Individualitas kita

Untuk ke sekian kalinya saya memiliki teman baru melalui jaringan dunia maya. Acara ber-chating ria yang mengisi waktu luang pada kegiatan saya, mengaitkan satu hubungan perkawanan saya pada seorang kawan baru. Meski tidak tahu secara persis seperti apa rupanya dan dia, saya mempercayai bahwa ia orang baik. Dan saya pikir rasa percaya itu penting, semangat positif yang disemai pada akhirnya juga akan membawa sesuatu yang positif juga, demikianlah saya belajar untuk melihat hal positif pada hal-hal yang masih nampak abu-abu. Toh untuk tahu seseorang itu baik apa buruk dapat dilihat dalam proses perkawanan itu terjadi.

Nampak dari caranya menunjukkan sikap dan berbicara menjadikan saya semakin percaya bahwa memang dia orang baik. Selalu mengingatkan saya pada perbuatan baik, mana yang dilarang, mana yang dianjurkan, dan mana yang diperintahkan agama. Sejauh ini interaksi saya dengan dia baik. “Nampak begitu shaleh wanita ini.” Guman saya. Benar-benar mentaati perintah agama teman saya satu ini. Ketika waktu shalat, minta izin dia meninggalkan percakapan kami untuk melakukan hal ini, sambil mengingatkan saya yang rada males beribadah ini untuk melakukan hal yang sama. Ketika dia membuka percakapan kami, ucapan salam selalu muncul di layar monitor komputer saya, selalu mengiringi pembicaraan kami di dunia virtual.

Saya cukup kagum dengan sikap dirinya yang dikatakan pada saya, bahwa antara laki-laki dan perempuan ketika menjalin hubungan harus ada jarak agar tidak bersentuhan. Yang namanya pacaran baginya nampak seperti hubungan batin yang mendalam, bukan mengutamakan sentuhan fisik seperti model pacaran zaman sekarang.

Luar biasa teman saya yang satu ini. Bukannya apa-apa saya mengatakan dia luar biasa. Dia orangnya sibuk, dengan jam kantor yang padat, dan kerap mondar-mandir keliling Indonesia. Dengan mobilitas seperti ini dia tahan untuk menjaga martabatnya sebagai wanita shalehah. Jarang-jarang saya menemukan orang seperti ini sekarang ini, apalagi di Jakarta. Yang haram bisa jadi halal kalau di Ibokota ini, sentuhan tangan bukan soal bagi muda-mudi yang pacaran, la…wong yang lainnya saja biasa kok apalagi cuma sentuhan tangan. Dan hal seperti ini ditabuin sekali oleh teman baru saya ini.

Terakhir kali chating dengan dia terjadi empat hari yang lalu, ketika dia ingin mengatakan sesuatu pada saya. Semacam curhat gitu. Katanya, teman dia punya masalah serius dengan seorang cewek yang baru dikenal. Pada waktu itu memang ia bercerita bahwa ia memiliki seorang teman cowok yang sedang meminta pendapatnya dia tentang hubungan dengan cewek itu. Sang cowok ini katanya dirayu temen ceweknya untuk ngelakuin hal-hal asusila. Temen saya ini nampaknya marah benar ketika temennya tadi melakukan tindakan begituan dengan wanita yang baru dikenalnya itu. Dia marah bukan karena tindakan temennya itu yang mau saja dirayu cewek tadi. Dia marah karena dia berfikir kok ada wanita rendahan macam itu yang dengan seenaknya menjerumuskan temannya pada perbuatan yang dilarang agama. “Jijik aku padanya mas” Katanya padaku.

Dia melanjutkan obrolan kami itu dengan bertanya pendapatku tentang wanita seperti itu. Aku jawab, itu hal yang biasa terjadi di sekitar kita, di kanan dan kiri kita orang-orang seperti itu selalu ada. Dan saya menyuruhnya untuk menganggap itu sebagai hal yang wajar, tak usah mengumpat ini-itu pada wanita tadi, aku merasa kasihan saja pada kemalangan wanita itu soalnya, ini zaman yang sulit untuk menjadi orang benar apalagi di kota besar seperti Jakarta, dan tetap jaga diri, hari-hari ke depan akan semakin banyak godaan-godaan. Kemarahannya nampak cukup mereda, meski tetap saja dia masih merasa kesal pada wanita itu karena telah menjerumuskan temannya. Akhirnya saya bilang, agar dia tidak terlalu dalam memendam kebencian pada wanita tadi, toh teman dia juga telah menyatakan penyesalannya dan berjanji tidak melakukannya lagi, saya takut kebenciannya tadi berbalik arah menyerang dirinya. Begitulah hidup.

