Konsistensi Pluralisme Damai

Pluralisme berarti menegaskan konsistensi diri tanpa meniadakan orang, kelompok dan agama lain. Pluralisme merupakan sebuah keniscayaan, karena saya ingin hidup, dan harus membiarkan orang lain tetap hidup dan tetap bertahan.

Dalam agama Islam telah ada prinsip-prinsip seperti lâ ikrâha fi al-dîn (tidak ada paksaan dalam beragama). Ketika dîn (agama) ternyata berbeda-beda, maka lakum dînukum waliyadîn (bagimulah agamamu dan bagikulah agamaku).

Itu adalah konsistensi, dan itulah pluralisme. Kalau ada kesamaan dalam agama, namun berbeda dalam tafsirnya, maka rujukannya, lanâ a`mâlunâ wa lakum a`mâlukum (bagi kami amal perbuatan kami, dan bagi kamu amal perbuatan kamu). Itu merupakan konsep-konsep yang membiarkan orang lain sebagaimana yang dia pilih.

Konflik-konflik yang terjadi di tanah air sepanjang sejarah Indonesia yang sebenarnya dikait-kaitkan dengan baju agama agar menjadi lebih absah. Meski persoalannya hanya lebih pada perebutan resources (sumber-sumber). Karena resources-nya semakin terbatas, dan banyaknya yang merebutkan, maka akan membuat orang menjadi mengancam orang lain, dan membikin orang lain menjadi merasa terancam.

Solusinya adalah bagaimana kita duduk bersama menyepakati sebuah aturan main, agar resources yang terbatas ini bisa di-share bersama agar lebih adil. Inilah jaminan pluralisme. Pluralisme tidak bisa diindoktrinkan begitu saja. Yaitu, harus ada landasan sosial dan materialnya agar orang tidak mengancam dan merasa terancam.

Ada norma-norma agama yang dapat disebut golden etic (etika emas). Etika ini sangat penting untuk saling melindungi dan mengayomi orang lain, bukan sebaliknya mengancam orang lain. Kalau kesepakatan yang normatif ini bisa diacu dan kita bisa hidup sebagai sesama manusia dengan martabat dan human dignity bersama sebagai satu fitrah, mungkin kondisi-kondisi orang merasa terancam dan mengancam bisa dikurangi.

Memang dalam agama ada kecenderungan truth claim (klaim kebenaran). Dalam konteks Islam, sudah ada rujukannya, juga dalam konsep-konsep para ulama sehingga mesti diturunkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari.

Salam,

Masdar F. Mas’udi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s