Ke Monas Siang Ini

Pukul  Sebelas siang tepat,  aku telah tiba di Jalan raya Kalibata. Naik Angkot no. 16 jurusan Pasar Minggu turun di depan Plaza Kalibata, menuju Stasiun untuk naik kereta arah Kota. Seribu rupiah aku keluarkan dari saku, kutukar dengan karcis kereta yang sebentar kemudian akan membawaku menelusuri pemandangan dalam kota seribu bangunan, Jakarta. Cukup dengan seribu, yah…seribu rupiah aku dapat menikmati perjalanan yang nampak akan terasa cukup lama  aku lalui. Harga sebuah perjalanan yang sebenarnya agak membuatku heran. Dengan nilai rupiah yang cukup kecil begini, kerap aku mendengar banyak sekali penumpang gelap yang menyelinap menikmati perjalanan yang dipandu PT. KA Indonesia ini. Heran sungguh aku heran dengan perilaku para penikmat gelap perjalanan ini, yang karena mereka beberapa aturan dan sanksi yang terkadang agak aneh harus dikeluarkan PT. KA. Penyemprotan dengan air berwarna pada mereka yang ketahuan ketahuan membeli tiket atau naik ke atap merupakan aturan dan sanksi terakhir kali  yang sempat aku dengar melalui berita di TV. Aturan dan sanksi aneh untuk mengendalikan orang-orang yang aneh  pula.

Satu hal menarik yang terekam dalam memoriku, sejenak sebelum membeli tiket kereta yang murah itu, adalah pemandangan di salah satu sudut Stasiun Kalibata yang agak berbeda. Satu area di sebelah tempat penjualan karcis Timur,  tepatnya di pintu masuk timur stasiun, telah nampak kosong melompong. Padahal tempat ini, sebelumnya diisi oleh beberapa toko dan tempat cukur rambut. Toko pedagang kacamata, make up, pakaian, dan dua toko pedagang minyak wangi yang selalu aku ingat karena tiap kali lewat situ selalu aku menghirup aroma wewangi yang membantu saya melepas kejenuhan dan kebosanan pada aroma sumpek Jakarta. Akupun tak lupa dengan tempat sang pencukur rambut mangkal, kaca memenuhi ruangan yang kira-kira berukuran 2X3 meter itu. Dan setiap aku lewat situ, dari Monas misalnya, aku akan selalu menyempatkan diri untuk menoleh ke kanan memperhatikan sejenak wajah diri yang telah nampak kusut.

Kini aku tak akan lagi mencium aroma wangi itu di situ, pula aku tak dapat memandang wajah kusut di kaca si Tukang Cukur. Tempat itu kini kosong melompong, meninggalkan puing-puing bangunan yang telah habis diratakan. Aku tak tahu pasti apa yang menjadikan hal itu begitu, asumsiku memberikan penjelasan bahwa PT. K.A. telah menggusur mereka. Entah dengan cara-cara biasa seperti peristiwa penggusuran pedagang yang biasa terjadi di Jakarta, atau dengan jalan damai, aku tak tahu itu. Yang jelas, saat pulang nanti, aku tidak akan menikmati indahnya ritual rutin yang biasa aku jalani ketika melewati tempat itu.

Aku telah duduk selama lima menit di bangku besi stasiun sebelum KRL yang aku tunggu datang. Di dalam stasiun pun nampak terasa lengang. Para penjual yang biasanya mengisi tempat tunggu di stasiun ini nampaknya juga bernasib sama dengan para pedagang dan tukang cukur rambut di Pintu Masuk Timur tadi. Hanya beberapa pedagang buah dengan keranjang yang memenuhi bagian tengah tempat tunggu, di mana aku berada. Itupun sepertinya bukan dengan maksud berdagang di situ. Aku lihat mereka juga menunggu kereta sepertiku.

Keretapun datang dengan menurunkan beberapa orang di stasiun ini. Agak lega terasa ketika aku telah masuk di salah satu gerbongnya. Tumben aku pikir, mungkin karena ini akhir pekan makanya sebagian besar penumpang yang biasanya memenuhi gerbong-gerbong kereta ekonomi jurusan Bogor-Kota ini tidak terlihat batang hidung mereka. Aku dapat berdiri dengan leluasa, suasana agak nyaman di dalam kereta kali ini. Di tambah alunan nyanyian pengamen jalanan melantunkan lagu Bang Iwan, dengan petikan bass “Mata Cantik Bola Pimpong” sebagai pembukanya, begitu nyamannya di kereta terasa. Belum habis pemuda-pemuda penuh bakat itu menyelesaikan lagu mereka, di stasiun Cawang, aku mendapatkan tempat duduk, memberi nuansa yang lebih pada perjalanan kali ini. Cukup beruntung aku di kereta hari ini, keleluasaan, hiburan dan pemandangan ruang gerbong kereta yang tanpa hiasan plastik bekas makanan menyertai perjalananku. 

