Antara Filsafat dan Sastra

Filsafat dan Sastra sama-sama mendambakan sebuah tujuan tanpa tempat, tanpa batas. Kadang terombang-ambing pada lubang putih ketidakjelasan. Selalu memperkaya diri dengan kedalaman kontemplasi.
Dengan berfilsafat aku menemukan diriku mencoba mengarungi lautan pengetahuan dan tentang semua.
Sayang, aku dibatasi teori-teori dan pandangan-pandangan orang terdahulu atau yang lebih dulu mendahuluiku di dalamnya. Aku menjadi tidak bisa bebas. Padahal aku ingin lepas.
Dengan Sastra aku menemukan diriku pada satu tempat yang aku kira sama ketika aku berfilsafat. Menyelami tentang segala sesuatu, namun dengan ketakterbatasanku. Dengan ide-ide yang selalu berubah dalam diriku, aku menemukan ketakterhinggaan. Kadangpun sampaiku pada sang ultimum being. Being as being for beings. Meski aku sekedar membicarakannya. Aku bebas mengepakkan sayapku. Aku suka itu.
Meskipun juga takkan kulupa kecintaanku pada filsafat. Hanya saja aku tak mau dibatasi. Oleh doktrin-doktrin atau teori-teori.
Keduanya tetap mengajakku merenungi segala sesuatu secara dalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s