Beda Film, Beda Realita

Dunia perfilman sampai kini telah merajai industri hiburan di dunia. Setiap hari markas besar industri terbesar film—Hollywood—melahirkan berbagai macam genre film yang siap menjadi mangsa pasar. Dari Shrek The Third, Pirates of the Caribbean: At World’s End, Harry Potter and the Order of the Phoenix, sampai Spider-Man 3 telah menjadi tontonan yang menarik di bioskop-bioskop berbagai negeri beberapa waktu lalu. Semuanya laris manis bak penjualan pop corn, makanan ringan pendamping saat nonton. Manis dan renyah terasa. Uang ratusan juta bahkan milyaran dolarpun pindah tempat, dari kantong penikmat film ke saku para produsen film.
Sebelum musim panas 2007 habis dilaporkan oleh Reuters bahwa penjualan tiket film-film Hollywood mencapai 559 juta lembar. Jumlah yang begitu banyak. Dari penjualan tiket sebesar itu, dapat dipastikan uang tiga milyar lebih akan mengalir deras ke rumah-rumah produksi film Hollywood yang berhasil menghasilkan film-film box office. Sampai detik ini di seluruh penjuru dunia jutaan penonton terus saja masih menunggu film-film terbaru yang dihasilkan “negeri” para artis ini, untuk ditayangkan.
Demam hiburan ini juga melanda Indonesia. Di depan loket-loket penjualan tiket, anak-anak, orang tua, dan muda-mudi mengantri demi dapat melihat film-film yang digandrungi. Bahkan untuk film-film seperti Pirates of the Caribbean: At World’s End dan Spiderman 3 atau Naga Bonar dan Get Married, penonton terkadang harus menunggu beberapa minggu untuk mendapatkan tiket film-film itu. Ini menunjukkan rasa antusias terhadap film-film yang mampu menghibur memang begitu besar.
Sebegitu menariknya sebuah film hingga orang-orang rela berjejal-jejalan dalam antrean perburuan untuk tiket masuk bioskop. Film seakan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia modern saat ini. Dalam pergaulan, apalagi di komunitas-komunitas anak muda pada umumnya, menonton film di bioskop memiliki nilai gengsi yang tinggi. Seseorang akan merasa bangga bila dapat menonton film di gedung bioskop terkenal misalnya. Rasa prestise inilah yang setidaknya menjadi salah satu pemicu yang mengangkat tradisi menonton film, setidaknya ini berlaku di Indonesia. Meski demikian, faktor lain seperti hasrat akan hiburan, menghabiskan waktu bersama kekasih, dan bahkan pembelajaran juga memiliki arti penting dalam tradisi ini. Padahal jika kita lihat lebih seksama, pada umumnya dari sekian banyak film-film yang ada, alur yang digunakan tidaklah jauh bebeda. Bahkan terkadang bisa ditebak kejadian apa yang kira-kira akan terjadi di akhir cerita. Namun, demikian tetap saja film-film baru yang bermunculan tidak menjadi berkurang peminatnya.
Satu hal yang saya kira dapat menjadi pertimbangan mengapa satu film bisa menjadi begitu menarik. Manusia merasa memiliki ikatan emosional dengan proses berjalannya alur cerita sebuah film. Dengan adanya proses itu, penonton akan seperti masuk ke dalam dunia-dunia yang terasa pernah, sedang, dan akan dijalaninya. Film yang bagus akan mudah sekali membuat penikmatnya seakan memasuki adegan-adegan dalam film tersebut. Padahal lagi-lagi mereka mungkin tahu bahwa di akhir cerita peran-peran antagonis akan selalu dikalahkan sang pembawa kebaikan. Dalam trilogi Lord of The Ring misal, para penonton pasti tahu bahwa nantinya tokoh-tokoh seperti Sauron, sang Mata, dan para tentaranya akan dikalahkan oleh Gandalf, Aragon, dan para ksatria pembela kebenaran dalam film itu. Tapi karena orang cenderung melihat film karena proses alur bukan hasil akhir ceritanya maka orang akan lebih puas menonton satu film dengan mata kepalanya sendiri daripada sekedar mendengarkan ceritanya saja dari orang lain. Lika-liku alur cerita sebuah film akan semakin menarik bila