Memaknai Valantine dengan Baik, Kenapa Tidak?

Hampir selalu sama wacana yang beredar menjelang Valentine Day. Kalau tidak tentang cinta dan kasih sayang, wacana yang muncul dari tahun ke tahun adalah boleh tidaknya merayakan hari kasih sayang ini, terutama di kalangan umat Islam. Berita teranyar menjelang perayaan hari pesan cinta ini terdengar muncul dari dapur MUI, yang senang buat heboh dengan racikan-racikan fatwanya yang terasa pedas itu. Valentine Day is forbidden for our. Dengan alasan, peringatan hari ini yang biasanya oleh muda-mudi selalu dilakukan dengan acara hura-hura dan senang-senang.

Mungkin ada benarnya MUI mengeluarkan fatwa ini. Kerapkali acara muda-mudi ini memang diisi dengan acara yang terkesan negatif bahkan negatif. Bersenang-senang, minum-minum, party, bahkan dijadikan momen yang tepat untuk melakukan free sex. Sebagai orang tua yang memiliki anak-anak tentu para pembuat fatwa itu tidak ingin agar putra-putri mereka atau juga anak-anak orang lain terjerumus pada perbuatan macam itu. Mereka tentu ingin agar anak-anak itu memiliki moral yang baik sebaik orang tua mereka. Dan ketika melihat peringatan hari Valentin nampak selalu negatif, maka upaya yang dapat dilakukan adalah mengeluarkan fatwa haram untuk hari kasih sayang itu diperingati.

Entah ini langkah preventif atau sebuah blunder karena salah identifikasi masalah, tapi yang jelas MUI nampak suka-suka dengan fatwa itu. Terasa aneh sekali bila MUI yang notabene berkubang di ranah agama, mengeluarkan fatwanya untuk masalah sosial seperti ini. Tujuannya memang baik, tapi sayang tujuan itu menggunakan cara yang kurang tepat.

MUI mengalami phobia akut, yang setiap waktu mencurigai dan takut terhadap sesuatu yang tidak selalu memiliki dampak buruk. Hampir semua dilihat sebagai sebuah ancaman, dan dalam kasus ini, MUI sudah keterlaluan. Dari fatwa haram inilah saya kira MUI telah melakukan kesalahan besar, paling tidak telah mengajarkan pada kita dan anak-anak kita untuk belajar meng­-cut segala sesuatu yang tidak disetujui. Ini memiliki efek yang lebih berbahaya dibandingkan fatwa haram itu sendiri, dan efek itu tidak akan nampak langsung saat ini.

Ini tidak mendidik, benar-benar tidak mendidik! Bukan berarti saya menyetujui bahwa perayaan Valentine harus dilakukan dengan acara suka-suka dan hura-hura, bahkan saya tidak mau melakukan itu. Toh demikian saya tetap menjadikan hari ini sebagai sesuatu yang bermakna. Karena pesan kasih, cinta, dan damainya yang saya tangkap.

Orang bisa berkata bahwa, kenapa harus menunggu hari valentine untuk menunjukkan kasih sayang? Kasih sayang kan dapat diungkapkan setiap saat, mengapa mesti menggunakan hari Valentin segala, (kayak orang kafir aja beberapa orang bilang)?

Saya pernah membaca sedikit sejarah Valentine, yang pada dasarnya merupakan hari peringatan kematian St. Valentine. Memang ini tradisi dari Barat yang pada dasarnya asing bagi kita di Indonesia, apalagi untuk umat Islam. Namun, pesan moralnya begitu kuat, dan lagi-lagi pertanyaan saya muncul. Mengapa MUI harus mengeluarkan fatwa haramnya? Meskipun yang dimaksud MUI mungkin kebiasan yang sering dilakukan oleh anak-anak muda yang kebablasan itu.

Padahal dengan menggunakan kacamata Islam sekalipun, saya melihat bahwa peringatan Valentine Day bila diarahkan pada hal yang baik, tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Kita boleh belajar dari siapapun, bahkan dari semutpun kita dapat belajar. Kita memaknai hari ini bukan sekedar ikut-ikutan, namun memaknai pesan damai yang dibawanya. Saya yakin ini akan lebih memiliki nilai kebaikan yang lebih, dari pada sekedar umpat-mengumpat dan saling mencurigai.

