Ciptakan Kesederhanaan Bersama Saat Ini

Pagi Minggu kemarin, selepas subuh terdengar sayup-sayup dari speaker masjid suara ustadz yang dengan lantang mengatakan bahwa kita harus bersabar menghadapi kenaikan harga BBM. Kenaikan harga ini adalah ujian dan cobaan yang masih kecil jika dibandingkan dengan susahnya kehidupan di zaman Nabi. Himpitan di sana-sini, apalagi ketika masa-masa awal syiar Islam, adalah hal wajar yang harus dialami Nabi dan para sahabat. Dan mereka tetap sabar menghadapi cobaan yang berat itu. Kemudian ustadz inipun terus mengatakan bahwa kita patut bersukur karena masih dalam kondisi yang lebih baik. “Ketika nabi dulu shalat saja masih di atas pasir, kita kini shalat di atas karpet dan sajadah yang bagus-bagus. Kita harus mensyukuri ini! Dan karena BBM naik kita kan bisa menggunakan sepeda.” Tandasnya.

Cukup menarik saya kira hal ini. Ketika dalam kondisi susah seperti ini, hampir pasti agama adalah salah satu jalan keluar yang efektif untuk menghadapi kejamnya hidup. Agama menemukan fungsinya sebagai obat penenang yang selalu menenangkan penganutnya, dengan menyatakan bahwa ini adalah cobaan dari Tuhan, khususnya dalam ajaran Islam yang dipraktikkan saat ini segala kesusahan bila dihadapi dengan kesabaran dan tawakal maka surgalah balasan yang pantas diterima. Secara psikologis hal ini tentu memberikan harapan satu kondisi yang lebih baik di masa yang akan datang. Kesabaran dan tawakal hampir selalu menjadi alat yang digunakan agama ketika umatnya mengalami depresi karena himpitan masalah kehidupan. Makanya jangan heran bila angka harapan hidup umat beragama, seperti Islam, lebih tinggi dari pada mereka yang mengaku tidak beragama. Agama menjadi candu yang menenangkan dan menyehatkan jika dalam praktiknya digunakan sesuai dosis yang diperlukan.

Menyimak kembali tentang harga BBM, yang dihubungkan dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW tadi ada satu pola kebersosialan yang menarik untuk dilihat kembali, dengan tema besarnya “Kesabaran dalam Himpitan Sosial”. Pola kebersosialan yang nampak berbeda satu sama lain dengan melihat gaya kepemimpinan yang ada pada keduanya. Gaya kepemimpinan yang dipraktekkan Nabi dan kemudian diteruskan oleh para sahabat jelas sangat berbeda dengan apa yang dipraktikkan SBY-Kalla dan aparatur negara di negeri ini. Bukan pada sistem hal ini akan dipermasalahkan, kalau mau berbicara sistem sampai kiamatpun jelas akan sangat berbeda bentuknya. Tetapi bebicara tentang cara mereka dalam memimpin dan menjalankan tugas yang ada pada masa-masa sulit seperti saat ini. Ketika tadi Sang Ustadz mengatakan kita harus bersabar menghadapi dampak kenaikan harga BBM, apakah kesabaran yang dimaksud pas dengan kondisi saat ini. Saya pikir kita harus tidak hanya bersabar menhadapi masalah ini, kesabaran ini harus dimaknai secara progresif bukan negatif. Karena tidak relevan memang jika kita hanya bersabar sedangkan orang lain menindas kita.

Ketika bicara gaya kepemimpinan di Indonesia dengan pola kepemimpinan yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW, kita harus merehat ulang kesabaran kita pada pemerintah. Paradigma kemalasan dan hedon yang mengukung hidup para pemimpin, aparat, dan birokrat negeri harus dipatahkan. Ketika Nabi Muhammad SAW membimbing dan mengajak para sahabat agar bersabar, nabi tidak pernah melepaskan tangan untuk senantiasa mendampingi para sahabat yang didera tekanan yang diberikan kaum Quraish. Makan minumpun mungkin pada nampan yang sama. Senang susah bersama. Pola kepemimpinan demikian yang tidak ada pada orang-orang di negeri ini. Kenaikan harga BBM pun seperti momentum pas untuk menjadi alasan kuat agar rakyat diam dan bersabar melihat seolah memang hal ini harus dilaksanakan, tidak bisa tidak. Perang argumen pun terajdi di mana-mana, antara kubu pro kenaikan BBM dan kubu anti-kenaikan BBM, dan saya tidak hendak menyatakan bahwa saya anti-kenaikan BBM atau mendukung kebijakan ini. Yang pro mengatakan bahwa kenaikan harga BBM yang terus meroket sampai 125 $ per barel, dengan kecenderungan semakin naik, di pasar internasional harus pula diiringi dengan kenaikan harga BBM di dalam negeri. Jika tidak APBN akan rontok. Sedangkan yang anti-kenaikan BBM, Rizal Ramli misal-mantan Menteri Keuangan era Gus Dur- menyatakan bahwa seharusnya pemerintah jangan dulu menaikkan harga BBM, rakyat belum siap menerima kenyataan ini. Bahkan dua minggu sebelum kenaikan harga BBM—Jum’at 9 Mei 08, di sebuah seminar di Jogja—Rizal Ramli sempat menantang Presiden beserta menteri-menterinya untuk berdebat tentang uji kelayakan kenaikan harga BBM.

