Catatan Perjalanan: Kami Ingin Merasakan Goresan Angin

Hari-hari yang melahkan. Entah apa yang dapat kami temukan dalam perjalanan ini. Mungkin di akhir kami mendapatkan sesuatu yang membahagiakan hati. Tentu saja demikian, paling tidak aku untuk sementara ini.

Perasaan tenang mengisi hati. Setelah kemarin basah kuyup diterpa hujan, juga tidur kebasahan dalam tenda karena selain tidak ada baju kering tersedia, tenda yang aku tempati tak mampu menahan air. Meski hujan tak terlampau deras mengguyur.

Ya sudahlah. Aku dan Fathi diam dalam tenda yang sempat kebasahan ini. Alay, Abduh, Hakim, dan Mbak Nina ngumpul di tenda sebelah, yang agaknya lebih tegar dibanding tenda ini.

Hem…si Fathi nampak telah menghabiskan satu gulung tisu untuk mengepel lantai tenda. Nampak kering, meski sebelumnya harus mengorbankan beberapa kaos (warna merah padam milik si Emon-semoga amal baiknya terima di sisi-Nya) sebagai pembuka ritual ini.

Sayangnya, aku tetap saja kedinginan malam itu. Merebahkan diri dengan berselimutkan lembab yang hinggap di pakaianku. Sebelumnya kami telah berbasah-basah ria sewaktu mendirikan tenda. Jas hujan plus celana terlambat sekian menit untuk melindungiku dari rintik-rintik hujan. Aku tetap dapat tidur malam ini, dengan jas hujan masih melekat di tubuh. Untungnya hujan benar-benar mereda malam ini.

Tapi sayang, di pagi hari kembali hujan turun lagi. Setelah aku sempat bersalaman dengan kabut yang memenuhi pandangan dan menyapa teman-teman yang bangun duluan, nampak sedang berfoto-foto pula, rintik-rintik air mulai turun kembali dari kayangan. Lagi-lagi tenda merah jambu kebanjiran, air melimpah di dalam. Dan untuk sesaat aku tak mau memasukinya, dengan begitu tenda ini dibiarkan kosong karena penghuni yang lain telah mengungsi di tenda biru. Aku juga sempat bergabung dengan kerumunan orang-orang malang ini. Kulihat Fathi telah meringkuk di bagian tepi tenda, sedang yang lain duduk-duduk, mengobrol sambil menikmati bercangkir-cangkir teh dan kopi, di selingi mengecap kacang tanah. Wafer coklat dengan jumlah terbatas juga ada. Meski tinggal satu, itupun sudah di tangan si Alay. Akhirnya aku kebagian setengah.khayun

Tenda biru nampak begitu penuh. “Mending aku di tenda merah saja!” Gumanku dalam ati.

Sebelum aku keluar, aku tuang teh tanpa gula ke cangkirku. Kutinggalkan kerumunan orang-orang ini, yang mulai rebah satu persatu. Masuk ke tenda merah, terasa lega sekali. Aku sendiri. Hujan belum juga mau reda. Kembali aku pakai jas hujan dan celananya.

Keluar sebentar, dari pada tidak ada kerjaan, aku menikmati kerasnya tanah dan derasnya hujan di luar. Tenda biru nampak lengang, suara gaduh tidak terdengar lagi. “Mungkin teman-teman sudah pada tidur!”

Aku bermain sendiri. Tanah lapang aku injaki, mengayuhkan kaki pada genangan air di beberapa  ruas lapangan. Menyapa kodok yang sedang hendak keluar dari sarangnya. Kuambil rumput. Kuganggu dia. Akhirnya sang kodok melompat jauh dan menghilang di balik semak-semak. Di depan pintu tenda, kembali aku awasi sekitar. Memandang ruang-ruang yang tertutupi kabut.

Aku yang masih mengantuk, setelah semalam tidak dapat tidur nyenyak, kembali memutuskan merebahkan tubuh lelah ini kembali. Jas hujan tetap melekat di tubuh. Setelah sempat mengepel lantai dengan upaya seadanya, aku istirahatkan tubuhku. “Semoga saja jas hujan ini mampu menahan air” Pikirku.

Baru bebapa menit mataku tertutup, kembali air yang menetes, menggenang, dan mengaliri tubuhku. Punggungku basah. Membuatku terbangun. Kuambil lagi kaos Alay yang masih tergeletak di sisi pintu tenda. Aku pel tenda lagi.

