Lupakan Nasionalisme Indonesia

Begitu susahnya hidup sebagai warga Indonesia, apalagi bagi mereka yang hidup di perbatasan dengan negeri orang yang notabene kondisinya lebih baik dibanding negeri sendiri seperti Malaysia. Orang-orang yang tinggal di perbatasan kerap kali mengalami masalah dalam diri mereka. Paling tidak nasionalisme mereka menjadi beban moral tersendiri yang harus dipikul nurani. Di satu sisi mereka terlahir dan hidup di Indonesia, di sisi lain, karena perhatian negeri sendiri kurang, mereka harus rela menipu diri untuk sekedar mengisi perut dengan sesuap nasi.

Sebagai orang Jawa atau paling tidak orang yang tinggal di Jawa, yang mendapat perhatian dan perlakuan lebih dari pemerintah, tentu saya akan mempertanyakan sikap mereka. Patutkah seorang anak negeri menghianati tana leluhurnya? Kembali sebagai orang Jawa yang mendapat perlakuan lebih dari pemerintah saya akan menjawabnya itu tidak patut, sebuah tindakan tidak terpuji it. “Harusnya seorang anak negeri harus mengabdi dan berbakti pada negerinya tercinta. Perbuatan haram jika mengabdikan diri pada negeri asing yang kerap mengganggu negeri sendiri” lagi-lagi lidah Jawa ini berucap.

Dengan kacamata atau persepektif mereka yang tinggal di perbatasan tentu jawaban itu tidak perlu berlaku dan akan sangat berbeda motifnya. Mereka yang tinggal di perbatasan tidaklah mudah hidup dengan mengarapkan uluran tangan pemerintah sendiri. Pemerintah terlalu sentralis dalam kebijakan, semuanya untuk Jawa, berpusat di Jakarta, mana tahu mereka soal penderitaan orang-orang yang hidup di pinggiran kawasan negeri. Daripada menunggu uluran tangan dari pemerintah yang tidak kunjung datang, mending melakukan aksi menyeberang ke negeri orang mencari makan. Buat apa rasa nasionalisme, jika nasionalisme itu memberangus kehidupan anak negeri. Nasionalisme pada negeri sendiri harus dikorbankan untuk menyambung hidup yang hampir mati. Jika memang benar isu tentang sebagian pasukan Askar Wataniah adalah WNI yang hidup auh dari berkecukupan di negeri sendiri, maka nasionalisme memang tidak diperlukan lagi. Menjadi tentara untuk negeri asing tidaklah salah, karena hidup harus terus berjalan dan itu tidak dapat berlangsung bila sekedar mengharapkan janji-janji dan mimpi-mimpi dari negeri sendiri. Mereka tidak dapat dipersalahkan, bahkan itu sinyal bahwa mereka memang harus serius diperhatikan.

Mereka yang menderita, mereka yang tidak diperhatikan kebijakan pemerintah layak mengabaikan kontrak sosial dengan negeri mereka. Lupakan yang namanya nasionalisme jika memang negeri yang melahirkan semangatnya itu tidak lagi memberi kehidupan. Kontrak sosila itu telah dipotong sendiri oleh kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada rakyat. Setiap warga negara yang telah melakukan kewajiban-kewajibannya dan tidak memperoleh hak-haknya, maka ia berhak memilih jalan terbaik untuk hidupnya. Menyambung hidup dan menjadi warga negara di negeri orang. Lupakan nasionalisme…sekali lagi lupakan nasionalisme pada negeri yang menghianati anak kandung mereka sendiri. Negeri yang menginginkan warganya patuh dan setia di haribaannya, namun tidak memperhatikan hak-hak anak-anak yang dilahirkannya.

Sebuah kasus kecil yang dibesar-besarkan. Sebuah cerita kecil “penghianatan” anak negeri yang sebenarnya sah-sah saja dilakukan. Ini hanya sebuah cerita kecil yang ada pada kisah-kisah orang terpinggirkan, orang-orang yang jarang sekali diperhatikan.

Setitik kisah yang dibesarkan-besarkan karena mereka dirasa menghianati negeri sendiri. Tapi bukankan para pembuat kebijakan negeri ini yang memulai cerita kecil ini. Bukankah para pembuat kebijakan itu yang tiap hari berbicara tentang nasionalisme tetapi tetap saja mereka lupa bahwa merekalah penghianat yang sebenarnya. Bukan lagi taraf menjual diri mereka sendiri, penghianatan terbesar mereka ada dengan menjual negeri ini sekaligus kedaulatan yang ada di dalamnya sebagai sebuah negeri. Lupakan nasionalisme. Nasionalisme sekedar fantasi semu yang dicipta penguasa untuk mengikat rakyat jelata. Delusipun akhirnya tercipta, dan untunglah mereka yang ada jauh di perbatasan dengan negeri asingitu sadar delusi itu merusak kehidupan mereka. Mereka pada dasarnya tersadar penuh akan hak-hak mereka sebagai warga negara Indonesia tercinta. Kalian berhak ucapkan selamat tinggal nasionalisme untuk Indonesia. Kalian berhak hidup layak, ingat di manapun kalian berpijak di situlah kaliah berhak memperoleh apa yang kalian pinta. Di bumi manusia.

One thought on “Lupakan Nasionalisme Indonesia

  1. mampir dah bang…!!

    kOiL :
    :::> nasionalisme adalah tempat tinggal yang kita bela
    nasionalisme untuk negara ini adalah pertanyaan
    nasionalisme untuk negara ini menuju kehancuran
    nasionalisme menuntun bangsa kami menuju kehancuran

    selengkapnya….!

    salam hangat selalu….!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s