Abu-Abu Kematian Pejuang HAM Munir

“Pembunuh” Munir dihukum dua puluh tahun penjara. Keputusan ini ditetapkan MA (Mahkamah Agung) beberapa hari yang lalu. Pollycarpus pun dijemput pihak kejaksaan dari rumahnya di Pamulang, Tangerang, Jawa Barat. Pekembangan yang sangat signifikan dalam kasus ini, sebelumnya Polly pernah menerima sanksi hukum berkenaan dengan kasus yang sama. Namun bukan atas pasal pembunuhan berencana seerti yang disematkan padanya saat ini. Dia sekedar menerima hukuman dua tahun penjara karena pemalsuan surat tugas yang digunakannya untuk menjadi kru pesawat yang ditumpangi Munir menjelang akhir hidup. Meski demikian, Suciwati (istri mendiang Munir) yang sebelum penetapan ini mengajukan Peninjauan Kembali ke MA, masih merasa tidak puas terhadap keputusan ini. Menurutnya masih banyak misteri yang belum terungkap di balik terbunuhnya Aktivis HAM Munir, dan itu perlu diperjelas.

Kalau dilihat lebih lanjut, memang ada yang sedikit agak janggal dengan keputusan MA ini. Meski, keputusan untuk memberikan tiket gratis menginap selama 20 tahun kepada Pollycarpus di Hotel Prodeo, merupakan bentuk penegakan hukum yang perlu diapresiasi. Namun, sayangnya kasus Munir seperti berhenti di sini. Seakan Polly adalah tersangka tunggal dan tidak ada dalang di balik pembunuhan Munir. Hal ini masih terlalu aneh bagi orang seperti saya sekalipun yang tidak biasa dengan selidik menyelidiki orang.

Selain itu sampai saat ini motif kasus inipun masih kurang begitu jelas. Dan kalau motifnya bersifat pribadi, dengan tersangka tunggal Polly itupun menjadi satu asumsi yang nampak kabur dan tidak masuk akal. Skenarionya terlalu sempurna bagi seseorang dengan dendam pribadi untuk dapat melakukan kejahatan seperti ini.  

Orang-orang di balik pembunuhan Munir saya yakin adalah orang-orang penting di negeri ini. Dan aparat hukumpun pasti tahu siapa mereka, paling tidak Pollycarpus yang saat ini masih menjadi tersangka tunggal yang harus menerima hukuman atas kasus ini tahu siapa-siapa yang berperan, tak harus dalangnya. Meski dalangnyapun kemungkinan besar Polly ketahui siapa dia. Masak aparat polisi yang biasanya begitu gigih mengintrograsi dan mampu memperoleh informasi tentang kawanan maling ayam misal, tidak bisa melakukan hal ini. Ini jelas sandiwara kalau begini caranya. Polly dihukum dan orang-orang kuat dibelakangnya tetap duduk manis di kursi empuk sambil menonton pemberitaan ditutupnya kasus pembunuhan Munir. Mereka pasti mati ketawa melihat kebodohan  dan ketidakberanian kita.

Hampir dapat dikatakan hukum di negeri ini tidak berubah, tetap diam ditempat, jika memang seperti ini adanya. Jangan-jangan penetapan hukuman atas Polly adalah skenario lain yang memang telah disiapkan karena aparat hukum lelah dengan desakan dari sana-sini untuk segera menyelesaikan kasus ini. Seperti kasus-kasus korupsi saja model penanganannya, tebang sana tebang sini, akarnya lupa dicabut. Selalu dan selalu saja begitu. Susah memang hidup di belantara hutan hukum di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s