Lagi-lagi tidak ingin menyatakan bahwa saya mendukung atau menolak kenaikan harga BBM ini. Saya menghormati keduanya sebagai langkah untuk menghindarkan bangsa ini dari krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi pada masa akhir pemerintahan Soeharto. Namun memang, seperti yang dikatakan Rizal Ramli, ini terlalu berat bagi rakyat Indonesia yang mayoritas miskin atau terancam miskin dengan kenaikan harga ini. kemudian yang menjadi sorotan dari keprihatinan bersama ini adalah bagaimana seolah para pemimpin, aparatur, dan birokrat ada jauh pada ketinggian di sebuah menara gading sedang mengawasi rakyat, mencoba memberi solusi dengan jangkaun minim yang mereka miliki. Ketika rakyat lelah dengan beban-beban kehidupan yang mendera, mereka masih saja menikmati manisnya hidup dengan jaminan dan subsidi dari negara. Dengan gaji yang begitu besar tentu mereka tidak akan merasakan dampak kenaikan BBM, sama sekali.

Bahkan jika keprihatinan ini akan bertambah jika kita mengingat kembali beberapa bulan yang lalu para anggota dewan yang notabene corong suara rakyat meminta kenaikan jatah hidup pada negara, padahal masa-masa itu negeri ini masih dalam masa keprihatinan yang sangat, bencana alam dan bencana moral, kasus lumpur Lapindo yang kini makin redup juga menjadi bagian keprihatinan pada masa itu, sampai kini bahkan. Namun, mereka bersikeras meminta kenaikan tunjangan, dengan alasan semuanya serba naik.

Hal semacam inilah yang benar-benar memprihatinkan, ketika senang kita bersama dalam senang, ketika menderita rakyat miskin saja yang harus menderita. Pola kebersosialan seperti ini bila disemai terus menerus tentu rakyat dengan beban-beban kehidupan yang semakin kompleks ditambah hal-hal yang dibebankan pemerintah, tentu membuat mereka tidak akan tinggal diam. Sebuah bom waktu tinggal menunggu waktu untuk meledak. Para pemimpin kita seperti tidak pernah belajar dari peristiwa yang lalu, bagaimana misalnya kekuasaan Shah Khan dari Iran dilengserkan, kemudian Raja Nepal Gyaenendra juga diturunkan, atau bahkan turunnya Soeharto. Mereka memang tak pernah mau belajar. Dari sejarah masa lalu juga kita diingatkan bahwa kesenjangan sosial selalu menimbulkan ketidakharmonisan bahkan kehancuran seperti halnya runtuhnya Uni Soviet, ketika kemakmuran terpusat di atas.Tanpa sadar negeri ini menjadi sosialis sekaligus menjadi kapitalis sejati dalam hal kemakmuran, meski demokrasi disuarakan di sana-sini.

Pola kebersosialan seperti ini harus dirubah, para pemimpin negeri ini haruslah meniru sosok pemimpin yang pernah dipraktikkan Muhammad SAW. Pemimpin yang sepenuh hati bekerja untuk rakyatnya, tidak melulu demi kepentingan pribadi. Dan ini yang memang tidak ada dalam praktek kehidupan bernegara di Indonesia. Mereka yang berkuasa atas nama rakyat hampir-hampir menyingkirkan rakyat, dan mencoba mendiamkan mereka dengan harapan-harapan dan janji-janji yang belum tentu bisa dibuktikan. Para pemimpin negeri ini terlalu sibuk dengan kepentingan pribadi dan golongan masing-masing. Mereka ada selalu di atas, jauh di sebuah menara gading yang sekilas mengawasi di bawah rakyat kecil dengan para balita yang didera busung lapar. Sekedar mengawasi, sekedar mengawasi. Dengan kondisi masih susah seperti ini harusnya mereka turun dari menara gading itu, bersama-sama merasakan kesusahan yang dirasakan rakyat Indonesia. Kalau bisa dengan sukarela para pejabat yang memiliki gaji lebih menyisihkan bayaran mereka untuk membantu sesama yang membutuhkan. Atau kalau memang mau hitung-hitungan agar anggaran APBN terselamatkan, potonglah gaji mereka. Tentu ini akan terasa adil di dalam sebuah kondis penuh tekanan yang semakin menjadi-jadi. Ciptakan kesederhanaan hidup di Indonesia sekarang juga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s