Kala Negarawan Beretorika, Sedang Filosof Tak Ada

Empat ratus tahun sebelum masehi, dengan selempang jubah khas Yunani berjalan seorang tua di antara kerumunan orang dan para pemuda di tengah kota. Pada mereka satu persatu, orang ini bertanya tentang apa ini dan itu, tentang semua. Apa itu manusia? Apa itu kebenaran? Apa itu kekuasaan? Apa itu golongan? Apa itu kepentingan? Segala pertanyaan dasar tentang segala sesuatu. Dan coba dikembalikan pada kemendasaran pertanyaan-pertanyaan itu mencari pemahaman yang sebenarnya atas jawaban-jawaban yang terlontar dari mulut orang-orang itu.

Orang tua ini terus bertanya dan terus mengejar jawab dari mereka yang ditanyanya. Apa itu manusia? “Manusia adalah makhluk yang berfikir” Jawab satu di antara mereka.

“Apa makhluk yang berfikir itu?” Tanyanya lagi.

“Makhluk yang menggunakan akalnya dalam menggali keingintahuannya”

Dan seterusnya. Ia memberikan pertanyaan seperti itu, mencoba menggugah kesadaran kaumnya dari kebohohongan yang dikembangkan kaum sofis yang berakar urat mempengaruhi orang-orang Athena. Memperkuat mentalitas fikir orang-orang Athena yang lama dilemahkan kepicikan dan kemunafikan orang-orang yang dikenal sebagai para orator ulung dan para ahli hukum yang begitu dekat swngan penguasa Athena. Menciptakan kepalsuan adalah keahlian orang-orang ini, menjadikan yang baik terlihat buruk dan merubah hal-hal yang buruk seperti baik demi kepentingan mereka. Mereka ahli dalam hal ini. Dan orang-orang Athena diam menikmati halusinasi yang dicipta lingkar kaum sofis ini. Socrates melawan ini, meski kemudianpun dia harus merelakan hidupnya demi mempertahankan keyakinan dan apa yang dilakukannya, demi kebenaran dan demi menjernihkan air yang dikeruhkan para ahli hukum dan orator picik itu. Socrates akhirnyapun syahid, menerima hukuman meminum racun di muka rakyat Athena yang dicintainya. Berkat campur para ahli hukum Athena tentunya.

Bait sejarah yang ditulis murid Socrates ini, Plato, harusnya menjadi pelajaran akan arti kebenaran dan kejujuran yang sejak dulu hingga sekarang coba dibenamkan oleh orang-orang tipikal sofis ini. Dan yang perlu ditekankan juga tentang bahaya sikap kaum sofis semacam ini.

Indonesia. Hampir sama kondisinya dengan Athena 2400 tahun yang lalu, sewaktu Socrates berjuang melawan mereka. Bedanya, kaum sofis Indonesia telah ada di mana-mana dan sulit dikenali. Mereka lebih lihai dalam menjalankan aksinya, bahkan terkadang nampak tanpa cela karena begitu sempurnanya kerja mereka, sebagai buah kekreatifan yang salah diaktualkan. Jika kaum sofis pada zaman Plato, dapat dikenali melalui orasi-orasi yang kerap mereka lakukan, kaum sofis Indonesia tidak demikian, lebih dari itu mereka lakukan. Apapun dapat mereka upayakan jika mereka menginginkan sesuatu. Mereka begitu berkuasa dan tamak semuanya demi kepentingan diri sendiri, satu ciri yang tak pernah hilang dari mereka. Indonesiapun bisa menjadi milik mereka secara de facto jika mereka mau, namun itu terlalu beresiko tentunya. Mereka lebih senang menguasai negeri ini dengan perlahan dan legal way. Mereka ahli hukum yang bisa dengan mudah membolak-balikkan kebenaran dalam hukum itu. Mereka juga memiliki kuasa dan jaringan yang tercipta berdasarkan kepentingan masing-masing, jaringan itupun ada lebih karena unsur ketidaksengajaan di situ.

