Benarkah “Liberalisasi” Islam Membahayakan

Membaca tulisan Rifqi Fauzi tentang “Bahaya Gerakan Liberalisme Islam” (Republika, 14-12-07), menimbulkan sedikit ganjalan di dalam benak saya. Dalam tulisan itu setidaknya Rifqi menyimpulkan dengan kemungkinan bahwa gelombang ateisme dan deisme akan muncul jika gerakan Islam Liberal terus berkembang. Saya tidak akan membantah jika memang ada kemungkinan seperti itu yang akan muncul pada suatu hari. Gerakan-gerakan “pembaru” seperti yang dilakukan Nasr Hamid Abu Zayd atau bahkan Ulil Abshar Abdala akan selalu memunculkan perubahan yang bisa saja negatif dan positif terhadap Islam. Meskipun dengan skala yang tidak dapat dipastikan berapa besarnya. Bentuk negatifnya mungkin seperti yang dikatakan Rifqi, bahwa gerakan anti ajaran agama dan gerakan anti Tuhan akan tumbuh subur dalam tubuh Islam. Sedangkan perubahan positif yang mungkin muncul adalah perkembangan wacana dan praktek keagamaan yang tidak melulu statis. Yang lagi-lagi dapat saja itu menjadi satu batu pijakan untuk kemajuan Islam.
Gambaran awal yang saya dapat ketika membaca tulisan itu adalah plot yang digunakan saudara Rifki sejak awal memang ingin mengangkat isu negatif dari gerakan liberal Islam. Sayangnya, ada pemangkasan sejarah dalam tulisan itu. Karena dikuasai keinginan untuk menjustifikasi gerakan liberal Islam itu negatif, Rifki terlalu sederhana menyimpulkan analogi yang digunakannya. Ketika disebutkan bahwa teori heliosentris Copernicus (1543) telah membawa pemikir Barat pada ajaran deisme dan ateisme, muncullah ke-tidak-fair-an dalam gagasannya dan itupun terkesan a historis.
Saya katakan tidak fair karena dalam kenyataannya gerakan Copernicus yang kemudian diteruskan Galileo Galilei (1564-1642) juga membawa dua dampak dalam keberagamaan di dunia Barat. Dan saya pikir, dampak yang muncul dari gerakan-gerakan pembaharu seperti yang dilakukan Copernicus atau reformasi gereja ala Marthin Luther (1483-1556) sebelumnya, telah membantu membawa agama Kristen kembali ke jalan ajarannya.
Penyalahgunaan wewenang gereja pada masa itu dapat diperbaiki karena adanya gerakan-gerakan semacam itu. Bukankah salah satu penyebab munculnya Protestan yang diusung Luther karena adanya penjualan surat pengampunan dosa oleh otoritas gereja. Dan lagi-lagi dapat saya katakan bahwa gerakan pencerahan di Barat—saudara Rifki lebih suka menggunakan gerakan liberalisasi—memiliki dua sisi yang juga harus diperhatikan, baik dan buruk itu selalu ada. Dan saya lebih melihat bahwa gerakan pencerahan itu dominan membawa angin segar bagi pihak gereja. Kecuali bagi para pemegang otoritas di Gereja Katholik Roma saat itu.
Bila melihat kembali apa yang dilakukan otoritas gereja pada masa itu, tentu akan ada kesimpulan lain yang harus dibuat Rifki, namun ia urung melakukan itu. Ketika datang ke Roma dalam perlawatannya di tahun 1510, Luther menjadi seakan terbangun dari mimpi buruk. Apa yang dilihatnya di Roma tidak seperti yang dibayangkannya ketika menganggap bahwa orang-orang gereja adalah orang-orang yang saleh. Ketika di Jerman ia melihat sosok-sosok lain yang terdiri dari orang-orang yang membaktikan diri mereka pada Tuhan. Tetapi di Roma kenyataan mengatakan hal lain tentang itu. Para pendeta hidup mewah bergelimang kesenangan dunia. Dan parahnya lagi untuk menutupi defisit keuangan, otoritas Gereja memberi surat pengampunan bagi para pendosa yang mampu membayar dengan kepingan uang.
Luther tidak dapat menerima ini. Menurutnya ini merupakan kejahatan manusia pada Tuhan mereka. Penyelamatan hanya datang melalui ketulusan hati dan pengampunan yang diberikan Tuhan. Sedang para pendeta Roma mempermainkan hal ini. Ini jelas menyalahi tuntunan injil dan akal manusia. Dan mulailah gerakan protestannya dikobarkan dengan langkah awal di tahun 1517 ia melakukan penempelan poster di Gerbang Gereja Wittenberg yang berisi 90 pedoman yang seharusnya dilakukan oleh para pendeta. Gerakan Luther inilah yang mengawali reformasi dalam tubuh gereja Katholik hingga nampak seperti sekarang, selain muncul pula Kristen Protestan.
Gerakan-gerakan pembaharu dalam Kristen banyak sekali memunculkan cabang-cabang. Tidak hanya memunculkan orang-orang seperti ), Isaac Newton (1642-1724 M), John Lock (1632-1704), atau Immanuel Kant (1724-1804 M) yang hanya mempercayai adanya Tuhan. Atau juga cabang yang memunculkan orang-orang seperti Karl Marx (1818-1883 M) atau Nietszhe dengan Tuhannya yang telah mati. Tapi selain itu gerakan pembaharu ini juga memunculkan sosok-sosok pembela agama seperti Blaise Pascal (1623-1662) dengan karyanya yang disebut Pensees, berisi serangan terhadap Jesuit, para pemikir bebas, ateisme, dan anti Yahudi. Kemudian ada F.W. Joseph Schelling (lahir 1775), dan William James (1842-1910).

