Momen Tepat Berkampanye

israeli-attacks-on-gaza-24-palestinan-woman-in-a-funeralAgaknya sebuah ironi besar nampak di akhir pekan ini dengan aksi longmarch sekawanan orang-orang dengan atribut partai mengitari mereka. Pembantaian yang menimpa warga Palestina menjadi modal yang berharga untuk menarik simpati masyarakat pada sebuah kelompok atau Parpol. Sejauh ini, sebuah Parpol begitu getol menampakkan diri dengan mengusung penderitaan rakyat Palestina. Melakukan aksi mereka di beberapa ruas jalan raya di negeri ini, sebut saja Thamrin Jakarta dan di Malang Jawa Timur. Momen yang benar-benar tepat, untuk seolah menunjukkan rasa solidaritas atas nama umat Islam dan kemanusiaan. Bukan ingin berburuk sangka, namun apa yang dilakukan oleh Parpol ini sudah kelewatan jika memang benar apa yang dilakukan adalah upaya semakin mengharumkan nama “besar” mereka.

Terasa tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Israel. Bukankah pesawat-pesawat itu dikirim atas dasar kampanye politik, salah satunya, seperti yang dikatakan Musa Abu Marzuq (Wawancara Tempo, 2 Januari). Sama-sama memanfaatkan momen, dengan rakyat Palestina sebagai objeknya. Hanya saja, sebagai pihak yang memanfaatkan sebuah isu, Parpol dan kelompok-kelompok ini untungnya seakan masih memiliki hati untuk memunculkan rasa kepedulian. Dengan begitu, citra yang dihasilkan Israel dengan Parpol dan golongan-golongan itu ada pada kubu yang berlawanan. Namun, apa yang mereka lakukan, sekali lagi, ada pada satu garis yang sama. Mengeksploitasi isu Palestina.

imagesMelihat Gaza, rasanya setiap orang akan geram dengan agresi militer Israel. Dengan dalih apapun sama sekali siapapun tidak dapat membenarkan tindakan kejam ini. Dan memang bukan tindakan sebuah negara yang terkenal dengan lobi-lobi internasional mereka. Mungkin sekedar unjuk gigi, setelah sekian tahun terpencar-pencar berkat kebijakan diaspora yang mereka jalani. Dan di awal Abad 21 ini, bangsa Israel telah memiliki sebuah negara dan kini mereka telah bersatu. Mereka ingin menunjukkan identitas itu, yang bertahun-tahun silam tercerai berai. Bukan lagi bangsa yang dikutuk Tuhan, tetapi orang-orang yang dipilih untuk menjadi pemimpin dunia. Cukup satu perintah, sebuah kota yang bernama Gaza menjadi hamparan ladang pemakaman.

Ehud Omlert dan menteri luar negerinya memanfaatkan Palestina untuk mengangkat nama partai Kadima. Di sini sebuah Parpol atau beberapa Ormas juga melakukan hal yang sama. Mungkin apa yang mereka lakukan tidak salah dengan tanda kutip. Sama-sama setali tiga uang. Dengan penyerangan ini, pemerintah Israel terlihat berhasil meredam gerakan gerilyawan Hamas, paling tidak sampai akhir pekan ini. Sekaligus, meraih citra positif di mata warganya, menjelang pemilu yang akan datang. Demikian pun, dengan Parpol dan Ormas-ormas itu. Gambaran baik pada diri sekaligus mengungkapkan rasa kepedualian meraka. Sekali mendayung tiga pulau terlampaui. Kampanye yes, solidaritas yes! Dan semoga hal ini tidak seratus persen betul.

Dalam menanggapi isu Palestina, ada satu hal yang patut dipertanyakan dalam setiap aksi solidaritas yang muncul. Kenapa harus ada embel-embel nama, spanduk, bendera, dan lambang para pelaku dalam setiap aksi itu? Hal ini nampak wajar. Namun, begitu dilematik. Menciptakan sistem eksploitasi yang sulit disadari “korban-korbannya”. Bagi mereka yang fanatik dengan sesuatu, tentu apa yang menimpa pada hal itu akan begitu penting dan akan dibela jiwa raga. Begitu saja terbawa arus, dan terus tenggelam.

Ditambah lagi misalnya, suara penyatuan umat Islam dalam melawan segala bentuk penindasan. Nampak baik. Namun oleh beberapa kalangan hal ini dimanfaatkan betul mendulang massa untuk menjadi bagian diri mereka. Dan segera mengendalikan orang-orang yang telah simpatik pada mereka. Bahkan sekarang sulit, melihat hal semacam ini baik atau buruk. Hampir semuanya dipolitisasi dan diekspoitasi.

Mungkin kurang afdol jika kegiatan-kegiatan kemanusiaan itu cukup dengan satu identitas saja, identitas kemanusiaan. Sebuah identitas yang ternyata hanya menjadi sampingan dari indentitas pribadi atau kelompok. Termasuk kepentingannya.

Apa yang mereka lakukan sejauh ini nampak benar. Dan aksi solidaritas dengan berbagai ungkapan tidak dapat dikatakan salah. Namun, ketulusan tindakan yang diselewengkan jangan sampai terjadi. Apa yang kita lakukan bukan refleksi cermin diri kita yang sebenarnya. Hanya sebuah bayangan buram. Ketulusan hati kitalah yang benar-benar memantulkan bayangan kita yang nyata.

Terakhir, siapapun di negeri ini akan angkat topi dan menunjukkan rasa simpati yang dalam pada setiap aksi solidaritas kemanusiaan bagi Palestina. Mereka yang turun ke jalan, orang-orang dengan lobi politik mereka, para kepala negara atau pemerintahan yang selalu menyuarakan perdamaian dunia, dan mereka yang dengan tulus mengalunkan doa-doa keselamatan untuk semua. Cinta, kasih, dan dukungan untuk kalian kami beri. Semoga damai segera hadir di bumi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s