Nasib “Allah” Di Malaysia

Umat Kristen Malaysia mengaku akan mempertahankan kata “Allah”. Menurutnya, kata itu digunakan oleh Arab-Kristen sebelum Islam datang. Benarkah?

Umat Kristiani di Malaysia mengekspresikan kekecewaan mendalam dan penyesalan terhadap komentar yang dilontarkan pejabat setempat menyangkut larangan non-Muslim menggunakan kata “Allah.”

Dalam sebuah pernyataan kepada media, Uskup Paul Tan Chee Ing, Ketua Malaysian Christian Federation, mengaku bahwa kata “Allah” digunakan oleh Arab-Kristen sebelum Islam didirikan dan mengatakan larangan itu melanggar kebebasan beragama yang digariskan konstitusi.

“Kata ‘Allah’ adalah kata pra-Islam yang digunakan Arab Kristiani sebelum Islam ada,” kata Ing.

“Kami mempertahankan dan kami selalu mengatakan kepada pemerintah bahwa kami mempunyai hak untuk menggunakan kata ‘Allah’ dalam publikasi baik itu dalam Bahasa Malaysia atasu sebaliknya.”

Perdebatan mengenai penggunaan kata “Allah” dimulai saat pemerintah Malaysia mengancam untuk mencabut izin penerbitan sebuah tabloid Katolik lokal. Sebagai responnya, The Herald, koran mingguan Gereja Katolik di Malaysia, melayangkan gugatan kepada pemerintah bulan lalu, mengklaim bahwa larangan tersebut tidak konstitusional dan melanggar kebebasan beragama.

Tidak lama setelah Herald melayangkan gugatannya, pemerintah mundur, dan mengirimkan fax kepada editor Herald yang menyatakan koran itu akan mendapatkan izin 2008 tanpa syarat apapun, demikian kutip BBC.

Akan tetapi, posisi pemerintah nampaknya berubah lagi saat menteri untuk urusan Islam, Abdullah Zin, mengatakan kepada pers bahwa kabinet telah menyetujui bahwa kata itu hanya boleh digunakan oleh Muslim.

Zin berkata kabinet menyepakati bahwa kata “Allah”, mengacu pada Tuhan MUslim dan hanya bisa digunakan oleh umat Muslim, yang terdiri dari 60 persen dalam populasi Malaysia.

Awal bulan ini, Zin telah menjelaskan bahwa penggunaan Kata “Allah” oleh agama lain kita dapat menimbulkan sensitivitas dan menyebabkan kekacauan diantara umat Islam.

Desember lalu, sebuah majalah Katolik di Malaysia, mengatakan pemerintah Malaysia telah memperbarui keputusannya dengan pelarangan penggunaan kata ”Allah” dalam tulisan media Kristen. Pemerintah sendiri mengeluarkan larangan ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya konflik rasial di Negara Jiran itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s