Manusia kadang pelupa dan terkadang tidak menghargai apa yang biasa ia lakukan, oleh karenanya manusia menciptakan momen-momen dalam hidupnya. Yang tentu tidak setiap saat dan setiap hari momen itu dirayakan. Momen itu memiliki nilai lebih karena sekali dalam setahun dirayakan misal, seperti lebaran lah. Akan sulit sekali membayangkan bahwa setiap saat, setiap waktu manusia dapat menjadikannya sesuatu yang berarti, dalam batasan lingkup kebersamaan tentunya. Memperingati Valentine tanggal 14 Februari, berarti merayakan bersama satu momen yang dilakukan secara bersama pula.

Mengharamkan hari Valentine berarti menciptakan generasi-generasi penuh curiga dan hidup dikungkung phobia. Membaikkan pola fakir dengan membuka ruang untuk orang lain bersama dalam hati berwicara mencari kebaikan diri.

2 thoughts on “Memaknai Valantine dengan Baik, Kenapa Tidak?

  1. Saya rasa anda betul untuk menelusuri sejarah hari valentine & apa
    yang saudara paparkan adalah benar,begitulah sejarahnya hari Va-
    lentine.Saya salut & berterimakasih pada anda yang sudah menje-
    laskannya. Tapi sayang banyak orang yang tidak tahu sejarah hari
    Valentine,mengatakannya dengan pikiran yang salah/negatif sebab
    mereka mencari informasi dari sumber yang keliru.Nah,termasuk di
    dalamnya adalah MUI yang betul-betul tidak tahu sejarah hari Va –
    lentine,melalui salah seorang pengurusnya (Qurais Sihab) mengata –
    kan bahwa hari Valentine sebagai hari berzinahnya orang-orang
    yang bukan mukrimnya.Nah,dengan berdasarkan tinjauan seperti
    ini,mereka lalu menyampaikan Fatwa bahwa Hari Valentine haram
    hukumnya bagi umat Islam untuk merayakannya.Saya sangat me –
    nyayangkan sikap dari MUI itu, sebab dari sumber informasi sejarah
    nya sudah salah ,apalagi nanti hasil putusannya(Fatwa).Saya kuwatir
    nanti penilaian orang banyak juga akan salah alias keliru.Mereka a-
    kan dengan sangat tendensius berpikiran Negatif alias Fikiran Kotor
    (FIKTOR) tentang perayaan hari Valentine .Saya harap warga Indo –
    nesia lebih dewasa berpikirnya tentang hal ini ,dari pada sikap & pikiran MUI sendiri.Menurut saya orang lain pun boleh merayakan
    hari Valentine tidak ada paksaan,mau rayakan atau tidak itukan Hak
    semua orang,sebab Hari Kasih Sayang (Valentine) bermakna UNI –
    VERSAL,tidak harus kita memberikan kasih sayang/perhatian kepa –
    da orang istimewa(pacar/kekasih) saja,tetapi kasih sayang & perha-
    tian dapat kita berikan pada semua orang,terlebih-lebih orang mis-
    kin atau orang papa agar mereka dapat menikmati hidupnya secara
    manusiawi sehingga mereka pun dapat menabur benih-benih KASIH
    ke seluruh dunia & dapat membangun dunia ini ke arah yang lebih
    baik dengan tanpa adanya pikiran/sikap kebencian seperti sikap
    MUI ini. Jadilah manusia dengan sikap seutuhnya (manusiawi) ,bukan
    dengan sikap binatang,sebab binatang tidak mengenal kemanu –
    siaan dan kedewasaan dalam berpikir.Itulah komentar saya ,bagi
    saudara yang membaca tulisan ini dan tidak suka dengan apa yang
    saya tulis mohon bersikaplah secara arif & bijaksana (dewasa), se –
    bab anda kan Manusia bukan BINATANG!!!!!!!!!!!????????
    SELAMAT HARI VALANTINE/having Valantine Day

    Jika anda ingin kontak saya :
    email : boedy_p77@yahoo.com

  2. Maaf sebenarnya anda yang tidak setuju fatwa mui ini berdasarkan ilmu agama atau sekedar angan_angan anda aja? Memang hidup dunia indah, tapi kematian itu pasti terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s