Flatliners: Manusia Pusat Segala Putusan

flatliners-ld1Flatliners. Mungkin akan sedikit manarik jika mau menghubungkan film ini dengan Dominion: Prequel to Exorcist. Dua film yang mungkin bersebrangan, namun memiliki satu titik temu, ketakutan. Kesimpulan awal dari dua film ini seperti hendak mengatakan bahwa pada dasarnya manusia memang ditakdirkan atau memiliki nasib untuk memiliki satu kondisi di mana ketakutan (fireness) ada bersamanya. Hanya saja, berbicara  tentang dua film ini berarti bicara dua ruang yang berbeda cara pendekatannya. Flatiners bercerita melalui pendekatan psikologi manusia, Dominion: Prequel to Exorcist erat kaitannya dengan teologi Katholik Roma. Mengapa saya katakan dua film ini benar-benar berbeda. Yang satu menekankan aspek kemanusiaan dan coba dikembalikan pada diri manusia itu sendiri, sedangkan satunya lagi, menekankan pada aspek kemanusian dengan mengembalikan segalanya pada Tuhan.

Sedikit mengarungi dua film ini. Flatiners bercerita tentang sekelompok orang yang mengalami semacam depresi akut, di mana rasa bersalah menguasai diri mereka, dan terus menghantui. Benar-benar menonjolkan aspek kemanusiaan para tokoh film ini. Embel-embel soal Tuhan, tidak disentuh bahkan memang sama sekali ditiadakan. Melalui tokoh David (Dave) seorang ateis, film ini seolah hendak menyatakan bahwa tanpa Tuhanpun manusia dapat menjalani hidup dengan baik. Berbeda dengan dengan Flatliners, meski dua film ini berangkat dari hal yang sama berawal dari ketakutan dan keputusasaan,  Dominion malah meniadakan sisi kemanusiaan dalam diri para tokoh. Manusia adalah makhluk lemah, dan perlu diselamatkan. Untuk mengalahkan setan mereka harus meneguhkan iman dan meminta kasih Yesus dan Tuhan untuk dapat selamat. Tuhan adalah tempat kembali segala permohonan maaf. Sedangkan, Flatirners mengembalikan hal itu pada diri masing-masing, bahwa manusiapun memilki kekuatan sendiri dan dapat selamat jika kasih sayang pada sesama dihidupkan.

Menariknya Flatiners, seperti hendak mengatakan bahwa ketakutan dan keputusasaan adalah halusinasi yang diciptakan manusia sendiri. Muncul dari alam bawah sadar yang menguasai kesadaran sang korban. Sedangkan Dominion, menjadikan Setan (Demon) sebagai aktor di balik segala kegelapan manusia. Dari kedua film ini, nampak bahwa manusia ingin mencari jawaban atas segala “kesialan” yang seringkali mereka hadapi dalam hidup. Jika dalam film Flatiners manusia-manusia menjadikan rasa kebersalahan itu sebagai halusinasi, maka dalam Dominion karena tidak mungkin menyatakan bahwa Tuhan sengaja memberi kesialan itu pada manusia (mengingat bahwa Tuhan Maha Pengasih), maka muncullah aktor Setan. Ketika membaca fenomena keagamaan pada realitas sosial yang ada, sepertinya hendak kita menyangkal hal ini. Bahwa Tuhan menciptakan Demons untuk menggoda dan menguji manusia. Namun, ketika melihat film Dominion, kesimpulan itu harus dibaca kembali. Serasa sang Setan memiliki entitas bebas tanpa kendali siapapun, bahkan mungkin Tuhan sekalipun.

Fantasi, Juru Selamat, dan Anthroposentrisme

Ketakutan (kesialan) manusia dalam dunia ini, adalah sesuatu yang pada dasarnya dari luar. Dalam Flatiners, kesialan itu seperti nampak berasal dari dalam diri yang kemudian menjelma menjadi halusinasi yang menguasai manusia itu sendiri (scizofrenik). Pada Dominion, ketakutan itu dimunculkan sebagai buah dari ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi ketakutan dan rasa bersalah yang mengendap dalam diri mereka.

Satu titik hubung lain dari dua film ini mulai nampak. Manusia menciptakan keputusan dan menghadapi permasalahannya dengan cara mereka sendiri. Dalam Flatiners, manusia memutuskan untuk menyelesaikan semua itu dengan satu statemen, bahwa semua kegelisahan itu hanyalah halusinasi dan menawarkannya dengan ungkapan kasih dan sayang. Pada Dominion, manusia memutuskan bahwa semua selesai ketika kepasrahan itu dimunculkan dan diserahkan pada Tuhan, demi kasih Tuhan Bapa dan raihan tangan Yesus. Segalanya manusia yang memutuskan.

Manusia tidak pernah tahu siapa Tuhan dan apa keinginan Tuhan yang sebenarnya dalam dinamika penciptaan alam semesta. Menerka-nerka dan mengkonsepkan sebuh entitas tinggi di luar mereka sesuai keinginan dan kesepakatan untuk menyelamatkan diri dari ketakbermaknaan. Jadi adanya Tuhan sekalipun memunculkan keraguan yang sangat pada diri manusia. Tuhan yang tidak pernal dikenali oleh keterbatasan manusia. Tuhan yang tak terhingga. Dan kembali untuk menyingkap  tabir gelap ini, manusia menciptakan sosok manusia suci yang mewakili Tuhan. Dalam kasus Yesus sebagai anak Tuhan, pada hakikatnya tidaklah beda konstruk pembentukan manusia suci ini dengan yang lain. Pada umumnya mereka adalah para utusan agar manusia mengenal sosok Tuhan. Namun inipun tidak menjawab kegundahan manusia untuk mengenal Tuhan mereka. Pada akhirnya manusia hanya mampu menterjemahkan sosok Tuhan sesuai dengan konsepsi mereka sendiri. Sejauh mana mereka membayangkannya. Sosok Tuhan dan apa yang akan dilakukan Tuhan-menurut pandangan manusia-adalah tetap konstruksi bentukan manusia dengan segala keterbatasaannya itu.

Dengan begitu, baik yang mengaku bertuhan maupun tidak ada dalam satu keputusan bahwa segalanya bergantung pada mereka sendiri. Manusia boleh berfantasi tentang Tuhan yang sama sekali tidak mereka kenal dengan baik. Menjadikannya juru selamat dalam kehidupan singkat mereka. Atau membiarkan diri mereka merasa lepas bebas tanpa ikatan sedikitpun dengan entitas adikodrati, dan menjadikan diri mereka sebagai juru selamat untuk diri mereka sendiri. Manusia adalah pusat segala keputusan. Bahkan Tuhan yang Pemurah, Pengasih, dan Penyayang pun hasil dari keputusan-keputusan manusia. Hanya saja hal itu disadari atau tidak! Dalam Flatliners para tokoh menyadari itu sebagai anugerah yang diberikan oleh Tuhan yang tidak mereka kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s