Perjalanan Identik dengan Hal Baru

Perjalanan bagiku identik dengan hal baru (bukan identik banget sih). Baik jauh maupun dekat, pasti ada hal baru dalam perjalanan yang aku lalui, meski pada tempat yang sama tiap hari aku lewati. Bukankah semua berubah bersama waktu, so….apa yang kita lihat tiap hari adalah realitas yang baru dan berbeda pada waktu yang berbeda (sok filosofis). Dan aku suka pada hal-hal yang baru, menarik juga tentunya (uncategorized in my mind, kalau kamu tanya apa kategori hal yang menarik bagitu, jelas aku akan menjawab tidak tahu).

Namun, orang nomaden (salah satu temenku menyebutku begitu) sepertiku ini tak harus dihadapkan pada hal-hal yang dikatakan penting untuk dapat menyatakan sesuatu itu menarik. Acara pidato tahunan presiden yang penting, bukan termasuk hal menarik bagiku (paling juga itu2 saja yang dibahas, he..he). Apalagi acara-acara atas nama parpol, yang miladlah, acara maulidan yang diselenggarakan partai inilah, atau acara bagi sembako dan santunan dari tokoh politik anu, terlihat hebat namun tetap minim makna bagiku (menarik maksudnya).

Tindakan Parpol seperti itu bagiku adalah tindakan manipulatif yang tidak pernah mendidik orang secara benar, paling tidak kita tak pernah melihat kejujuran dari apa yang mereka lakukan. Dan tiap kali misalnya aku jalan-jalan melewati Monas, dan kebetulan ada acara-acara macam itu, aku akan berkata dengan diriku; “Merusak suasana saja acara ini.” Dan ternyata ada kerinduan pada ketulusan dan rasa kekeluargaan yang ingin aku dapatkan dalam setiap hal yang aku saksikan dan aku sambangi (harus aku ralat juga akhirnya tentang hal menarik bagiku, categorized in my mind). Mungkin dua kategori inilah yang jarang aku dapatkan di Jakarta. Dan kemudian karena itulah aku menjadi tertarik dengan fenomena orang-orang ”kecil” di kota ini, meski ketika misalnya aku melihat banyaknya pengemis di jembatan penyebrangan yang biasa aku lewati sekedar rasa iba yang muncul. Dan bagiku itulah hal-hal menarik yang dapat mengispirasi dan memberiku pelajaran akan hidup.

Hal baru lain yang menarik, yang lagi-lagi dapatkan aku jadikan inspirator dan pelajaran, aku dapatkan kemarin malam, sewaktu main ke ”Book Fresh”, Matraman. Di sana aku ketemu anggota Jogja Gank, kebanyakan sih aktivis 98 yang masih bertahan di Jakarta. Sewaktu sampai di sana, aku dapatkan suasana begitu riuh. Mas Syafiq, Kak Uci, Mas Farhan, dan satu orang lagi yang aku lupa namanya, sedang asik main Pocker (sekedar main kartu, No Drink No Gambling, Peace) sedang tiga orang lagi maen gaple, plus satu orang sedang berbisnis melayani pelanggan yang memesan buku lewat internet.

Aku senang, nuansa kekeluargaan di sini begitu kental, setiap ekspresi nampak lugas dan tidak ada yang coba dibuat-buat. Suasana seperti inilah yang aku rindukan. Semakin, malam suasan semakin ramai, celoteh-celoteh pemainpun makin beragam dan memunculkan tawa. Maklum dalam kompetisi lokal ini, mereka yang kalah harus jongkok sampai mereka dapat menjadi the first dalam menghabiskan kartu mereka.

Jam setengah satu, keramaian itu sempat terhenti, digantikan acara mendengar keramaian yang lain, jauh melintasi Jakarta sampe di Banten. Mas Syafiq terpaksa menghentikan permainannya (masih megang kartu sih) untuk melayani orang iseng yang memanfaatkan acara nelpon gratis.

”Anda siapa ya? Anda salah sambung kayaknya. Teman saya tidak mengenal anda!”

“Tapi nomer ni ada di HP saya!” orang dari seberang bilang

“Makanya, anda siapa? Dari mana asalnya, ada keperluan apa dengan teman saya? Yang jelas teman saya tidak mengenali anda.”

“Saya dari Banten. Dan memang nomer ini dah ada di nomer saya. Keponakan saya yang nyimpen.”

“Mang keponakan anda namanya siapa?”

“Namanya Elia”

“Ei bung teman saya tidak kenal tu dengan keponakan anda. Jadi sekali lagi ada perlu apa dengan teman saya? Mau kenalan?”

”Ya gitulah.”

”Kamu itu, bulan puasa gini tidak pada tadarusan ato apa kek, malah ganggu orang aja….” and bla..bla…bla…bla…

”Nih ni efek nelpon gratis. Acara tengah malam membawa petaka ya…ini ni” Kak Uci Nyela.

”Tadi, ada orang yang dibuat bingung ngurusin woman cry, yang ujung-ujungnya disebabin nelpon gratis ni…memang program-program kayak gini ni potensial buat selingkuh, sekarang nambah lagi orang iseng satu ni!”

Dan acara maen kartunyapun terus berlanjut, sampai menjelang sahur tiba. Sebelum mereka dibubarin gerombolan lain yang sedang konvoi mengajak mereka berbagi sahur dengan rute Matraman-Salemba-hingga Istiqlal.

Yang jadi catatan akhir kali ini adalah, pertama, manfaatkanlah fasilitas yang kamu dapatkan sebaik mungkin, termasuk nelpon gratis. Agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Kecenderungan orang-orang adalah jika diberi fasilitas lebih, biasanya seenaknya memakainya. Kedua, tetaplah jalani hidup dengan ketulusan dan ingatlah bahwa temanmu adalah saudaramu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s