Talk MOre Do More

“Jangan, ‘Sedikit Bicara, Bekerjalah!’, tetapi, ‘Banyak Bicara, Banyak Bekerja!’!” Mungkin kata-kata yang dilontarkan Bung Karno ini, aku temukan dalam “Di Bawah Bendera Revolusi”, ada benarnya tentu. Menjadi manusia efektif dalam bayangan yang digambarkan Soekarno.

Kenapa aku tak harus banyak bicara ketika misalnya aku dapat melakukannya, sekaligus bekerja dengan baik pula. Kualitas efektifitas hidup bukan hanya ditentukan oleh maksimalnya tangan dan kaki bergerak. Mulut yang bicara efektif pun akan mempengaruhi seberapa besar efektivitas yang akan kita capai.

Meskipun hal-hal semacam ini sangat kondisional, mengingat ini sekedar slogan. Tetapi, bukanlah slogan “Talk Less, Do More” adalah refleksi untuk mencitrakan kebiasaan kita yang malas bekerja, lebih banyak bicara. Dan bila mau menengok pada ruang politik negeri ini akan dapatkan realitas kondisi ini.

Para politikus yang mengumbar janji bukanlah cerita fiktif belaka. Hal yang paling aku ingat terkait hal ini adalah janji politik Fauzi Bowo, saat-saat gencar kampanye sebelum Pilkada Jakarta Agustus 2007. Janji mengatasi kemacetan dan menanggulangi banjir begitu manis terdengar saat itu. Dengan lantang mengatakan bahwa dia sanggup menangani dua masalah besar yang seperti menjadi situasi rutin masyarakat Jakarta. Namun, satu tahun masa kepemimpinan orang yang mengaku warga (atau malah menjadi ketua cabangnya) NU (Nahdlatul Ulama) ini tidaklah memunculkan perubahan yang berarti. Bahkan terkesan mengalami penurunan dibandingkan masa kepemimpinan Sutiyoso dan terkesan terbengkalai. Lihat saja misalnya proyek transportasi masal Busway. Lima belas koridor Busway yang dicanangkan, baru terealisasi tujuh koridor saja. Dan koridor delapan-sepuluh yang sedianya diresmikan akhir tahun ini (mundur setahun dari yang ditargetkan), sarana dan prasana yang telah disediakan pun nampak terbengkalai. Betapa terlihat bahwa memang Fauzi Bowo terlalu banyak bicara, namun bekerja seadanya. Tentu manusia macam ini belum menjadi manusia yang efektif. Dan lagi-lagi itu pun tetap kondisional, dalam artian tergantung ke mana itu mau diarahkan. Manusia memiliki kemampuan dalam melakukan sesuatu (bicara dan bekerja) secara positif. Dan tentu keduanya tetap akan lebih baik dilakukan secara bersama dari pada, “Talk Less, Do More” atau “Talk More, Do Less” saja. Jadilah “Talk More, Do More”. Menjadi manusia efektif.

Sunday, 23 November 2008

02:58, Cililitan

One thought on “Talk MOre Do More

  1. banyak bicara disaat tidak diperlukan juga akan membuat tenaga terbuang sia-sia.
    lalu, slogan “talk less, do more” bukan sekedar kritik atas orang2 yang malas bekerja, tapi sering bacot. kata2 ini juga bisa merefleksikan manusia efektif, sebagaimana yang dapat diberikan kata2 Soekarno “talk more, do more”.

    menurut koe sih, menjadi manusia efektif itu berarti menjadi manusia yang berbicara dan bertindak tepat waktu dan tepat tempat.
    Kedua “slogan” tadi bisa menjadi efektif tergantung dari situasi dan kondisinya.

    btw hidup kita sudah efektif belum yak??
    heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s