Belum nampak kering, tapi masa bodoh dengan itu. Untuk menahan air, aku buat tanggul. Lagi-lagi kaos merah jambu Alay yang menjadi korban. Ternyata cukup berhasil. Sampai jam sepuluh, air tak membangunkanku. Aku terbangun karena beberapa orang di luar tenda nampak bercakap ria. Hujan telah reda.

Siang itu kami memutuskan berkemas. Menunggu sejenak, air yang hinggap di tenda menghilang diterpa angin, aku turun ke bawah. Suara gemericik air, nampak begitu deras. Menyusuri jalan setapak menurun. Di persimpangan aku ke kiri. Turun dan menapaki pematang sawah, ada gubug di sudut kiri. Ternyata bukan sungai, meski suaranya begitu bergemuruh. Tepatnya sebuah selokan. Airnya mengalir di antara sawah dan bukit kecil dengan semak-semak yang nampak ditebangi. Aku kembali setelah memastikan air selokan ini dapat digunakan untuk beberapa keperluan. Ke tempat kami mendirikan tenda, jalanan menanjak, sekian detik aku telah di atas.

Tas-tas mulai dikeluarkan. Aku termasuk yang terakhir melakukannya. Satu persatu aku cek barang di dalamnya. Baju-baju basah, sarung, celana, sweeter aku keluarkan. Di atas rumput dan perdu belakang tenda, mulai dari baju kotak-kotak kesayanganku aku gelar, sarung, terakhir sal yang aku pakai aku letakkan juga. “Semoga cepat kering!” Aku penuh berharap.

Mengajak Abduh kembali aku ke bawah. Hendak mengambil air dan cuci muka. Aku berjalan duluan. Sampai di persimpangan aku tidak belok ke kiri seperti sebelumnya, memilih ke kanan. Sebelumnya aku lihat di bagian muara, ada tempat yang lumayan enak untuk kami cuci muka dan mengambil air. Semakin dekat kami pada tempat itu, aku lumayan terperanjat. Ada kincir air di ujung selokan yang nampak di tata sedemikian rupa dengan ujung dipasangi paralon yang lumayan besar, sekitar lima belasan senti diameternya. Air mengalir memutar kincir. Menghidupkan rotor listrik yang digunakan warga, termasuk pemilik warung yang semalam kami datangi. Susah bener masyarakat sini mendapatkan listrik, kemandirian lebih nampak di sini dibanding di perkotaan. Komunitas yang terpinggirkan dengan minim fasilitas dari pemerintah.

Dengan botol bekas air minum aku mengambil air, kemudian membasuh muka. Si Abduh nampak celingak-celinguk, seperti mencari sesuatu. Dia punya hajat besar rupanya. Di aliran air bawah kincir, Abduh mulai terlihat memasang kuda-kuda. Lantas hilang di balik semak-semak. Aku menunggu, beberapa saat. Setelah selesai membersihkan muka, aku tatap terus kincir yang terus berputar, suara gemericik air, dan bayangan listrik yang mengalir melalui kabel-kabel  kecil menyusuri semak belukar bukit-bukit menuju ke rumah warga, memenuhi pikirku. Akhirnya Abduh kembali muncul dari tapa bratanya. Rasanya aku juga hendak menyelesaikan tanggung jawab sejarah dari perutku ini. Ke bawah, di tempat Abduh tadi menyelesaikan hajatnya aku menuju. Dua batu dibelah aliran air. “Tempat yang pas untuk nongkrong!” Gumanku.

Agak lama aku di situ. Menatap kincir yang terus berputar di depanku. Sesekali berimajinasi, kalau-kalau ada buaya, ulat, biawak, atau bahkan setan gentayangan menyerangku dari balik genangan air, karena dengan lancangnya aku mengotori tempat mereka. Untungnya itu hanya imajinasiku, pengaruh film dan berbagai acara di tv mungkin. Aku kembali ke tempat mengambil air dan cuci muka tadi. Abduh masih menggosok gigi. Sayangnya aku tak membawa sikat gigi. Sejak kemarin aku hanya mengandalkan permen karet yang aku beli di Kalibata sebelum aku berangkat untuk membersihkan dan menyegarkan gigi dan mulutku. Setelah selesai, kami kembali. Aku berjalan duluan, meninggalkan Abduh di belakang.

