Melampaui Kuasa Tuhan

Berita tentang Ahmadiyah kembali terdengar. Bukan tentang kerusuhan, penyerangan oleh sekelompok orang, pelemparan batu ke masjid, atau pembakaran rumah jamaah Ahmadiyah seperti biasa yang pernah terjadi di Kuningan atau Majalengka, Jawa Barat, berita ini beredar. Lebih dari itu, satu cara yang lebih halus tanpa kekerasan namun akan fatal akibat yang diterima oleh Jamaah Ahmadiyah Indonesia, maupun pada emosi umat muslim lainnya mengisi kolom-kolom berita beberapa media cetak maupun elektronik. “Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) yang terdiri perwakilan dari Departemen Agama (Depag), Kejagung, Mabes Polri, Badan Intelijen Negara (BIN), Depdagri, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melarang segala bentuk kegiatan aliran Jamaat Ahmadiyah Indonesia.” (Tempo Interaktif, 16/04/08).

Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dinilai sesat karena tidak konsisten dengan dua belas pernyataan mereka sebelumnya. Dan mungkin karena merasa disepelekan oleh JAI Bakorpakem akhirnya mengeluarkan fatwa ini. Jamaat Ahmadiyah diharuskan diam dari segala macam bentuk kegiatan ritual, ibadah, dakwah, dan semua kegiatan yang biasa mereka lakukan. Setiap orang yang menjadi pengikut, atau penganut ajaran Mirza Ghulam Ahmad ini bahkan mungkin kalau bisa jangan menyebut diri mereka sebagai bagian Jamaat Ahmadiyah.

Tanpa sadar ada kesewenang-wenangan muncul. Bukan persoalan Ahmadiyah sesat atau tidak, tetapi ini persoalan kepercayaan dan dan keyakinan yang bersifat privat, baik bagi pengikut Mirza Ghulam Ahmad sebagai individu maupun kelompok. Kedzaliman telah dilakukan pihak-pihak terkait terhadap satu kelompok minoritas di negeri ini. Satu kedzaliman yang dapat dari dilihat baik dari sudut kacamata hukum Tuhan maupun hukum negara. Bakor Pakem telah melakukan kejahatan privat atas nama agama dan kepercayaan.

Di dalam ajaran Islam ditegaskan bahwa persoalan keyakinan dan persoalan kepercayaan orang, kembalinya pada pola hubungan antara manusia dengan Tuhannya, bukan pola hubungan antara manusia dengan manusia. Segala bentuk kesalahan atau lebih sering disebut kesesatan adalah persoalan antara setiap individu dengan Tuhannya. Bukan seperti yang nampak di Indonesia kali ini, masalah peribadatan atau ritual ibadah yang dilakukan oleh sekelompok orang bisa ditangani sebegitu mudahnya, bisa dilabeli seenaknya oleh orang-orang yang merasa memiliki otoritas pada hal itu. Ironi kebertuhanan sebagian manusia Indonesia.

Dan dalam Undang-Udang Dasar, yang hampir semua orang Indonesia tahu isinya, di situ ada jaminan untuk beragama dan berkeyakinan sesuai ajaran dan keyakinan masing-masing. Sudah begitu jelas hal itu tercantum dalam pasal 29 UUD’45, namun tetap saja diabaikan dalam prakteknya. Lagi-lagi sebuah ironi terjadi pada diri sebagian manusia Indonesia. Ada beberapa kasus yang sebenarnya tidak perlu ditangani secara serius model kasus Ahmadiyah ini, tetapi oleh orang-orang yang memiliki otoritas hal ini dilakukan. Padahal masih banyak masalah yang harus dihandle oleh lembaga semacam MUI yang mungkin mendatangkan maslahat, seperti mengeluarkan fatwa haram miskin bagi umat Islam di Indonesia misalnya, tetapi ini bahkan hampir tidak disentuh sama sekali. Dari sini saya berkesimpulan bahwa bangsa ini lebih sering salah mendiagnosa permasalah yang dihadapinya daripada ketepatannya dalam melihat dan menangani masalah-masalah itu. Mana yang penting dan mana yang harus difokuskan lebih sering dibolak-balikkan dengan hal-hal yang tidak penting diurusi oleh otoritas yang bersangkutan. Kembali pada UUD’45 yang begitu jelas memuat hak untuk bebas menganut dan meyakini satu ajaran, lagi-lagi saya simpulkan bahwa implementasi pasal ini memang sangat tidak relevan sama sekali dengan apa yang ada saat ini, bahkan bertolak belakang.

Baik sebagai makhluk Tuhan, maupun sebagai warga atau juga aparat negara kita lebih sering melalaikan aturan-aturan itu. Aturan seakan dibuat untuk dilanggar. Satu ketidakdewasaan sebagai pemeluk agama maupun sebagai warga negara menjadi jatidiri sebagian manusia, terutama muslim, Indonesia. Kapan Indonesia dapat menjadi damai, satu agama dengan agama yang lain akur, satu golongan dengan golongan yang lain hidup rukun, saling menolong, mengikat persaudaraan meski berbeda, saling menghargai, dan menjadi satu diri sebagai bangsa Indonesia? Sayangnya kecenderungan kita adalah kecenderungan untuk saling menjatuhkan satu sama lain, dan ketika melihat ini kembali Indonesiapun tak akan dama-damai saya kira.

Pembelajaran diperlukan untuk menyemai mentalitas-mentalitas kerdil untuk tumbuh menjadi jiwa-jiwa yang kokoh dan besar sebagai makhluk Tuhan maupun warga negara.

Melihat keindahan langit tak harus melihat langit biru dengan satu matahari. Lihatlah juga langit gelap yang dihiasai bulan dan berjuta bintang sebagai keindahan lain yang juga harus dinikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s