Kebencian teman saya ini membuat saya bertanya-tanya tentang kepedulian kita pada orang-orang di sekitar kita. Ternyata setelah saya amati, termasuk pada diri saya sendiri, rasa peduli itu ada ketika satu hal itu erat berhubungan dengan kita. Seperti teman saya tadi, dia marah ketika temannya dijerumuskan oleh seorang wanita. Dan saya lihat kita sering melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakuakan teman saya tadi. Rasa peduli itu muncul ketika ada kaitannya dengan kita.

Menjadi sosok seorang yang memiliki kepedulian, ternyata dilandaskan pada motif-motif pribadi kita. Karena teman dekat yang selalu membantu saya, karena dia kekasih saya, karena dia kakak saya, karena dia saudara saya, karena orang tua saya, maka saya menjadi peduli pada persoalan mereka. Semua sebab yang memunculkan motif kepedulian saya.

Dan fenomena kepedulian yang berlandaskan motif ini juga berlaku bagi para pejabat kita. Lebih parahnya lagi, motif yang ada pada umumnya adalah untung dan rugi. Negara menjadi ajang bisnis yang dilihat sebagai wahana pencari untung bagi diri sendiri. Bekerja bila menguntungkan. Saya jadi teringat akan ucapan seorang anggota dewan yang menanggapi penerimaan uang lelah merancang undang-undang yang akan diterima anggota dewan sebesar satu juta per undang-undang. Dia mengatakan sudah seharusnya anggota dewan menerima uang tersebut, uang senilai beberapa puluh juta yang menurutnya masih kecil untuk anggota dewan. Padahal kalau dilihat banyak sekali dana yang dikeluarkan negara untuk menggaji orang-orang malas itu, masih saja mereka merasa kekurangan. Uang tunjangan ini, uang makan, uang perjalanan, dan berbagai uang untuk membiayai kegiatan mereka, sedangkan orang-orang lain jauh dari gedung parlemen masih banyak yang makan nasi aking karena tidak berduit. Negara menjadi ajang mengeruk untung.

Lupakan soal para pencari untung itu, kembali pada rasa peduli kita. Saya kemudian berfikir bahwa memang kita terlalu individualis. Dari perkataan-perkataan teman saya yang marah karena temannya dijerumuskan, satu pertanyaan lagi muncul kenapa dia baru marah ketika temannya yang tertimpa masalah itu. Menurut saya tidak asinglah pemandangan peristiwa semacam itu yang ia saksikan. Bukankah hal macam ini dapat pula kita saksikan di layar kaca kita, yang kerap kali menampilkan acara mesra-mesraan antara dua anak manusia? Ternyata kita tidak lagi menjadi peduli dengan moral orang-orang di sekitar kita karena yang melakukan itu bukan siapa-siapa kita. Kita tidak pernah sungguh-sungguh menjadi manusia yang memiliki kepedulian terhadap sesama. Kita menjadi manusia yang peduli karena adanya motif-motif pribadi kita. Dan itu sering tidak kita sadari.

Bahayanya lagi jika motif pribadi itu menjadikan orang lain atau bahkan sebuah negeri menjadi merugi. Dan lagi-lagi kita sering tidak menyadari hal itu. Kapan kita menjadi orang-orang yang benar-benar memiliki kepedulian. Kepedulian yang kita miliki saat ini dengan motif pribadi itu sering menutup dan mengunci pintu diri pada rasa peduli pada orang-orang atau sesetu yang tidak memunculkan motif pribadi kita. Motif pribadi perlu, namun juga dapat diabaikan demi motif kepentingan orang banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s