Menyapa yang lain. Aku cek kadar air di barang-barang. Sejenak menatap tenda. Abduh datang. Ada yang ingin masak mie. Kompor gas mini diambil dari belakang tenda biru, ke tempat kami berkumpul. Seingatku kami sempat bercakap-cakap, namun aku lupa tentang apa. Di antara yang aku ingat, saat itu kami sepakat untuk menggulung tenda. Sebelum tenda dirubuhkan, Fathi bertanya tentang keadaan di bawah. Ia hendak membasuh diri dan menyelesaikan hajat mereka. Hakim sepertinya mengikutinya di belakang. Aku tidak memperhatikan, sibuk dengan baju-baju, membaliknya satu-satu. Tapi di mana di Alay, kayaknya sejak tadi tidak aku lihat di sini. Oh…aku baru ingat, ternyata tadi dia menguntit kami. Setelah kami meninggalkan basecamp agak lama. Dia mengambil jalur kiri di persimpangan. Tentu saja dia tidak menemukan kami di sana, aliran air selokan dengan semak belukar dan rumput-rumput liar menutupi. Sesaat sebelum aku melangkah kembali dari bawah, memang sepertinya sekilas aku lihat dia menyusuri pematang di tepi selokan, menuju tempat aku dan Abduh tadi membasuh muka. Masih sempat aku dengar suaranya. Bercakap sama Abduh, sebelum benar-benar menghilang.

Abduh dan aku memutuskan untuk tidak menunggu yang lain selesai dengan kepentingan masing-masing di bawah. Tali pancang tenda merah jambu mulai kami beresi. Pengait besi kami cabuti. Dari ujung ke ujung sudutnya. Sebentar kemudian, aku dan Abduh telah menatap rubuhnya tenda kami. Kami lipat jadi dua. Terpal bawahnya nampak belepotan lumpur. Aku ambil sisa tisu gulungm dan mengambil satu tisu basah yang sempat digunakan. Terpal kami bersihkan. Aku sempat mencari kaos merah maroon Alay, tapi entah tidak nampak gerangan. Sedikit demi sedikit noda lumpur kami bersihkan. Abduh nampak tidak sabar, dan memang buang-buang waktu saja membersihkan terpal tenda dengan tisu, mengambil salah satu kaosnya. Diserahkan padaku. Aku membersihkan terpal tenda. Kami lipat lagi tenda, kembali jadi dua bagian. Lagi-lagi aku lap bagian kotor di mukanya. Kami lipat lagi. Aku lap lagi. Hingga lapisan terpal bersih dan tenda siap dimasukkan ke kantongnya.

Teman-teman yang lain telah berdatangan. Abduh mulai menyalakan kompor, dan menaruhinya dengan panci berisi air. Hakim meneruskan, dan memasak mie instan. Tenda biru telah terlihat “diselesaikan” sebagian. Tinggal “dagingnya”. Kulitnya dilipat Fathi dengan entah siapa aku tak memperhatikannya. Aku dan Abduh tinggal menghadapi dagingnya. Bagian mukanya dipenuhi noda lumpur. Kembali kami bersihkan. Hakim telah nampak selesai memasak mienya. Aku ditawari. Perutku telah kekenyangan kacang dan teh tadi, aku tak mau makan lagi. Kain tak cukup membersihkan tenda. Air di ember-tadi malam aku, Alay, dan Hakim berkeliling mencari warung, membeli ini-itu, dan tak lupa meminjam ember sekalian mengambil air-sisa memasak kami gunakan untuk membersihkan. Sedikit demi sedikit tenda dari depan nampak bersih.

Mbak Nina, nampak telah selesai mengemasi barangnya. Tas ransel besar, lebih tepatnya gendut, teronggok di sampingnya. Si Fathi menyarankan agar dia jalan duluan ke warung. Berteduh sesaat.

Rintik gerimis mulai muncul. Aku tinggalkan tenda biru, mengemasi barangku. Tanpa dibersihkan lebih lanjut terlebih dahulu, tenda dilipat Fathi, sepertinya sama Hakim. Dasar si Alay, celana panjangnya masih tertinggal di atas rumput. “Prend celana low tuh!” Sambil menunjuk aku beritahu Alay.

“Mana?” Tanyanya.

“Dasar!” Gumanku dalam hati.

