Menyinari Ruang Batin Wanita

Tidak dipungkiri lagi Kartini adalah seorang emansipatoris dunia wanita Indonesia. Di zaman yang mengukung gerak wanita, ia terus berjuang atas nama kebebasan kaum hawa. Kartinilah yang dengan kekiniannya mendobrak kekolotan dan kekakuan adat dan tradisi yang mengerdilkan peran wanita. Dengan semangat pembaruan ia mencoba melepaskan wanita dari kekangan adat dan tradisi itu. Ia ingin semua wanita Jawa atau Indonesia pada umumnya dapat menikmati kebebasan. Kebebasan fisik dan mental yang pada masa itu hanya menjadi angan bagi wanita kebanyakan. Ia berjuang dan terus berjuang demi mengangkat harkat dan martabat kaumnya.

Namun sayang, perjuangan wanita selesai pada usianya yang keduapuluh lima. Tanggal 13 September 1904 istri Bupati Rembang ini wafat, setelah melahirkan seorang anak laki-laki. Ia dimakamkan di Mantingan, sebuah kecamatan di selatan Rembang, berbatasan dengan Blora.

Meskipun wafat di usia yang masih muda, melalui surat-suratnya, semangat emansipasi Kartini masih menggema hingga saat ini. Dan oleh JH Abendanon —sahabat penanya— kumpulan surat itu dibukukan menjadi sebuah buku dengan judul “Door Duisternis Tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang). Di buku inilah ide dan buah pikir Kartini terkristalkan. Cita-cita, harapan, kritikan, kekecewaan, dan kegelisahan sebagai wanita yang hidup dalam dunia yang bercorak patrilineal “sempit” tergambar jelas dalam buku ini.

Kartini muda sosok yang penuh dengan ide-ide reformis. Dengan kacamata masyarakat Eropa ia membayangkan persamaan antara laki-laki dan perempuan. Di zaman ketika Jawa masih berselimutkan kekunoan wanita, Kartini telah bertukar ide dengan sahabat-sahabatnya dari Belanda yang notabene lebih modern. Dari sahabat-sahabatnya inilah ia memperoleh semangat pencerahan. Ia berharap kaum perempuan dapat menjadi subjek kehidupan. Tidak hanya melulu menjadi objek.

Menurut Kartini salah satu cara untuk menjadikan wanita sebagai subjek adalah melalui pendidikan. Pendidikan yang memadai menjadikan kaum wanita memiliki daya saing dengan laki-laki, dengan kualitas intelektual yang sama dengan mereka kalau bisa, atau bahkan melebihi. Dengan dasar itu, Kartini berharap wanita dapat memunculkan segala potensinya dalam keluarganya.

Wanita menurut Kartini harus memiliki bekal memadai menuju dunia keluarga. Arti penting seorang ibu dalam keluarga dijadikan alasan utama oleh kartini untuk menyuarakan persamaan hak antara pria dan wanita. Wanita harus dapat memberdayakan keluarganya. Dan pertanyaan yang selalu menghantui benak Kartini muda adalah “Bagaimana seorang ibu dapat memberdayakan keluarganya dengan baik, jika ia sendiri tak mampu mengaktualkan dirinya sendiri?” Maka diperlukanlah pendidikan.

Memasuki Posmodernisme

Posmodern berperan aktif dalam perkembangan gerakan emansipasi wanita. Teknologi sebagai salah satu product era posmo telah begitu dahsyatnya merubah relasi antara laki-laki dan wanita. Sejalan dengan apa yang dikatakan Yasraf Amir Piliang, dalam Posrealitas, “Peran teknologi terutama cybernetic, cyborg, nuno-teknology, micro-teknology, dan bio-teknology telah merubah relasi konvensional antara laki-laki dan perempuan. Di sini relasi konvensional (peran biologis, organ, perbedaan seks, vouyeurisme, dan objek hasrat) digantikan dengan relasi yang ditandai dengan perubahan peran wanita. Segala keterbatasan wanita di atasi (sifat lemah, lembut, pasif, irasional, emosional).”

