Selamat untukmu NU

Segala puji sukur pada-Mu Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Puncak acara Harlah NU (Nahdlatul Ulama) ke-82 berjalan lancar. Tidak seperti kemarin, hari ini langit Jakarta seperti enggan menumpahkan airnya. Padahal, petang tadi ketika dalam perjalanan pulang dari rumah kawan di Depok, saya sempat berfikir bagaimana acara NU ini kalau hujan terus saja mengguyur. Banjir kemarin yang sempat menyendatkan aktivitas kehidupan di Jakartapun sempat terbayang kembali akan hadir pagi ini. “Jangan-jangan acara ini akah dibatalkan gara-gara hal ini. Kasihan warga NU yang ingin datang ke Senayan kalau begitu” Kataku saat itu. Dan alhamdulillah pikiran burukku itu tidak menjadi kenyataan. Sekali lagi, bait-bait puja dan puji sukur menggema untuk-Mu Tuhan. Kesuksesan berlaku pada acara ini, sayapun turut bahagia melihatnya.

Puluhan ribu bangku yang biasanya di isi oleh suporter dan penggemar sepak bola pun diwarnai wajah-wajah warga Nahdliyin, yang beberapa saat menggemakan stadion kebanggaan Indonesia ini dengan shalawat badar. Meriah.. benar-benar meriah acara ini, meskipun kronologis acara ini tak dapat lihat semuanya, karena tak hadir di sana, kebahagiaan tetap terasa di hati.

Saya sungguh takjub dengan antusias orang-orang NU. Tak diragukan NU masih memiliki umat yang tidak sedikit jumlahnya. Meski tak dapat dijadikan patokan, dengan melihat ini saya masih yakin bahwa memang jumlah warga NU masih tetap nomor satu dibandingkan organisasi Islam lainnya di Indonesia. Dan karena itu pula saya begitu yakin mengapa acara Harlah NU yang ke-82 ini diselenggerakan dengan sebegitu rupa, terlihat megah dan meriah.

Para pemimpin NU akhirnya dapat tahu juga bahwa mereka masih memiliki jamaah yang setia. Mereka jadi tahu bahwa akan ada harapan bagi mereka pada umat yang satu ini. Mereka jadi yakin..begitu yakin akan hal itu, yang sayangnya hal inipun membuahkan keprihatinan yang sangat muncul dalam diri saya. Jumlah warga NU yang banyak itupun meyakinkan saya bahwa para pemimpin NU tidak akan mampu mensejahterakan jamaah yang begitu besar itu. Kemegahan kuantitas orang-orang itupun terlihat berbanding terbalik dengan kualitas kesejahteraan mereka. Sayangnya itu.” Lupakan omongan saya yang ngelantur ini, toh memang inipun tak perlu diingat bukan? Akan muncul harapan-harapan besar jika mengingat ini terus.

Namun, toh demikian..acara itu tetap berjalan lancar dan sukses. Dan saya terus berdoa semoga di usia 82 tahun ini, yang ngaco bila di sebut dewasa karena memang sudah tua, kematangan NU dalam menjadi bagian kehidupan berbangsa dan bernegara akan semakin tumbuh dan berguna. Semangat anak muda ini untukmu NU.

One thought on “Selamat untukmu NU

  1. Pasar Enjo, 08.00 WIB.

    Rasa haru menyesak memenuhi dadaku, begitu kijang biru yg kami naiki bersapaan dgn bis-bis yg mengangkut rombongan.
    Sedianya, pagi ini aku ada di antara mereka.
    Namun, keperluan penting mengarahkanku ke Serang, bersama istri dan keluargaku semua.
    Nahdlatul Ulama… Aku berharap anakku kelak tetap setia bersamamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s