“Tu!” Aku kembali aku menunjuk

“Oh ya..ya..busyet!” Katanya

“Mon..mon…!” Celotehku.

Dia hanya tersenyum.

Kesibukan berbenah sebenarnya lebih dari ini. Hanya saja aku lupa bagian-bagian detail untuk disampaikan di tulisan ini. Bagian makan kacang dan wafer yang entah dari mana masih tersisa, aku yang membakar plastik dan sampah-sampah yang kami hasilkan. Kumbang Abduh yang terinjak kakiku dengan tidak sengaja (“maaf kawan kecil!” Aku merasa berdosa atas hal ini). Jangkrik yang tiba-tiba nongol dan ditangkap Abduh. Entah apalagi aku lupa.

Kami bergegas ke warung. Aku bukan orang terakhir yang meninggalkan area bekas basecamp sementara kami itu. Kayaknya Alay, mungkin Fathi, atau bahkan Abduh yang berjalan di belakangku. Jalan licin agak menanjak, sebelum aku melihat rupa warung yang semalam, atau setahun yang lalu oleh aku, Alay, dan Hakim disinggahi. Anjing peliharaan tetangga pemilik warung berkeliaran di depan. Rupanya anjing ini yang semalam menggonggongi kami sewaktu muter-muter nyari warung ini. “Sialan! Ketemu kau di sini aku”

Mbak Nina dan Hakim telah stand by duluan di teras warung. Mengunyah gorengan, pisang goreng ama bakwan. Hemm..bakwannya tinggal dua, eh tiga si..salah satunya telah ada di tangan Alay. Hakim bukan sedang mengunyah gorengan. Dia makan mie, entah mie goreng atau rebus, seharga seribu rupiah per mangkuk. Aku taruh tas, yang terasa lebih berat karena air sisa semalam yang membasahinya. Aku ambil bakwan dan memakannya idup-idup, perutku terasa lapar sekali. Bakwan satu, goreng pisang dua. Belum terpuaskan perutku. Masih kulirik gorengan yang masih tersisa di depan si Ibu penjaga warung. Kami ngalor-ngidul ngomong berbagai hal. Juga celotehan si Abduh yang berlagak belajar bahasa Sunda. Aku juga tak mau kalah. Sesekali aku menimpali. Pengen ketawa kalau ingat bahasa sunda yang aku bisa. Sebelum naik kemari, di tempat saudara Hakim di Cijurai, aku salah sebut di depan banyak orang, termasuk Bung Jono dan Neng Rintis yang tidak ikut naik ke Pinus, mojang dan ujang saja aku belum dapat membedakan. Ya sudahlah, namanya juga baru belajar.

Ada berapa poin penting dalam percakapan kami di warung ini. Di selingi seruputan teh yang disediakan tuan rumah, beberapa gelas kopi, eh si Alay mesen mie…tangannya masih memegang keripik pedas yang bikin lidah terbakar, Mbak Nina minta izin pemilik rumah untuk men-charge HP dan baterai kamera, kami membicarakan rencana lanjutan. Plan F for our journey. Sudah hampir jam dua. Pembatalan naik ke Pinus, dan turun ke bawah menyusuri jalan yang tak dikenal karena cuaca yang tak mendukung dan kabut muncul dengan begitu tebalnya, menyisakan beberapa meter untuk mata kami melihat sekitar. Kami tetap ke Pinus, dengan tanpa barang. Sia-sia kami ke sini jika tidak ke tempat eksotis ini. Terakhir barang kami titipkan pada si ibu. Jam dua lebih kami berangkat. Aku keluarkan golok pamungkas dari dalam tas, ku cabut ia dari sarungnya, tepatnya kertas pembungkusnya. Aku memilih tak beralaskan kaki. Aku berjalan duluan, menunggu yang lain di atas sambil mengawasi mereka yang masih nampak asik ngobrol. Hakim menyusul. Mbak Nina dan Fathi berjalan kemudian. Terakhir Alay dan Abduh.chee

Dua orang terakhir belum juga muncul dan terlihat dari belokan terakhir yang kami lewati. “Sedang ngapain mereka? Lama bener!”

Aku kembali ke arah warung. Pantes lama. Abduh sibuk mengganti celananya. Sedang si Alay memakai kembali sepatunya yang basah itu.

“Ayo buruan, yang lain menunggu!” kataku pada mereka yang aku lihat baru sampai di tanjakan depan warung.