Tak ada lagi ruang tersisa dalam ruang Indonesia yang tidak dipengaruhi dan dikuasi kaum ini. Ahli hukum, Ahli politik, dan ahli ekonomi tiga aktor utamanya. Sedangkan agamawan, terutama Islam, di Indonesia ada setingkat di bawah tiga element ini, menghamba dan diperalat dijadikan modal penting untuk membodohi dan menenangkan rakyat. Sedangkan rakyat? Tak ada pilihan kecuali berperan menjadi orang bodoh dan dibodohkan demi tercapainya pelampiasan hasrat kaum sofis ini.

Sedangkan negarawan? Mereka dapat berperan sebagai salah satu, salah dua, atau murni (perfect sofis, karena semua elemen ada pada diri mereka) sofis di Indonesia. Bukankah bangsawan Indonesia—kalau pantas menyebutnya demikian—adalah mereka para ahli hukum, ahli politik, ahli ekonomi, juga agamawan yang sukses meninggikan derajad mereka melalui ruang politik kotor negeri ini dengan partai politik sebagai pusatnya.

Partai politik sebagai anak kandung demokrasi main-main negeri ini, negeri yang tak pernah diseriuskan, begitu dominan melahirkan para sofis yang gila segalanya. Gila harta, gila kuasa, dan gila wanita, bagi mereka yang laki-laki tentunya.

Hal menarik yang mungkin dapat dikaitkan dengan hal ini adalah statemen H. M. Jusuf Kalla dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan salah satu televisi swasta Indonesia. Ketika didebat soal penjualan aset-aset negara pada swasta atau investor asing dengan pernyataan tentang itu sebagai sebuah kesalahan besar pemerintah negeri, terutama aset-aset Indosat dan beberapa badan usaha komunikasi lainnya. Dia sebagai ahli ekonomi kurang lebih menyatakan bahwa,”Apa yang dilakukan pemerintah sudah benar. Menjual badan-badan usaha ini dikala harganya sedang tinggi. Dan bila harganya sudah rendah kita akan membelinya kembali dengan harga yang tentu murah.” Namun sayang harga saham badan-badan usaha itu sampai saat ini tidak pernah turun drastis, bahkan kecenderungannya naik berlipat ganda. Dan yang menjadi pertanyaan apakah penjualan aset-aset negara ini sah di mata hukum bila kemudian badan usaha ini ada ternyata bukan demi kepentingan rakyat dan hajat hidup orang banyak. Kesalahan dibuat karena bukan atas dasar perhitungan matang dan bukan atas kepentingan bersama. Nonses kepentingan bersama. Saya tidak hendak menyatakan bahwa apa yang disampaikan H.M. Jusuf Kalla sebagai pernyataan kaum sofis, hal ini nilai saja sendiri, tapi pernyataannya itu begitu menggelikan sampai saya bingung untuk tertawa dibuatnya.

Di Rembang, Jawa Tengah, juga ada hal menarik yang dapat dilihat sebagai contoh konkrit bahwa begitu berkuasanya kaum sofis di negeri ini. Menurut informasi yang saya dapat, di salah satu kabupaten termiskin di Jateng ini, tiap kali Bupati ingin merealisasikan sebuah proyek, baik proyek jalan, jembatan atau lainnya, ada dana pendamping yang selalu diminta para anggota DPRD agar proyek tersebut dapat digolkan. Dana pendamping yang tidak jelas ini terus saja ada, menyendatkan dan memberatkan kerja Pemda Rembang. Ketamakan dan nalar yang termiskinkan dalam diri menjadi momok yang selalu menghalangi kemajuan.

Kaum sofis telah begitu kuat menancapkan kuku-kuku dan parangnya di negeri ini. Dapat terlihat dengan apa yang dilakukan politikus dan anggota dewan sekarang. Sedangkan orang-orang seperti Socrates, dengan nilai-nilai kebajikannya sekarang hampir-hampir telah punah. Jikapun ada, mereka adalah rakyat kecil yang jauh dari lingkar kuasa yang selalu jadi korban kebijakan yang diperuntukkan bagi kaum sofis negeri ini. Mereka tertekan di balik layar. Semoga saja mereka selalu ada, dan semoga ada saatnya mereka menampakkan diri memerangi kaum sofis negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s