dewan belum terlihat….(lihat : http://inohonggarut.blogspot.com)

  3. Nasib Wakil Rakyat memprihatinkan

    Kembali rakyat ditohok, “Nyolok mata bunceulik” ceuk si emang tukang sol dan asli dari Garut,ketika mendengar tuntutan para anggota dewan yang terhormat dapat dana tunjangan legislasi dari setiap pembahasan undang-undang selama setahun sebesar Rp. 38 juta, biaya kontrak rumah sementara Rp. 60 juta sebelum renovasi di komplek Kalibata selesai dan gaji katanya setelah diambil Partai-nya sebesar Rp. 11 juta.

    Sebelah mana mewakili rakyat kalau sense social dari para anggota dewan belum terlihat….(lihat : http://inohonggarut.blogspot.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s