Mau Kita Apakan Pancasila?

Entahlah…sejak tinggal di Jakarta dan meninggalkan bangku sekolah menengah negeri dua setengah tahun yang lalu, saya menjadi begitu asing dengan yang namanya Pancasila. Dulu ketika masih sekolah, nama Pancasila selalu saja nampak di depan mata. Setiap hari Senin paling tidak pembina upacara membacakannya di dalam ritual upacara mingguan yang masuk kategori wajib pada waktu itu, entah sekarang. Selain itu, dari kelas satu hingga kelas tiga SMA, atau bahkan sejak saya SD, pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) atau sebelumnya dikenal dengan PMP (Pendidikan Moral Pancasila) selalu mengarahkan dan menekankan saya akan keberadaan dasar negara Indonesia ini. Namun sampai sekarangpun belum mengerti betul mengapa pada masa-masa itu saya masih belum mengenal Pancasila. Ada semacam rasa bahwa Pancasila adalah sekedar kumpulan tulisan yang digunakan sebagai pedoman moral bagi kami pada waktu itu. Sekedar tulisan, tak lebih. Mungkin karena proses pewarisannya yang bermasalah, atau juga mungkin pada dasarnya saya tidak membutuhkannya. Toh dalam ajaran-ajaran agama, atau norma-norma adat yang ada saya sudah diperkenalkan pandangan-pandangan hidup yang mungkin beberapa di antaranya mencangkup nilai-nilai yang ada pada Pancasila.

Setelah itu kini saya malah mempertanyakan keberaadaanya, tak sekedar meragukan sebagai pandangan hidup yang benar dapat dijadikan pedoman di tengah-tengah nilai-nilai yanga ada, tetapi sungguh-sungguh tentang keberadaanya. Masih ada tidak yang namanya Pancasila itu? Pancasila yang sejak zaman Bung Karno dan Pak Harto begitu menjadi bagian penting dalam detak jantung kehidupan negeri ini, paska reformasi seperti hilang ditelan bumi. Dan mungkin kini keberadaaanyapun hanya sekedar sebagai mitos masa lalu atau kenangan yang terpahat di batu-batu menjadi sebuah prasasti bersama-sama patung-patung pahlawan yang disertainya. Pancasila sepertinya memang benar-benar menghilang dalam kehidupan bangsa ini. Bisa saja ini karena gerusan berbagai macam budaya yang kini begitu deras datang dan membawa alam pikir pemuda-pemuda negeri, seperti saya ini. Atau memang sebenarnya sebagai pandangan hidup, Pancasila tidak memiliki dasar kuat untuk menjadi sebuah pedoman bangsa yang multikultur. Yang tentu memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang berbeda. Atau dengan asumsi lain, memang Pancasila tidak pernah benar-benar diperlukan oleh bangsa Indonesia yang sejak dulupun menyadari perbedaan yang ada dalam dirinya. Dan sebelum kehadiran Pancasila mereka tetap mampu bersatu padu membangun dan menyatukan negeri ini.

Jadi menurut saya ada dua asumsi penting di sini yang dapat dilihat pada keberadaan Pancasila. Pertama, sebagai sebuah hasil budi dan daya cipta manusia, Pancasila luntur karena tidak mampu menghadapi gerusan nilai-nilai dan budaya global yang kian hari kian menjadi. Proses ini diperparah oleh peran Orba yang menggunakannya sebagai alat “bungkam” dan obat penenang bagi bangsa ini, yang pada dasarnya adalah upaya represif Soeharto untuk tetap melanggengkan kuasa. Ini membuahkan sikap balik rasa pada diri kebanyakan rakyat Indonesia paska reformasi terhadap Pancasila. Pancasila paska reformasi benar-benar dibuang jauh-jauh dari kehidupan mereka. Dan sikap demikian lama-lama membuat Pancasila semakin menepi, mengasingkan diri, dan kemudian menghilang. Bangsa Indonesia tidak lagi mengenal, bahkan terlihat melupakannya karena paska reformasi, proses pembebasan diri benar-benar melepaskan manusia-manusia Indonesia pada ladang-ladang budaya-budaya baru yang diperlihatkan informasi, teknologi, dan globalisassi yang memberi mereka dunia kebebasan. Sedang Pancasila sudah dianggap uzur dengan kekunoannya yang tidak relevan bagi dunia posmo ini. Dengan segala keterbatasan dan kekangan-kekangan yang ada, Pancasila akan sangat mengganggu kebebasan itu. Selamat jalan Pancasila.

Asumsi kedua saya adalah bahwa memang Pancasila tidak memiliki dasar kuat yang dapat menjadikannya sebagai sebuah pedoman yang memiliki arti penting bagi bangsa ini. Pancasila dicipta bukan karena bangsa ini membutuhkannya. Pancasila adalah sebuah karya rekayasa genetika norma-norma dan nilai-nilai yang diuji coba di laboratorium Indonesia, yang kemudian diperlihatkan seolah sebagai juru selamat akan perbedaan ras, agama, suku bangsa dan golongan yang ada. Hanya sebatas itu fungsinya. Tak lebih. Jadi ketika hasil uji coba itu dirasa gagal, itu bukan masalah bagi bangsa ini, yang sejatinya memang memiliki norma-norma dan nilai-nilai untuk menertibkan diri mereka tanpa ada Pancasila sekalipun. Lagi-lagi selamat tinggal Pancasila.

Namun apakah hanya sebatas itu keberadaan Pancasila diposisikan. Saya rasa tidak. Yang perlu diingat dari dua asumsi itu adalah bagaimana Pancasila itu dilihat. Saya menggunakan dua asumsi itu karena melihat Pancasila dari sudut pandang bangsa ini secara keseluruhan. Akan beda efeknya bila kita asumsikan bahwa Pancasila adalah sebagai pedoman sebuah sistem kekuasaan untuk menerapkan kebijakan. Pancasila sebagai perpanjangan tangan rakyat Indonesia.

Kita sering lupa bahwa norma-norma dan nilai-nilai yang ada pada Pancasila memiliki daya yang setara dengan Undang-undang, bahkan lebih dari itu. Jadi Pancasila tidak hanya ada sebagai pedoman hidup bangsa tapi juga memang benar-benar legitimator kepentingan rakyat. Bahwa Pancasila harus digunakan sebagai payung hukum utama yang mambawahi hukum apapun yang ada di negeri ini. Pancasila sekali lagi payung hukum kepentingan rakyat Indonesia. Ketika pemerintah tidak melakukan tugas dengan semestinya, tidak memperhatikan hak rakyat misal yang otomatis melanggar sila-sila Pancasila, maka harus ada konsekuensi logis yang diterima pemerintah. Dengan begitu, Pancasila akan benar-benar memiliki arti penting. Sebagai payung hukum atau legitimator kepentingan rakyat. Dengan memposisikan Pancasila seperti ini saya kira bangsa ini tak akan rela melupakannya dan keberadaannyapun tidak akan mudah digoyang norma-norma dan nilai-nilai lain. Namun sayangnya kita tak mau memperlakukannya sebagaimana harusnya Pancasila diposisikan, seperti ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s