Perkembangan teknologi yang begitu pesat membawa dampak ekstrim bagi dunia feminis. Teknologi berkembang dengan membawa peluang dan kesempatan bagi kaum wanita untuk beremansipasi. Perubahan-perubahan peranpun disusun. Peran-peran wanita dalam ranah sosial kemasyarakatan semakin menampakkan dirinya. Di pabrik, di toko-toko, di mal-mal, di pekantoran, dan hampir di seluruh sudut kota maupun desa, wanita semakin aktif memerani karakter yang dahulu ditabukan.

Dengan begitu, semakin nampak nyata gerak kaum feminis. Gerak wanita telah melampaui apa yang menjadi kodrat kewanitaannya. Wanita semakin nampak menjiwai karakter kemaskulinan. Inilah penampakan dunia feminis era posmodernisme.

Mengembalikan Peran Wanita dalam Keluarga

Keinginan terbesar R.A Kartini adalah menjadikan wanita Indonesia berpendidikan. Pendidikan akan memberikan kontribusi besar pada wanita untuk mengatur keluarganya.

Keluarga bagi Kartini merupakan titik-tolak tumbuh kembang individu. Di sini individu mulai belajar, mengenali, dan menganalisa dunia. Peran wanita dalam keluarga begitu penting. Tidak diragukan lagi peran sentral wanita dalam keluarga. Wanita yang menjadi ibu akan menurunkan karakter, ilmu, dan gerak-gerak alam yang ia miliki, atau mungkin hanya sekedar memberi gambaran kepada anaknya tentang dunia. Sehingga anak dapat membedakan baik-buruk, indah-tak indah, semua berawal dari ibu.

Dan yang menjadi begitu penting, seorang ibu begitu besar berpeluang membentuk karakter anak, meskipun ini tak mutlak. Namun, dari sisi kedekatan, ibulah satu-satunya orang yang secara psikologis memiliki ikatan kuat dengan anaknya. Seorang wanita juga memberikan kontribusi yang tidak tergantikan dalam keluarga selain urusan anak. Seorang wanita yang berkeluarga harus pandai-pandai mengatur rumah (dalam artian fisik maupun non fisik) untuk menjaga keutuhan rumahnya itu. Jika ia lengah, atau tak cerdas dalam memanage rumahnya, tentunya disharmoni dalam keluarga akan muncul.

Peran wanita dalam keluarga begitu urgent, namun tetap saja banyak wanita yang lebih mementingkan dunia luar ketimbang keluarga. Keluarga nomor dua, dan kerjaan tetap menjadi prioritas utama wanita masa kini.

Akan ketinggalan zaman jika seorang wanita lebih mementingkan keluarga. Dan memang begitulah posmodernisme membawa dualisme dalam dunia feminis. Di satu sisi ia membawa wanita ke dalam sebuah dunia yang equal antara perempuan dan laki-laki. Di sisi yang lain posmodernisme membawa wanita dalam perangkap kemandirian total.

Posmodernisme membawa wanita dalam dunia baru yang sama sekali asing. Dunia yang memberikan keindahan dan kenikmatan semu. Dunia ini dicipta seolah menjadi bagian hidup yang penting bagi seorang wanita. Simulasi-simulasi dipadatkan untuk memperoleh perhatian wanita. Kesibukan-kesibukan baru pun bermunculan. Dan di akhir cerita muncullah kehancuran sebuah generasi penerus karena minimnya pengarahan, perhatian, dan tentu kasih sayang.

“Wanita telah meninggalkan tempatnya yang begitu nyaman, demi sebuah dunia yang ia belum mengenalnya sama sekali.” Yasraf Amir Piliang.

Menerawang masa depan demi sebuah generasi yang berkualitas tentu tidak ada salahnya, jika kita sama-sama merenung tentang arti penting wanita dalam keluarga. Dengan semangat Kartini semoga setiap wanita ingat kembali peran penting mereka dalam kehidupan. Peran penting yang menjadi garis hidup mereka. Mendidik, membesarkan, dan menumbuh-kembangkan generasi penuh percaya diri.

Wanita tidak harus kembali dalam pelukan keluarga yang penuh paksaan dan pingitan, tetapi wanita juga tidak harus tenggelam dalam dunia barunya. Menjauhkan keluarga dari sentuhan hangat kasih tangan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s