bisa dapat membuat penontonya merasa terharu, senang, bahagia, sedih, takut dan berbagai macam ekspresi perasaan lainnya yang mampu dihasilkan. Di sinilah para sinieas di uji untuk membuat sebuah film yang mampu membangkitkan ikatan emosional pada diri setiap penonton film yang dihasilkan mereka. Tidak mudah namun dapat dilakukan. Buktinya sampai saat ini ribuan film yang mengesankan dapat dihadirkan, mengaduk-aduk perasaan para penggemarnya. Harry Potter, Naga Bonar, Aragon, Jack Sparrow, Shrek, Aladin, dan lain-lain sudah hampir seperti tokoh-tokoh yang benar-benar ada di sekitar kita dan kita merasa begitu mengenal mereka.
Namun sayangnya pemaknaan ini berbalik 180 derajad dengan kehidupan nyata yang kita jalani. Orang tidak lagi melihat bahwa sesuatu itu ada karena adanya sebuah proses. Proses yang terkadang tidak dapat terjadi begitu saja dengan cepat dan mudah. Apalagi jika melihat kondisi saat ini. Budaya hidup “instan” yang serba cepat dan mudah menjadi bagian yang dominan dalam hidup manusia-manusia modern. Proses yang serba merepotkan dan sulit dilakukan akan semakin ditinggalkan. Orang-orang masa kini tidak akan suka dengan proses dalam alur-alur cerita dalam mencapai sesuatu seperti halnya para ksatria-ksatria dunia fiksi melakukan hal itu. Mereka hanya mendambakan kemenangan dan kemenangan di akhir ceritanya.
Tentu itu bukan hal yang dimonopoli kesalahan saja. Bahkan dalam kategori tertentu proses cepat dan mudah memang harus diprioritaskan, ketika membuat KTP dan pelayanan umum untuk warga, tentu memang harus ada efisiensi waktu. Namun bila itu diterapkan ketika mengumpulkan harta, tentu masalah akan segera muncul. Saya pikir para koruptor yang masih saja mendarah daging di negeri ini hidup tanpa menghargai adanya sebuah proses. Dalam pikiran mereka yang ada mungkin hanyalah bagaimana saat ini memperoleh uang banyak. Saat ini dan saat ini, secepatnya. Mereka tidak mau berfikir bahwa uang banyak akan ada jika dikumpulkan sedikit demi sedikit dan dengan usaha yang keras.
Demikian pula bila seorang pelajar lupa akan sebuah proses. Karena tujuan utama belajar sekedar untuk sebuah gelar misal, tidak peduli jika gelar itu diperoleh dengan ratusan ribu sent uang dengan menyuap sana-sini. Akhirnya negeri inipun dipenuhi orang-orang bergelar minim pengetahuan.
Masih banyak sekali cara berkehidupan kita yang seringkali melupakan bahwa ada proses di dalamnya. Kita hidup saat ini, dari kemarin, dan untuk lusa. Dalam hidup bisa saja hasil yang kita inginkan tidak nampak seperti yang diinginkan. Namun hargailah usaha dan proses dalam pencapaian itu, pada diri kita sendiri dan orang lain. Menjadi manusia baru dengan menghargai proses!

3 thoughts on “Beda Film, Beda Realita

  1. Kalau berbicara film atau realita, apa yang jadi persoalannya ? bukan masalah realita kehidupan ? ini masalahnya masalah perut ? Gmn nggak, mayoritas masyrakat kita ini golongan kelas menengah ke bawah ? jangankan buat nonton film, buat makan aja susah ? itu baru realita kehidupan ? Kita lihat aja, film mimpi banyak bermunculan, yang malahan membuat masyarakat kita dimanja oleh mimpi. Hal inilah yang selalu menjadi pelarian bagi masyarakat kita ? Gimana ?

  2. Tapi kalau tidak dibuat mimpi ? Masyarakat kita malahan berpikiran yang nggak-nggak ? udah stress mikir duit, mikir kerja ? kalau nggak dibuat hiburan ya, malahan stress ? pantes kalau banyak kanibal makan kanibal ? ya nggak ? tolong dong kirim tanggapannya ?

  3. Tapi kita jangan lupa bahwa apa yang ingin kita capai, apa yang kita inginkan selalu melalui proses yang menyertainya. Kita sering lupa akan hal ini dan kerap kali mengambila jalan pintas dalam memperoleh keinginan..sekedar itu………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s