Berlomba-lomba Menuju Surga Kita

Orang-orang Islam yang menjadikan al-Qur’an dan Sunah Rasul sebagai pegangan hidupnya adalah mereka yang bersedia menghormati dan mau hidup damai dengan orang lain di sekitarnya, meski berbeda agama dan madzab atau golongan. Orang-orang yang demikianlah yang sesungguhnya mengamalkan pesan-pesan suci Islam yang tersurat dalam al-Qur’an dan Sunnah. Demikianlah kira-kira intisari perkataan Kang Jalal, Zuhairi Misrawi, dan Albertus Patty dalam acara bedah buku “al-Qur’an Kitab Toleransi: Insklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme” di Audiotorium Universitas Paramadina, Jum’at kemarin.

Zuhairi Misrawi penulis buku ini berkesempatan berbicara paling awal. Intelek muda NU ini (tertulis di sampul bukunya) menyatakan bahwa sejak dulu pada zaman Nabi, pluralisme dan toleransi adalah hal-hal yang wajar ada. Nabi sebagai juru bicara Tuhan di bumi telah memberi contoh konkrit bagaimana umat Islam seharusnya membina hubungan dengan orang-orang yang beda iman dengan mereka. Nabi memperlakukan semua golongan dengan baik dalam sistem masyarakat yang beliau bangun, di Makah maupun Madinah. Baik orang Islam sendiri maupun mereka yang beragama Nasrani dan Yahudi, ataupun orang-orang yang masih mempertahankan paganisme mereka. Orang yang akrab dipanggil Gus Miz ini mempertajam argumennya dengan satu hadis yang meriwayatkan tentang perlakuan Nabi pada orang-orang Nasrani Bani Najran—delegasi ini dipimpin oleh Abdul Masih, Abu al-Harit bin Alqamah, dan Ibnu al-Harit—yang bertamu pada beliau di kala Ahad sore menjelang. Diriwayatkan bahwa pada saat itu orang-orang Nasrani dari Bani Najran seperti biasa di hari Minggu hendak melakukan kebaktian, dan meminta izin pada Nabi untuk melakukan hal itu. Namun Nabi meminta mereka beribadah di Masjid saja, tempat Nabi menjamu mereka sebagai tamu yang datang pada beliau.

Satu contoh yang jelas sangat berbeda dengan kondisi pola hubungan antar umat beragama yang ada sekarang ini. Beberapa waktu lalu kita mendengar dan membaca berita-berita yang tidak sejalan dengan teladan yang diberikan Nabi Muhammad SAW. Kerusuhan atas nama agama marak terjadi, meski ada indikasi ada faktor lain yang menyebabkan hal itu. Dari kasus kerusuhan intern umat beragama, seperti penyerangan beberapa orang pada masjid Ahmadiyah di Kuningan atau juga masalah pendirian gereja yang mendapat penentangan dari umat Islam di satu daerah. Dan masalah seperti ini tentu bagi umat Islam adalah hal yang ahistoris dan meninggalkan teladan Nabi junjungan mereka.

Pembicara berikut dalam acara itu adalah Jalaludin Rahmat. Kali itu, tokoh satu ini memang memposisikan diri sebagai pembedah buku al-Qur’an Kitab Toleransi. Memulai pembicaraannya dengan serangkaian joke-joke yang menjadi ciri khasnya. Di antaranya menanggapi perkataan “Wapres” Republik Mimpi, Jarwo Kwat, yang beberapa saat sebelumnya menyindir saat Kang Jalal memainkan HP-nya ketika Sang Wapres memberikan sambutan. Dan Kang Jalal menanggapinya dengan mengatakan bahwa ia memainkan HP bukan dalam rangka ber-SMS ria, namun mencatat apa yang dikatakan Gus Miz dan catatan penting dari buku yang telah dibaca dan akan dibedahnya itu. Dalam membedah karya Gus Miz itu, Kang Jalan mengkritik beberapa bagian dari buku itu, terutama metode hermeneutiknya. Gus Miz telah bagus meramu buku ini dengan pendekatan ini, namun menurut Kang Jalal hal itu masih belum diperdalam lagi. Selain itu menurut Kang Jalal akan lebih bagus jika buku dengan tebal 600-an halaman ini, dibuat edisi tipisnya, agar pesan ini efektif tersebar di masyarakat.