Masa depan Islam, bila “Liberalisme” Islam Tumbuh Kembang
Dalam konteksnya tersendiri, saya pikir gerakan-gerakan pembaharu dalam Islam juga akan memunculkan dampak yang hampir sama dengan Barat. Negatif dan positif. Dalam hal ini kita juga harus melihat bahwa sejak dahulupun di dalam Islam telah mengalami pergolakan pemikiran yang hampir sama dengan saat ini. Penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang antara satu firqah yang satu dengan firqah yang lainnya berbeda satu sama lain. Bisa saja penafsiran itu bersifat apa adanya seperti yang biasanya dipraktekkan orang-orang Khawarij atau juga yang bercorak rasional seperti yang dilakukan kaum Mu’tazilah misal. Keduanya bisa saja menafsirkan satu ayat yang sama, namun pandangan yang kemudian dimunculkan dapat berbeda.
Kemudian gerakan pembaharuan yang dilakukan oleh Ibnu Rusyd juga menjadi bagian penting sejarah pemikiran Islam. Ibnu Rusyd dengan Tahafut at-Tahafut-nya, yang berusaha mendobrak fatwa haram al-Ghazali terhadap filsafat. Dari sini saya melihat bahwa para pemikir Islam seperti Ibnu Rusyd dan al-Ghazali menggunakan dalil-dalil al-Qur’an dengan penafsiran yang tentu diupayakan untuk memperkuat argumen masing-masing. Dengan begitu sejak dulupun Islam tidak pernah menutup pintu penafsiran-penafsiran al-Qur’an yang tentu saja juga harus memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku. Dan ketika zaman Abbasiyah mencapai puncak-puncak masa keemasannya, orang-orang di Bagdad pada masa itu bukan hanya terdiri dari sekelompok orang dengan satu madzab saja. Mereka adalah sekumpulan orang-orang yang berbeda madzab, berbeda pemikiran, dan bahkan memiliki perbedaan dalam menafsirkan al-Qur’an. Mereka mampu membentuk satu komunitas muslim di kota Bagdad dengan kemajuan yang begitu gemilang.
Sampai saat inipun saya masih yakin bahwa Islam dan ajarannya tidak akan bertentangan dengan fitrah manusia dan kehidupan. Namun sayangnya banyak sekali ajaran-ajaran itu yang tidak mampu tersampaikan dengan semestinya karena kejumudan ajaran yang hampir sama dari ratusan tahun yang lalu hingga sekarang. Bahkan dalam beberapa sisi saya melihat bahwa memang kejumudan inilah yang membuat Islam semakin tertinggal di belakang.
Gerakan pembaharu dalam Islam dapat memunculkan kemajuan dalam Islam atau bahkan menjadikan agama ini semakin terbelakang dan terbelakang.

One thought on “Benarkah “Liberalisasi” Islam Membahayakan

  1. saya ko jadi ga mudeng !!!!
    semua orang berhak benar tapi jangan selalu merasa benar
    kasian yang awam kayank saya ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s