Yang lain masih diam menunggu di balik belokan.

“Ayo jalan! Ngapain nunggu? Kan kami bisa nyusul!” Kata Alay

Kami menyusuri jalan setapak. Licin sehabis hujan. Kabut semakin tebal. Udara dingin semakin menjadi. Baju yang aku pakai, pinjem Alay karena semua bajuku masih basah, semakin membuatku menggigil, masih lembab rupanya.2158_6881378571378603077_4481_n1

Aku coba mengingat-ngingat jalan yang dulu pernah kami lalui bertiga-Hakim, Alay, dan Aku. Aku benar-benar tak ingat lagi. Suasana nampak jauh berbeda. Kini pohon petai ada di mana-mana. Bahkan memenuhi pemandangan di sepanjang jalan. Hakim berjalan di muka. Semoga dia ingat jalan.

Lagi-lagi aku tidak ingat apa yang kami cakapkan. Tapi kami sering tertawa sepanjang perjalanan. Terlalu banyak dan beragam hal yang diomongkan. Mungkin tidak penting.

Aku sampai lupa juga prosesnya. Aku, Alay, dan Hakim telah berjalan di depan. Mbak Nina di tengah. Fathi sama Abduh di belakang. Sesekali memainkan kamera. Berfoto dengan background pohon tumbang, kabut, juga belukar petai yang memenuhi sisi jalan. Pohon pinus belum begitu banyak terlihat. Masih jauh rupanya. Mbak Nina semakin melambat berjalan. Sepatu anehnya, sepertinya sedikit menghambatnya untuk melangkah cepat, atau juga mungkin dia seorang wanita jadi memang lambatlah laju jalannya. Dia ditemani Abduh dan si Cubrut Fathi. 2158_6881378571378603078_4725_nKami bertiga sering meninggalkan mereka, sesekali menunggu dan meneriaki. Hal itu berlanjut hingga kami sampai di bagian ujung hutan Pinus, menuju lapangan. Bukan salah jika kami terbagi menjadi dua kelompok, dan kami meninggalkan mereka. Lagian mereka lebih sering berhenti berfoto ria dibandingkan hambatan lainnya, seperti faktor Mbak Nina misalnya.

“Di sini ni kita dulu berfoto!” Ujar hakim

“Nggak…aku ingat bukan di sini tempatnya!” Alay menanggapi

Aku hanya mengikuti saja. Menerka-nerka dan mengingat kembali kenangan-kenangan dulu. Aku mengingat foto yang kini aku pajang di FS (friendster). Kala itu kami tiba di tempat ini tepat senja hari. Dari bawah suara adzan Magrib mengalun. Surya nampak mulai menghilang, bayangan gunung Gede masih jelas terlihat. Kami bertiga berfoto dengan background alam ini.27-07-07_1808 Sensasi dan nuansa ini, kali ini tidak kami dapatkan. Kabut begitu tebalnya. Jelas Gunung Gede tak akan nampak, lagian senja juga masih lama tiba.

“Di sini dulu kita berfoto! Aku masih ingat!” Kata Alay

Aku hanya diam dan mengingat kenangan itu. Nuansanya begitu berbeda. Seperti ada yang kurang. Meski pemandangan di sekitar kami tidak banyak berubah di daerah ini. Beberapa tempat nampak sering dijadikan tempat mendirikan tenda. Sampah plastik, bungkus bumbu mie instan, arang api unggun masih jelas nampak terlihat. Mungkin kemarin ada yang singgah di sini. Tapi kami tidak berpapasan dengan mereka. Bekas tongkat yang mereka pakai masih terpancang di situ. Dasar Hakim. Naik gunung bawa bendera Hizbullah segala. Bendera itu ia kibarkan di tongkat itu.

“Lay foto dong!” Pintanya.

“Ogah ah..!” Alay menjawab dengan gurauannya

Beberapa kali jepretan berhasil mengabadikan momen itu. Mungkin Hakim membayangkan diri menjadi pejuang. Biarlah.

Aku memandang ke bawah dan depan. Tertutup kabut. Berharap kabut ini pergi, dan gunung Gede dapat aku pandangi. Sayang tidak demikian.

Alay berjalan duluan ke bawah.

