Topeng Hitam Wajah Indonesia

Moral menjadi bagian terpenting dalam keprihatinan negeri ini. Bangsa Indonesia mengalami demoralisi yang begitu serius. Moral adalah bagian terpenting untuk mencapai tujuan bangsa ini. Jika moral manusia-manusia Indonesia tetap amburadul, jangan harap ada perubaan di negeri ini.

Complex demoralization ini jika dibiarkan akan menjadi bom atom yang mengancam keberlangsungan hidup bangsa. Demoralisasi yang mengakar hingga jauh ke dalam tubuh bangsa menjadikan negara ini mati. Tidak mati fisik, tetapi mati jiwanya. Meskipun pada akhirnya akan termbunuh juga fisik bangsa ini. Demoralisasi ini tidak hanya menjamah ranah ekonomi, sosial, budaya, dan politik saja, tetapi dunia hukumpun di Indonesia tak luput jadi mangsanya.

Kalau demoralisasi ini menjamah keempat bidang selain bidang hukum, mungkin saja ini bisa “dimaafkan”. Tetapi realita menunjukkan bahwa hukum di Indonesiapun telah teracuni. Hukum menjadi sebuah permainan. Lihat saja di tepi-tepi jalan ibukota, transaksi-transaksi ilegal sering dilakukan. Demi sebuah kebebasan, pengendara sepeda motor yang melanggar lalu lintas harus mengeluarkan uang sekian ribu. Salam tempel dijadikan juru selamat dan juru pengisi saku.

Tak hanya itu, transaksi-transaksi inipun sering kita dapati dalam rapat wakil rakyat di Senayan, di ruang-ruang gelap kejaksaan dan kehakiman, di kantor perpajakan, di kantor kepolisian, di gudang pangan, di kantor-kantor departemen pemerintahan, dan tentunya masih banyak lagi tempat-tempat lainnya, pos Kampling mungkin juga..

Inilah panggung sandiwara Indonesia. Macam-macam intrik dimainkan di sana-sini. Dari penipuan kelas teri sampai kelas paus. Semua mengalir begitu saja dan mengisi setiap bagian tubuh bangsa ini. Retorika-retorika diciptakan. Cerita-cerita menarik dibubuhkan. Muka-muka manis dipampang. Topeng-topeng keindahan digunakan. Semua dilakukan demi satu tujuan, “keuntungan”.

Satu sama lain mencari kata-kata tipuan dan rayuan. Satu berkata “jumlahnya dua ribu, pak!”, yang lain berkata “benar sekali pak, jumlahnya dua ribu”, padahal jumlahnya hanya ratusan. Aksi tutup-menutupi, aksi bagi membagi dan saling melindungi menjadi lumrah dalam negeri kacau-balau ini. Lagi-lagi semua demi keuntungan.

Satu sama lain mencari-cari celah. Memunculkan isu-isu “penting”. Menjadikan yang biasa menjadi genting. Menjadikan yang penting menjadi biasa. Inilah bangsa Indonesia yang melupakan moral dan norma-norma. Benar bisa dikatakan salah, salah dikatakan benar. Kecurangan dijadikan teman, kejujuran dijadikan lawan.

Bagai tanaman, Indonesia adalah pohon yang penuh benalu. Benalu-benalu ini satu sama lain terhubung, membentuk simulasi-simulasi pendukung. Pengusaha menyiapkan dana, politisi merubah suasana, para pejabat sebagai juru bicara dan penegak hukumnya diam berjaga, entah apa yang dijaga.

Dengan begitu kloplah simulasi ini. Rakyat menjadi diam. Ilusi-ilusi kecil membuat mereka dipenuhi kekaguman. Janji-janji penguasa membumbungkan harapan akan indahnya masa depan. Rakyat terlanjur terpukau. Mereka begitu terlampau takjub dengan kesempurnaan simulasi-simulasi buatan. Mereka tidak bergerak. Mereka diliputi mimpi-mimpi. Kaki mereka terlalu lama dipasung. Gerak mereka terlalu lama dikekang. Yah, begitulah yang tinggal hanya kepasrahan dan “keceriaan”.

Segala kesenangan dan kenikmatan di atas kepedihan, penderitaan, dan tangisan saudara sebangsa mudah saja dilakukan. Aku kaya maka aku ada!

Wacana menghidupkan gagasan perbaikan moral seperti sebuah usaha utopian. Bagaimana tidak? Melihat kondisi bangsa saat ini tentunya kebanyakan orang angkat bahu karena merasa tidak mampu. Ini tugas yang begitu berat.

Untuk mengubah sifat orang dari buruk menjadi baik, tidaklah semudah mengucapkan kata-kata. Perlu upaya yang sungguh-sungguh agar upaya ini tercapai. Minimal dari diri sendiri usaha ini dilakukan.

Moralitas akan muncul apabila pribadi yang bersangkutan memperoleh kesadarannya. Kritik, nasehat, cercaan, bahkan tindakan represive hanya dapat merubah luarnya saja, bukan menggugah hati terdalam mereka.

Inti dari permasalahan moral ini sebenarnya terletak pada sejauh mana tindakan individu ini berpengaruh pada lingkungannya. Dengan kata lain, tindakan-tindakan individu yang mengarah pada dasariah individualitasnya bukanlah masalah yang perlu diperhatikan dalam tataran ini. Dalam konteks kekeluargaan, kemasyarakatan, dan kenegaraan setiap individu harus mengesampingkan individualitasnya. Individu muncul dalam bentuk jaringan-jaringan yang terhubung. Implikasi yang muncul dari sini adalah tanggungjawab sosial.

Jadi dengan begitu setiap individu-individu akan dibebani tanggungjawab moral terhadap yang lain. Namun, saat ini tanggung jawab moral ini telah dalam terbenam dalam lumpur individualitas. Sehingga, hampir semua tindakan-tindakan yang dilakukan bangsa Indonesia mengacu pada kepentingan pribadinya.

Lalu bagaimana memunculkan tanggungjawab ini? Jawabannya kembali pada hukum negara ini. Dengan mengatakan bahwa tanggungjawab akan muncul melalui hukum bukan berarti penulis mengabaikan kesadaran moral itu sendiri. Di sini penulis melihat bahwa untuk memunculkan kesadaran moral, diperlukanlah sebuah penggugah. Kesadaran ini akan muncul dari sebuah kebiasaan. Jika seseorang sudah terbiasa melakukan tugasnya dengan baik, maka dengan sendirinya ia telah menghidupkan tanggungjawab sosialnya. Dan untuk memunculkan kebiasaan ini hukum yang tegas sangatlah diperlukan. Itupun tergantung kesungguhan bangsa ini untuk merealisasikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s