Untuk selanjutnya Kang Jalal mulai memaparkan isi buku ini, dan menyatakan keheranannya pada umat Islam yang lebih cenderung intoleran. Padahal berdasarkan buku karya Gus Miz ini, mengatakan bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang dapat ditafsirkan sebagai dalil toleran itu lebih banyak dari pada ayat-ayat yang dapat ditafsirkan sebagai ayat-ayat intoleran, perbandingannya 2:1. Dengan jumlah, untuk ayat-ayat toleran kurang lebih 300-an ayat, sedangkan ayat-ayat intoleran berkisar 150-an ayat. Dari sini seharusnya umat Islam menjadi umat yang toleran, namun kenyataannya tidak begitu.

Kemudian berkenaan dengan polemik siapa yang masuk surga, Kang Jalal menegaskan bahwa tidak hanya umat Islam saja yang berhak masuk surga, umat Kristen dan Yahudi bahkan semua anak cucu Adampun berhak masuk surga. Ia mendasarkan ini pada, ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin, dan Orang, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal shaleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (Q.S. al-Maidah:69). Jadi siapapun itu jika memiliki kriteria seperti ini, ia berhak masuk surga Sang Khalik yang Maha Kasih lagi Maha Sayang. Semua anak Adam berkesempatan memperoleh tempat indah itu.

Pembicara terakhir dalam acara itu berasal dari perwakilan umat Kristen Protestan, Romo Albertus Patty. Dalam kesempatan itu Romo Albert mengatakan bahwa ia melihat bahwa setiap agama pada dasarnya memiliki masalah intern dan ekstern yang sama berkenaan dengan intoleransi. Geliat intoleransi tidak hanya dimonopoli umat Islam saja, atau satu agama tertentu saja. Baik dalam Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, dan dalam agama lainnyapun menghadapi persoalan yang hampir sama. Kecenderungan intoleransi untuk dipraktekkan oleh penganut agama selalu saja ada. Romo yang satu ini memberikan contoh kasusu beredarnya film berdurasi pendek yang baru-baru ini muncul, Fitna, karya seorang politikus sayap kanan Belanda, Geert Wilders. Sebagai seorang penganut salah satu agama, apa yang dilakukan oleo Geert adalah tindakan intoleran. Dia bukan orang Islam, bahkan dia menentang Islam dengan meluncurkan film buatannnya itu di Liveleak.com. Dan memang lagi-lagi tindakan intoleran dapat dilakukan oleh siapa saja dari agama manapun. Tidak merasa risau bila dikatakan bahwa agama yang dianut adalah intoleran, toh memang setiap umat agama memiliki kecenderungan ke sana. Namun, dari sini yang harus dijadikan catatan pentingnya adalah bagaiman menumbuhkan semangat toleransi dalam ajaran agama-agama itu. Ayat-ayat dari kitab suci masing-masing yang ditafsirkan sebagai legitimator untuk melakukan tindakan intoleransi harus dicover dengan ayat-ayat yang toleran. Dan buku al-Qur’an Kitab Toleransi membuka pintu itu.

Hidup damai berdampingan dengan perbedaan yang dimiliki adalah cita tertinggi yang manusia sebagai hamba Tuhan yang Maha Kasih Maha Sayang. Mari berlomba-lomba melakukan kebaikan dalam kehidupan fana yang singkat ini untuk mencapai kasih Tuhan. Hidupkan semangat persaudaraan dengan toleransi dalam pluralisitas yang ada dalam masyarakat yang mengayomi kita sebagai individu-individu beragama. Berlomba-lomba menuju surga yang dijanjikan Tuhan pada kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s