Ada satu hal lain dari biasa yang terjadi kali ini. Satu ritual yang biasanya aku lakukan dalam setiap perjalanan kini tidak kulakukan. Aku tidak tidur dalam perjalanan kali ini. Satu hal di luar kebiasaan memang. Di kereta mataku telah terlalu asik dengan keramaian di sekeliling dan pemandangan luar yang aku lewati, rasa kantuk seperti enggan menyertai. Pedagang rokok, pedagang tahu Sumedang, pedagang buah jeruk, minuman, gulali, dan beberapa pedagang mainan bergonta-ganti lewat di depanku. Mataku begitu asik memperhatikan orang-orang itu, para pekerja keras aku berguman dalam hati untuk mereka, sambil bertanya-tanya kapan pemerintah mau memperhatikan mereka, dan juga kapan kemiskinan ini menyerah menjangkiti Jakarta. Aku hanya dapat bertanya tentang itu kini.

Di stasiun Gambir, bangunan megah Monas (Monumen Nasional) terlihat begitu dekat. Cukup banyak orang yang ada di sana. Sebentar lagipun aku akan sampai di sana. Setelah turun di Stasiun Juanda tentunya. Kereta perlahan melewati kawasan Monas, membantuku melihat seksama tugu besar yang ada di depanku. Tiga sisinya nampak di mataku seiring putaran roda kereta dari Gambir sampai Juanda. Sebelum kereta memasuki peron stasiun Juanda, pandanganku pada tugu ini telah terhalang tembok setinggi sekitar dua meter di kiri lintasan kereta. Aku segera turun ketika kereta belum benar-benar menghentikan lajunya. Kuturuni tangga eskalator yang beralih fungsi kembali menjadi tangga biasa, menuju gerbang yang dijaga petugas pemerikas tiket. Kuserahkan tiketku pada satu di antara beberapa petugas itu. Aku berlalu meninggalkan mereka dan kembali menuruni eskalator yang juga sama telah menjadi tangga biasa. Besi-besinyapun berkarat dengan permukaan penuh debu. Para tukang ojek menyambut kami para penumpang yang baru saja turun, tepat di depat tangga mereka menawarkan jasa pada kami. Aku melenggang ke kiri tangga, menyusuri pertokoan yang ada di kawasan stasiun.

Stasiun Juanda aku tinggalkan, perjalanan berlanjut kembali ke Taman Monas, yang tadi aku cermati waktu masih di Kereta. Berjalan aku menyusuri jalan di samping masjid Istiqlal, cukup jauh namun tidak menguras tenaga. Dari jalan ini aku menyebrangi jalan raya lingkar yang melingkari taman Monas. Gerbang Utara Taman Monas seakan menyambutku meski nampak terasa tak ramah, karena pintu utamanya masih terkunci rapat. Dari jauh aku lihat taman bunga mengitari Tugu Monas, nampak indah, dengan perpaduan dominan warna hijau dan ungu. Aku terus berjalan. Panas mentari harusnya menyengat kulitku siang ini, namun sepertinya awan yang memenuhi langit Jakarta memayungiku yang sudah kehauasan sejak masih di kereta. Aku terus saja berjalan menyeberangi Taman Monas, memperhatikan pemandangan sekitar, kembali menikmati keindahan bunga-bunga warna-warni di taman utama Monas. Sayang seribu sayang, pemandangan indah itu dirusak oleh sampah yang bertebaran di sana-sini. Kertas bekas makanan dan plastik bekas snack seperti ada di mana-mana, padahal dua tempat sampah beda warna cukup banyak tersedia. Sebuah ketidaksadaran akan arti penting kebersihan telah menjangkiti masyarakat yang hidup di Jakarta. Taman Monas menjadi salah satu korban ketidaksadaran itu. Menjadi saksi kedzaliman yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab. Aku hanya duduk terdiam di salah satu bangku taman, menikmati sisa-sisa keindahan dan nyamannya menghirup udara segar di Jakarta yang masih ada di taman ini, sambil membayangkan sampah-sampah itu menghilang dari ibukota ini, atau paling tidak di Taman Monas ini.     

      

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s