Selamat Jalan Mayor

Mayor Alfredo Alves Reinado telah tewas beberapa waktu lalu. Peluru-peluru dari moncong senjata anak buah Ramos Horta menembus tengkoraknya. Tubuh tegapnya yang masih mengenakan seragam tentara berlumuran darah. Isak tangis mengiring jenazahnya di rumah duka tempat kelahirannya. Tanah “panas” Timor Leste hari itu menyambut salah seorang putranya. Selamat jalan mayor!

Untuk ke sekian kalinya saya harus mengucapkan kata sakral itu, yang kini saya persembahkan untuk Sang Mayor, setelah sebelumnya terucap mengiringi kepergian Jenderal Besar Soeharto. Beda tempat, beda waktu, dan pangkat tidak menyurutkan saya untuk salut pada dua orang ini. Dua tokoh dengan dua karakter yang hampir sama. Untuk catatan awal…mereka adalah orang besar!

Jenderal Besar Soeharto, meninggalkan dunia awal bulan ini, menyisakan ribuan kisah, kasus, dan misteri yang banyak sekali belum tersentuh. Kisah kepahlawanan, kasus korupsinya, dan misteri kekuasaannya, begitu banyak yang belum diungkap. Kalaupun diungkap sepertinya hanya kulitan luarnya….bahkan kulit arinya saja mungkin. Berkenaan dengan kasus korupsinya dan misteri kekuasaannya begitu hebat tokoh ini menyimpan rahasianya…yang mungkin malaikat dan setan sekalipun sulit mencatatnya. Begitulah beliau…..orang yang begitu luar biasa…begitu bisa merubah wajah Indonesia. Dia tetap orang besar!

Mayor Alfredo Alves Reinado, seorang bekas tentara yang membelot karena kesewenangan penguasa yang membebastugaskan dia dan teman-temannya. Bersama rekan-rekan seperjuangan yang terpinggirkan ia menepi ke gunung-gunng Timor Leste. Sesekali turun ke kota melakukan membuat letupan perlawanan menuntut hak mereka yang dirampas dan dipermainkan orang-orang berkuasa. Semangatnya menggelora sampai ke ujung-ujung negeri yang belum lama merdeka. Anak-anak muda Timor leste akan segan bila mendengar namanya, Sang Mayor dari tanah Dili.

Di pagi hari di pertengahan bulan Februari di sebuah pertempuran sengit yang nampak sengaja dibiarkan terjadi, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Peluru tentara penjaga Ramos Horta mengenai keningnya, ia meninggal seketika. Sedangkan anak buahnya, masuk ke dalam rumah memburu Sang Presiden, dan menembak punggungnya. Pagi bersejarah, pagi berdarah Timor Leste. Tiga puluh menit atai dua menit setelah peristiwa itu, centeng-centeng PBB datang ke tempat kejadian perkara. Mayat-mayat, para tentara, dan pecahan kaca yang tersisa, serta tubuh bersimbah darah Ramos Horta.

Sang Jenderal dan Sang Mayor! Keduanya orang besar..! Patut dicatat dalam buku sejarah….Hitam atau putih, tersera kita hendak mencatatnya. Dua orang hidup dengan motif kuasa! Yang tentu memiliki cerita yang berbeda….Selamat jalan orang besar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s