Hari Ini Aku Baik, Besok Pun Aku Demikian

Kisah tentang perintah suci penyembelihan Ismail telah demikian dikenal umat Islam. Beberapa kali Ibrahim bermimpi tentang sebuah upacara pengorbanan. Selalu dikaitkan, bahwa Tuhan hendak menguji keimanan dan keikhlasan putra pembuat berhala ini. Ismail adalah putra terkasihnya, dan Ibrahim harus merelakannya menjadi sesembahan bagi-Nya. Tanda ketaatan pada Tuhannya. Dan ketika hari pengorbanan telah tiba, Ibrahim dan putranya menyusuri padang Arafah. Pada acara pengorbanan, ketika Ibrahim siap menyembelih puternya, Ismail pun digantikan domba. Dalam beberapa lukisan yang menggambarkan kisah ini, malaikat membawa seekor domba untuk menggantikan Ismail sebagai kurban. Ibrahim dan putranya berhasil melalui ujian yang Tuhan embankan.
Dari kisah ini pun sering disebutkan bahwa, ketika Ibrahim mengalami kebimbangan, Ismail dengan tegas siap menjadi kurban. Ini perintah Tuhan! Dengan yakin akhirnya Ibrahim menjalankan kehendak Tuhan ini. Kental sekali dengan kecintaan dan keikhlasan. Baik Ibrahim, maupun Ismail. Keduanya menjadi hamba yang taat dan rela mengorbankan apapun demi Tuhan. Bagi umat Islam, di mana Ismail hendak dikurbankan oleh ayahnya menjadi salah satu hari besar dan suci yang tiap tahun diperingati. Selain juga, menjadi sebuah ritual wajib bagi kaum muslim yang menunaikan rukun Islam kelima, haji. Tiga hari pada awal minggu kedua bulan Dzulhijah ini pun menjadi begitu sakral. Delapan, sembilan, dan sepuluh Dzulhijah, yang dipercaya menjadi hari-hari perintah suci itu datang dan dilaksanakan.
Tiap tanggal 10 Dzulhijah, umat Islam pun mengikuti teladan Ibrahim, mengorbankan hewan ternak kepada Tuhan. Dengan beragam motif dari pengurbanan yang mereka lakukan. Meski hal ini pun tak dapat dilihat secara jelas apa motif pada setiap orang. Tapi dari pola tindakan manusia, dapat dinyatakan bahwa motif dari pengurbanan itu keikhlasan atau sebaliknya karena pamrih. Meski ada batas jelas antara dua motif ini, kerap kali dalam prakteknya pemahaman umat Islam atas dua hal ini saling tumpang tindih. Bahkan sering kali tercampur satu dengan lainnya.
Pada awalnya, apa yang dilakukan diniatkan atas nama Allah. Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyanyang disembelihlah hewan-hewan ternak yang dikurbankan. Harapan akan keselamatan pun memenuhi hati setiap insan yang merelakan harta mereka untuk dikurbankan. Dengan disembelihnya sapi, kambing, unta, kerbau, dan jenis-jenis hewan ternak kurban lainya, suatu hari kelak mereka dapat selamat. Sapi yang disembelih itu akan membawa mereka menyebrangi Sirathal Mustaqim yang katanya begitu tajam dan begitu tipis untuk sampai pada surga. Demikianpun hewan-hewan kurban lainnya diharapkan dapat menjemput orang-orang yang telah mengurbankan mereka di akhirat nanti.
Dengan motif ini, penekanan ritual kurban hanya sampai pada batas individual saja. Pesan sosial kerap kali menjadi efek samping dari perintah suci ini. Dapat pula dimaknai sebagai pengurbanan yang dilakukan individu untuk individu itu sendiri. Dan kalau dilihat dari sudut pandang lain, pengurbanan macam ini pun tak pernah sampai pada ridha Tuhan. Pengurbanan ini jarang sekali dilandasi kecintaan pada Tuhan. Yang diketahui oleh umat Islam kebanyakan adalah keselamatan atas apa yang mereka lakukan. Dan karena merasa sampai pada jalan keselamatan, selesai pulalah tugas mereka. Jarang sekali dikembangkan pada tingkatan yang lebih tinggi. Seseorang yang satu dengan yang lainnya dapat saling bantu-membantu atas dasar kecintaan sebagai sesama makhluk Tuhan.
Meski hal ini juga tak dapat dikatakan sebagai sebuah kesalahan. Karena pembacaan atas pengurbanan Ismail yang dilakukan Ibrahim lebih mencolok pada nilai-nilai ketaataan daripada keikhlasan atau kecintaan pada Tuhan. Sedangkan ketaatan lebih nampak sebagai hak dan kewajiban. Ketika kewajiban telah diselesaikan, hak atas pelaksanaan tugas itu pun harus didapatkan. Tanpa sadar, umat Islam memelihara individualitas dalam diri mereka. Selain itu, sifat pragmatis juga nampak menjadi bagian diri sebagian umat Islam. Memilih waktu-waktu terbaik yang ditunjukkan Tuhan untuk menghadap, mengharap sayang dan kasih-Nya. Setelah masa-masa itu selesai, kehidupan berjalan seperti biasa.
Dan pola ini seperti hendak menjawab, betapa tak ada korelasi antara perilaku umat Islam dengan tingkat dan kekhusukan ibadah mereka. Individualitas dan sikap pragmatis memberi sekat pada antara ibadah seseorang dengan tindakanya sehari-hari. Menjadi penghalang bagi umat Islam untuk menjadi umat rahmatal lil alamin. Padahal umat Islam memang punya potensi untuk menjadi demikian. Menumbuhkan nilai keikhlasan dan kecintaan pada tingkat paling tinggi, pada Tuhan. Sehingga apapun yang terjadi, hal itu akan terus dilakukan tanpa terbingkai pada satu momen dan peristiwa .
Pengurbanan Ismail atau hewan kurban adalah simbol yang ditujukan untuk menguji sejauh mana manusia mengikhlaskan ego mereka. Bahwa semua yang ada adalah dari dan untuk Tuhan.
“Hari ini boleh aku berkurban, tapi besok aku tetap seperti biasa akan membodohi orang lain di negeri ini!” Haruskah akan terus seperti itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s