Tentang Discursus

Diskursus sebagai sebuah anantomi politik sepertinya menemukan bentuk berbeda dengan il Prince. Latar yang berbeda, membuat distingsi dalam dua buku ini begitu nampak. Buku yang pertama—il Prince—benar-benar menekankan cara dan memperoleh kekuasaan dengan segala tindakan, sedangkan Discursus meskipun tujuan yang ingin dicapapai sama, namun cara yang dipakai dalam buku yang kedua ini nampak lebih manusiawi dan bermoral. Lagi-lagi itu karena konteksnya yang berbeda. Jika il Prince dilatar belakangi oleh kondisi Italia yang kacau balau, Discursus dilatar belakangi oleh tatapan pemikiran Machiavelli di masa depan, ketika kondisi mulai damai dan elemen negara sedikit menemukan kedewasaannya.

Discursus banyak membahas wacana negara ideal dengan romantisme masa lalu yang begitu kental. Sebut saja Roma, imperium ini menjadi prototip pemikiran politik Machiavelli untuk menunjukkan bentuk negara ideal yang diinginkannya. Roma yang dimaksud di sini adalah Roma yang telah menjadi Republik–sekitar tahun 509 SM. Begitu hebatnya Roma saat itu, hingga tokoh politik ini mengelu-elukan negara ini. Menurut Machiavelli, Roma berhasil mengatur negaranya setidaknya karena negara ini merubah dirinya menjadi republik. Dan nampak telah ada kedewasaan pada setiap substansi yang ada dalam negara, baik rakyat, penjalan roda pemerintahan, dan militer. Sekali lagi ini karena itu republik.

Kenapa harus republik? Apa sistem yang lain semisal aristokrat, demokrasi, dan principality (kepangeranan, kerajaan) tak cukup baik untuk dijadikan background satu negara?

Kenapa bentuk pemerintahan yang direkomendasikan oleh Machiavelli adalah republik, hal itu dikarenakan republik dapat mengcover apa yang menjadi kelemahan tiga sistem di atas. Ketiga bentuk pemerintahan di atas memiliki kelemahan yang sangat fatal bila hal itu terus diterapkan—satu persatu. Kelemahan itu menurut Machiavelli terletak pada penguasaan dalam sistem itu sendiri. Aristokrasi yang dipimpin oleh beberapa orang pada nantinya akan menemukan bentuknya menjadi sebuah sistem oligarki. Kemudian, sistem demokrasipun pada akhirnya akan dengan mudah menjadi sebuah bentuk pemerintahan yang anarkhi, dikarenakan yang memerintah begitu banyaknya. Sedangkan, sistem kepangeranan, demikian gampangnya dapat berubah menjadi tirani. Karena hal inilah, kenapa ketiga bentuk pemerintahan ini tidak sesuai untuk membentuk negara yang adil dan sejahtera.

Di atas dikatakan bahwa republik dapat mengatasi kelemahan dalam ketiga sistem lainnya. Hal ini tak lepas dari pembagian kekuasaan negara yang digunakan oleh sistem ini. Pembagian kekuasaan yang dikatakan Machiavelli lebih cenderung kembali melihat pembagian kekuasaan yang adal di Roma. Pembagian itu terdiri dari, Dewan Penasihat (senatus), pemegang kekuasaan (konsul), dan lembaga lain seperti Dewan Daerah (comitio curiata) dan Dewan pertahanan (comitio centuriata). Pembagian kekuasaan inilah yang dapat membawa pada penjagaan ketertiban.

Korelasi ketertiban dan pembagian kekuasaan itu terletak pada mekanisme yang menampilkan cek and balance di dalam negara. Cek and balance itu ada pada dua substansi utama, yaitu antara senat dan konsul, sedang bagian yang lain menjadi tambahan saja. Perimbangan kekuasaan itu terjadi karena masing-masing (senat dan konsul) memiliki hak veto yang dapat menentukan satu kebijakan itu disetujui atau tidak.

Namun yang perlu diperhatikan dalam sistem republik ini adalah sistem ini tak dapat berdiri tegak tanpa adanya upaya menjunjung tinggi kepentingan rakyat. Dua pemegang kekuasaan di atas harus berupaya sebaik mungkin untuk membuat satu kebijakan yang didasarkan pada kepentingan rakyat. Inilah kenapa republik dapat menjadi satu sistem yang dapat mengcover kelemahan bentuk pemerintahan lainnya.

 

Catatan akhir;

Melihat pemikiran Machiavelli hanya dari sudut Il Prince akan membawa pembaca pada bentuk absolutisitas kekuasaan dalam pikiran, dan itu jelas membawa pada satu teori amoral yang pernah ada, meskipun di situ satu tujuan yang baik (dengan melihat kembali situasi Italia pada masa Machiavelli. Agar ada perbaikan persepsi dan pandangan politik Machiavelli hendaklah Discursus dijadikan jalan lain dalam memahami pemikiran politikus ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s