Mau Kau Kemanakan NU?

Peringatan Harlah NU yang akan dilaksanakan Minggu besok sepertinya tidak akan dihadiri salah satu tokoh besarnya. Abdurrahman Wahid yang sering disapa Gus Dur enggan menghadiri acara yang nampak akan meriah itu. Alasan yang dikemukan, mengenai rencana ketidakhadirannya itu bukan lantaran karena fisik beliau yang lemah. Ini berhubungan dengan sikap beliau yang sepertinya tidak “merestui” pembesar-pembesar NU dalam peringatan Harlah itu.

Bukan Gus Dur namanya kalau tidak mengeluarkan percik-percik api dalam setiap statemennya. Gus Dur menilai bahwa NU kini dipenuhi oleh orang-orang yang tidak lagi memiliki niat baik membangun NU dan bangsa. Mereka kebanyakan lebih mementingkan diri sendiri, dari pada kepentingan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Mereka bukan orang-orang bersih yang patut dihargai, menjadikan NU masuk ke dalam labirin ketidakjelasan orientasi. Selain itu acara itu dilihat Gus Dur terlalu dibesar-besarkan, apalagi melihat kondisi negeri yang seperti in. Sebuah ceremony yang nampak tidak memberikan manfaat akan segera digelar.

Jika diamati, apa yang disampaikan Gus Dur memang benar adanya. NU diusianya yang ke 82 ini, nampak terombang ambing gelombang pasang dan tidak jelas arah tujuannya. Tekanan dari luar dan ulah orang-orang di dalam membuatnya nampak oleng. Kedua hal yang saling terkait erat. Saya kira situasi ini juga disadari oleh pembesar-pembesar NU. Mereka saja yang sepertinya merasa tidak tahu atau juga mungkin kondisi ini memang sedang menguntungkan mereka sehingga tetap dipertahankan. Dari luar kini NU dihadapkan pada kenyataan bahwa semakin banyak saja organisasi atau kelompok Islam yang lebih mampu memberi jaminan pada jamaahnya. Jaminan keselamatan, ketegasan bersikap, dan tentunya perhatian penuh yang tidak didapatkan dari organisasi yang berpusat di sebuah gedung di Salemba ini. NU gagal mempertahankan umatnya untuk berbondong-bondong pindah ke jaringan kelompok atau organisasi lain. Hal ini disebabkan adanya kurang perhatian pengurus yang ada di PBNU terhadap jamaah yang sebenarnya merupakan pilar utama organisasi ini. Lagi-lagi seperti yang dikatakan Gus Dur, mereka lebih peduli pada diri mereka dari pada umat dan bangsa ini.

Kemudian dengan perayaan Harlah yang nampak dibesar-besarkan yang akan diselenggarakan di Senayan di tengah-tengah penderitaan rakyat, bukankah ini sebuah ironi. Dengan berbagai kegiatan, seperti seminar, pengajian, dan di hari puncak ditutup dengan Harlah di Senayan, tentu biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Bukankah dana yang sebesar itu akan lebih baik bila digunakan untuk memberdayakan warga NU, yang kebanyakan orang miskin. Ingat NU memang memiliki basis umat terbesar di Indonesia, namun NU juga menyumbang daftar orang-orang miskin terbesar juga dari kalangan umat Islam. Nampak wajar memang, dengan jumlah jamaah yang begitu besar tentu kemungkinan adanya orang-orang miskin di sini juga besar. Namun lag-lagi kita dibuat lupa, bahwa banyaknya jamaah yang ada di NU juga berpengaruh pada pemasukan keuangan NU. Bukankah organisasi, kelompok, pengusaha, atau badan-badan yang mensposori kegiatan NU juga akan melihat ini sebagai sebuah hal yang menguntungkan. Jumlah massa ternyata berkorelasi dengan pangsa pasar yang ada, bukankah demikian hukum ekonomi berkata. Lalu ke mana dana dari sponsor-sponsor itu? Hanya Allah dan merekalah yang tahu. Yang jelas warga NU jarang menerima hal itu, kalaupun dapat pastilah tinggal sisa yang paling sedikit dari kemungkina yang ada. Selain untuk memberdayakan warganya, bisa saja dana itu diarahkan ke Sidoarjo, disumbangkan kepada para korban di sana. Ingatkah kalian pada mereka yang kebanyakan makan-makanan yang kabarnya jarang di masak dengan baik itu, itupun tak selalu mereka dapatkan. Saya jadi teringat ketika menonton sebuh reportase yang meliput kehidupan para korban Lapindo. Teringat pada seorang nenek penjual pecel, yang kini telah menganggur lama, tinggal bersama beberapa cucunya. Sehari-hari untuk bertahan hidup nenek ini benar-benar mengandalkan bantuan makanan yang disalurkan pihak Lapindo tiap harinya. Namun sayangnya nasi dan lauk yang mereka berikan, jarang sekali masak dan layak untuk dimakan. Di jemurnya nasi itu untuk dijadikan aking. Aking yang terkumpul sebagian beliau jual dan sebagian lagi dimasak kembali. Dengan pola seperti itu mereka mempertahahankan hidup. Mungkin nenek itu juga warga NU, yang seharusnya mendapat perhatian dari para pengurus NU.

Namun para pemimpin NU lebih memilih cara lain, bukan cara untuk membantu mereka yang membutuhkan, tetapi cara bagaimana dana itu dialokasikan. Mereka lebih memilih menggunakan dana ratusan juta rupiah atau mungkin milyaran itu hanya untuk “berpesta-pesta” seperti yang akan dilangsungkan hari Minggu ini. Orang-orang NU kini semakin Hedonis, menjadi satu catatan penting di peringatan hari kelahirannya yang ke 82 ini. Kita semakin suka berfoya-foya ternyata.

Setelah melihat ini, satu pertanyaan muncul, memenuhi sudut pikiran saya. Sebenarnya ada apa dengan sikap kukuh para pembesar NU untuk tetap menyelengarakan Harlah ini secara besar-besaran? Namun pertanyaan ini tidak berlama-lama untuk ada dalam pikiran saya, karena memang jawabannya mudah ditebak. Karena mudah ditebak, silahkan mencari jawaban atas pertanyaan ini. Kata kuncinya unjuk kekuatan!

Kapan ini berubah…..? Semoga segera.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s