Mari Mengenal Orang dengan Baik

Tayangan yang ditampilkan film berdurasi pendek asal Belanda melalui situs LiveLeak.com, Fitna, memang cukup menjadi polemik yang cukup dalam. Terutama bagi kalangan umat Islam garis keras yang menjadi sasaran kritik film tersebut, jika film itu mau dikatakan sebagai sebuah kritik bagi orang-orang Islam “garis keras” tentunya. Film dengan durasi 15 menit ini oleh pembuatnya, Geert Wilders (seorang politisi sayap kanan di Belanda), dibuat untuk mengecam tindakan-tindakan orang-orang Islam garis keras yang sampai kini masih terus menteror Barat. Mungkin Geert gerah ketika melihat, hasil-hasil perbuatan muslim garis keras yang berkali-kali membuat gempar dunia. Hancurnya menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika setelah digempur dua pesawat penumpang, American Airlines Penerbangan 11 dan United Airlines Penerbangan 175, kemudian pengeboman oleh orang-orang yang mengaku tergabung dalam jaringan Al-Qaeda di Madrid dan di London, itu semua yang nampak memberinya inspirasi untuk membuat film tersebut. Termasuk teror-teror yang kian tak mau berhenti, juga menjadi alasan mendasar mengapa politikus ini rela bermain-main dengan dunia film.

Film ini tentu membuat komunitas Islam dan kebanyakan negara-negara di seluruh penjuru dunia gerah, serta mengecam film tersebut, termasuk pemerintahan Belanda sendiri. Di Belanda sendiri terjadi aksi demonstrasi terkait dengan film ini pada hari Sabtu, para demonstran memprotes tindakan kurang baik yang dilakukan oleh Geert yang mereka nilai mencoreng nama baik Belanda. Di tempat lain masih di kawasan Eropa, Presiden Uni Eropa, yang kini dipegang Slovenia, mengecam film ini dengan menyatakan bahwa apa yang dibuat Geert ini adalah pemantik kebencian yang harus segera dihentikan penayangannya. Inggris melalui Menteri Luar Negerinya juga menyayangkan film buatan Geert itu, ia menyatakan bahwa apa yang disampaikan Geert bahwa orang harus memiliki kebebasannya itu benar, namun juga harus diperhatikan bahwa kebebasan itu dikombinasikan dengan penghormatan atas nama agama dan kebebasan orang lain yang membatasinya. Selain muncul dari negara-negara kawasan Eropa, kecaman terhadap film tersebut juga muncul di Asia, Iran melalui Menlunya meminta dengan tegas agar pemerintahan segera menghentikan penyebaran film tersebut. Sedangkan Indonesia, tidak menampakkan kencaman formal seperti yang dilakukan negara-negara lain karena melalui Duta Besarnya Belanda terlebih dahulu meminta maaf pada seluruh umat Islam di dunia dan di Indonesia atas kemunculan Indonesia. Dan menegaskan bahwa film tersebut tidak presentatif mewakili Belanda kala menemui salah satu tokoh organisasi Islam di Jakarta kemarin.

Dalam film tersebut Geert tidaklah membuat satu film utuh dengan satu alur dan bagian yang sama. Film ini hanyalah berintikan fragmen-fragmen dari peristiwa-peristiwa terkait dengan aktivitas gerakan Islam garis keras, yang dimulai dengan peristiwa Pengeboman gedung Kembar WTC, 11 September 2001 dan beberapa pengeboman di kota-kota di Eropa, ditambah gambar kartun yang pernah dimuat di media masa Denmark Jylland Posten, dan diselingi beberapa poster dan slogan-slogan yang biasanya digunakan orang-orang Islam garis keras. Dan secara garis besar film ini menggambarkan bahwa Islam yang diajarkan Muhammad adalah agama yang mengajarkan kekerasan pada umatnya, dan oleh Geert secara implisit dikatakan bahwa jika ingin mewujudkan kebebasan di dunia, maka haruslah disingkirkan dahulu rintangan yang ada di jalan kebebasan itu, dan Islamlah yang menurut Geert menjadi batu besar yang menghalangi jalan kebebasan yang didambanya dan kebebasan manusia pada umumnya.

Ada hal menarik dengan adanya kemunculan film semacam ini, termasuk juga karikatur-karikatur yang dimunculkan beberapa surat kabar dan majalah yang ada di Eropa. Karikatur di surat kabar Jylland Posten, Denmark, dan juga dalam majalan Anikes Allehanda Swedia yang memunculkan karikatur Muhammad beberapa bulan yang lalu. Dari hal-hal semacam ini, dapat dilihat bahwa ada kesadaran muncul pada diri orang-orang Barat mengenai keberadaan orang-orang di luar komunitas mereka, baik sebagai orang-orang dengan peradaban maju, maupun sebagai para penganut sebuah agama. Mereka mulai sadar, bahwa ada orang-orang yang berbeda dengan mereka, terutama orang Islam yang memiliki sejarah hitam dengan Barat melalui perang Salib beberapa abad yang lalu, dan komunitas di luar mereka itu eksis. Cara melihat Barat ketika melihat orang-orang selain mereka kian berubah. Orang-orang di sekitar mereka kian lama tidak lagi menjadi asing dari, untuk, dan dalam dunia mereka. Mereka kini adalah bagian dari keseharian dalam kehidupan yang mereka jalani. Meskipun sampai saat inipun, dalam melihat orang Islam tetap saja kebanyakan orang-orang Barat memandangnya dengan sesuatu lain yang dapat menimbulkan ekses negatif bagi mereka. Dan itu berangsur-amgsur mulai menurun, karena melalui film-film seperti ini jalan pengenalan ke arah yang lebih intens semakin terbuka. Meskipun tidak disangkal pula ada beberapak kalangan mengindar dan masuk ke dalam dunia mereka masing-masing untuk tidak melakukan upaya saling kenal itu. Namun, pada umumnya baik Barat maupun Islam, kini mulai mencoba saling mengenal, bukan lagi sebagai musuh warisan dari era kegelapan, namun upaya pengenalan diri untuk saling menerima dan hidup berdampingan sebagai sesama umat manusia penghuni bumi tercinta, dan mungkin nanti juga di Surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s