Aku Mengenalmu, Aku Aman Darimu

Setidaknya kenapa aku begitu tertarik mengamati orang-orang, karena aku ingin tetap aman dari siapapun dan dalam kondisi apapun. Harus kuakui aku orang yang hampir selalu ingin berada dalam posisi aman dan tidak suka mencari masalah. Aku terkadang malas menghadapi tantangan. Ini alas an pertama.

kedua, dengan mengenali karakter orang aku tentu ingin tahu bagaimana menyikapi orang-orang dengan karakter yang berbeda-beda itu dengan tepat. Alasan pertama tadi menggambarkan bahwa aku ingin selalu dalam posisi aman, tetapi suatu keadaan atau situasi kan tidak selalu seperti yang aku inginkan. Melulu aman. Terkadang gejolak muncul, baik yang dengan sengaja aku munculkan atau karena tanpa sengaja ada menimpaku. Mungkin tiba-tiba aku menghadapi masalah yang pelik, atau tiba-tiba aku berada dalam kerumunan orang-orang yang ingin menghajarku. Situasi seperti itu kadang tidak terperkirakan. Jadi mulai sejak awal aku harus mempelajari ini semua.

Lalu bagaimana jika tiba-tiba memang aku dalam situasi terjepit, bertengkar dengan seseorang misal karena suatu permasalahan, dan aku sedang sendiri. Benar-benar sendiri. dengan membaca karakter yang kuhadapi, itu saja ternyata tak cukup memberiku rasa aman. Ada beberapa faktor yang mungkin menjadi bagian dominan dalam keberhasilanku menyelesaikan masalah ini. Pertama, jelas adalah ketenanganku. Hal ini penting sekali dalam kondisi seperti ini. Kegugupan, perubahan raut wajah, dan aksen suara sangat mempengaruhi tindakan berikut yang akan dilakukan oleh orang yang kita hadapi. Kecenderungan yang muncul ketika wajah kita menampakkan rasa takut adalah keberanian orang yang kita hadapi untuk semakin mendominasi kita. Lain lagi misalnya, jika wajah kita menampakkan ketenangan. Paling tidak orang yang sedang kita hadapi berfikir dua kali untuk semakin menekan kita.

Ketenangan ini tak hanya harus dimunculkan melalui ekspresi wajah, namun penting juga bahwa kata-kata yang lancer dan minim kegagapan sangatlah dibutuhkan. Ketika situasi belum berubah menjadi ajang adu jotos, argumen sangatlah penting untuk menenangkan orang yang sedang emosional. Dan tentu model argumennya begitu sangat bervariasi, sesuai dengan kondisi dan tipikal orang yang kita hadapi. Mungkin kadang sebuah permasalahan semacam ini dapat ditangani dengan argumen yang meledak-ledak, yang menunjukkan keberanian kita, sehingga lawan minder duluan. Tetapi. Kata-kata haluspun kadang juga efektif menyelesaikan masalah dengan baik. Tak harus terpaku pada ini dan itu, yang jelas ketenangan begitu berpengaruh dalam situasi seperti ini.

Kedua, jam terbang kita mengenali dan menghadapi persoalan, termasuk juga mengenali karakter orang yang kita hadapi. Semakin banyak kita mengamati dan menghadapi orang-orang dengan karakter berbeda-beda tentu akan semakin memperkaya wawasan untuk dapat menyikapi mereka. Tadi disebutkan bahwa kita memerlukan cara yang tak selalu sama pada kondisi yang berbeda dalam menyikapi dan menghadapi sesorang. Dan tentu untuk dapat menggunakan cara yang tepat, keterbiasaan dalam menghadapi masalah adalah factor yang harus diperhatikan.

Ketiga, keberuntungan. Aku mungkin telah menampakkan ketenangan pada ekspresi wajah maupun aksen kata-kataku. Aku juga mungkin telah memiliki jam terbang tinggi untuk berdiplomasi atau adu mulut dengan orang-orang yang kuhadapi. Namun, kesialan atau keberuntungan juga menjadi factor kunci dalam menentukan suksesnya suatu masalah diselesaikan. Atau bahkan, aku mungkin tidak menampakkan ketenangan pada diriku juga tidak memiliki jam terbang tingg, tetapi mungkin karena hari adalah hari keberuntunganku, sehingga bogem mentah tidak jadi nonjok di mukaku. Atau sebaliknya, aku mungkin memiliki dua factor penentu satu dan dua, tetapi karena hari ini aku sedang sial, sehingga aku babak-belur dihajar orang. Destiny kadang memang harus diperhitungkan.

Rasa aman adalah dambaan setiap orang. Dan mungkin untuk dapat memiliki itu aku dapat berpura-pura menjadi orang yang baik, ramah, dan sebagainya, agar aku tidak diganggu orang. paling tidak orang-orang yang kubaiki itu akan segan bertindak tidak baik padaku. Atau rasa aman itu dapat aku peroleh dengan cara selalu berfikir mencari sebuah solusi, mencari celah keluar yang kadang begitu sulit ditemukan. Dan terakhir, rasa aman itu akan aku dapat karena keberuntunganku.

Namun aku lebih memilih cara yang kedua untuk mendapatkan rasa aman pada dan untuk diriku. Aku yang selalu ingin berkembang.

Sunday, 23 November 2008

02:31 Am. Cililitan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s