Selamat Jalan Orang Besar

Mantan Presiden Soeharto akhirnya mangkat ke haribaan Tuhan Yang Maha Kuasa, Minggu, 27 Januari 2008. Segala sakit yang dideritanya di dunia dapat hilang juga dari tubuh tuanya yang berminggu-minggu sebelumnya diberi beban yang berat berkepanjangan. Ada sedikit kelegaan dalam diri saya ketika mendengar berita kematian beliau, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada mendiang. Ketika awal Januari lalu beliau dirawat di RS Pusat Pertamina, dan itu berlangsung hingga beberapa Minggu, rasa iba menggelayuti pikiran saya. Sampai sebegitunya Tuhan mencoba beliau. Orang yang pernah membangun fisik negeri, namun gagal membangun jiwa negara yang dicintainya ini. Beliau orang besar dan telah berjasa bagi bangsanya. Dan sekali lagi beliau akhirnya terlepas dari beban dan penderitaan penyakit ditubuhnya. Segala puji bagi Tuhan sekalian alam.

Minggu kedua dirawatnya Pak Harto, dengan sepenuh hati saya berdoa pada Tuhan untuk Soeharto. Semoga Tuhan cepat memberikan kemudahan bagi beliau. Kemudahan sembuh atau kemudahan menyelesaikan tugasnya sebagai manusia di dunia ini. “Beliau telah terlalu menderita dengan ini oh Tuhan.” Kata di akhir doaku. Selain itu, berita kondisi Pak Harto pun juga menjadi media jalan lain yang nampak dimanfaatkan oleh beberapa politikus. “Ini menambah penderitaan Pak Harto. Kasihan negeri ini, kasihan juga Pak Harto! Media masa begitu gencar menampilkan pemberitaan tentang beliau waktu itu. “Apa tidak ada berita lain yang menarik dan bermanfaat? Maafkanlah dosa-dosa beliau wahai saudara-saudaraku, agar beliau mendapat kemudahan.” Gumanku waktu itu.

Namun ketika membaca rubrik Cari Angin koran Tempo, tulisan Putu Setia waktu itu menyadarkanku. Benarkah Pak Harto membutuhkan maaf yang beliau saja tidak pernah memintanya dari kita, dan jangan-jangan Pak Harto juga merasa tidak merasa bersalah dengan segala apa yang diperbuatnya. Aku pikir Putu Setia pun benar adanya. Kita memberi maaf pada orang yang tidak meminta. Dermawan sekali kita. Kalau di Islam pasti kita sudah dikategorikan hamba-hamba pilihan Tuhan, ketika didzalimipun masih membuka pintu maaf. Luar biasa memang kita ini. Menjadi bangsa pemaaf, ataukah pelupa? Kadang sulit dibedakan memang, tapi itulah kita.

Tetapi sekali lagi ketika melihat berita-berita tentang sakitnya Pak Harto menjadi lahan strategis untuk para politikus cari muka, dan teringat kata-kata Abdul Hadi W.M sayapun tersadar pula bahwa mendoakan agar beliau segera diberi kemudahan memang tetap harus  dilakukan. Apalagi jika melihat bahwa Presiden SBY (Susilo Bambang Yudoyono) juga dibuat sibuk dengan momen ini, menyiapkan ini dan itu. Padahal rakyat menunggu kebijakan-kebijakan beliau agar mereka dapat segera lepas dari himpitan masalah di negeri ini. Harga pangan yang melonjaklah, harga kedelai yang melejit, harga pupuk yang mencekik leher petani, dan masih banyak lagi persoalan yang mesti dapat diatasi Pak SBY, yang karena sakitnya Pak Harto sedikit mengabaikan tugasnya itu.

Hari itupun tiba, suasana cukup mereda aku pikir. Meski sekarang hampir seluruh media disibukkan meliput berita kepergian Pak Harto. Dan secara pasti negeri inipun sibuk dengan upacara pelepasan beliau, dan sebagai Presiden tentu hari-hari ini Pak SBY juga akan dibuat sibuk dengan prosesi itu. Dan berita baiknya paling tidak beberapa hari ke depan Pak SBY dapat kembali lagi bekerja secara optimal. Semoga segalanya berjalan dengan baik.

Maha suci Tuhan yang selalu memberi jalan terbaik bagi hamba-Nya. Selamat Jalan Orang Besar……! Selamat jalan! Semoga dosa-dosamu diampuni dan amal baikmu diterima Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s