Sebelumnya, ia meminta untuk berhenti di sini saja. Tak usah ke lapangan. Namun, aku menolaknya. Si Hakim masih sibuk dengan benderanya. Lalu kami ke bawah. Si Alay pakai lagak gaya lari kecil menuruni jalanan licin. Aku menyusul. Hakim pun menyusul. Sampai kami pada persimpangan. Ke kiri, lurus, dan ke kanan. Alay sudah terlebih dulu ambil jalan kiri. Kira-kira sepuluh meteran ia telah menyusuri setapak itu. Aku cegah dia. Seingatku dulu kami mengambil jalan lurus untuk ke lapangan. Kami sempat adu mulut.

“Yakin, jalannya yang lurus?” Tanya Alay untuk meyakinkan

“Yakin!” Kataku

“Tapi jalanya gak kelihatan Cak?”

“Seingatku jalan ini yang dulu kita lalui!”

“Ya sudah!”

“Tapi tunggu dulu!” Kataku sambil memotong gelagah menjadi dua bagian. Kubuat tanda silang pada jalan menuju arah kiri.

“Semoga mereka tahu apa yang kita bikin” Kataku

Kami menyusuri jalan lurus. Ilalang bercampur rumput gajah mengisi kanan kiri setapak, sebagian daun-daunya menutupi jalan. Kami menerobos masuk. Suara anjing terdengar di lembah. Sepertinya anjing pemilik rumah yang dulu pernah kami dipinjami dua ember olehnya. Seperti biasa terus menyalak. Tapi kali ini, tentu bukan karena kami.

Sampai kami di tanah lapang. Kembali kenangan-kenangan satu setengeah tahun yang lalu muncul. Di sinilah kami dulu hampir “mati” kedinginan. Dasar para pendaki (tepatnya petualang, karena kami belum pernah naik gunung yang tinggi) amatiran, masak ke gunung di musim kemarau hanya membawa bekal seadanya. Bahkan untuk dapat merebahkan tubuh, koran bekas yang digunakan. Terlalu. Tidak sadar kalau udara malam musim kemarau lebih menggigit dan menusuk tulang. Itu dulu.

Kini kami kembali ke sini. Kami tertawa ingat kisah masa lampau, di Agustus 2007 sebelum Pilkada Jakarta. Kali ini kami nampak lebih segar dibanding dulu. Kami menaiki gundukan tanah tempat dulu kami berkumpul dan membuat api unggun dari ranting dan getah pinus (maafkan kami bapak-bapak yang menyadap getah karet itu susah payah, kami menculiknya).

27-07-07_2137

Aku ingat betul, malam itu aku meringkuk kedinginan. Udara dingin serupa cakar Izrail yang setiap detik menyayat daging bahkan mencakar tulang hingga sum-sum kami. Aku berharap mentari segera muncul, dan segera mengalahkan malam dingin kala itu. Menyumpahi diri untuk tidak datang lagi di tempat ini. Terasa lama jam berputar. Dan kembali kuingat, jam satu malam aku dipaksa bangun oleh Alay dan Hakim untuk mencari kayu bakar dan mengambil air. Aku masih saja mencari alasan untuk terus meringkuk di koran yang semakin lembab saja. Alay meyakinkanku kalau udara dingin malam ini dapat dikalahkan dengan melakukan gerakan-gerakan.

Akhirnya aku bersedia bergerak. Menyusuri jalan di bawah bukit hutan pinus, dari tempat kami berkumpul kami mengambil jalan ke kiri di persimpangan atau ke kanan kalau dari hutan. Seperempat jam kami tiba di persawahan. Suara air mengalir. Seperti yang sudah saya sebut, di sini anjing-anjing pemilik sawah dan rumah begitu ribut. Menggonggongi kami. Agak merinding juga waktu itu, membayangkan segerombolan anjing mengejar kami. Tapi ternyata tidak demikian. Kami berempat (Alay, Aku, Hakim, dan pemandu kami) bahkan diijinkan pemilik rumah untuk membawa ember yang ia punya. Aku hanya membasuh muka, Hakim ambil wudhu, sedang Alay menuju balik “kotak ajaib” milik Pak Tani untuk ritual khusus perut.

Kami meninggalkan persawahan itu. Diantar suara-suara anjing yang terus saja mengalun. Kembali ke tempat kami sebelumnya meringkuk. Menaruh air, kemudian menuju hutan pinus mencari kayu bakar. Setelah berjalan dan bergerak sedemikian rupa tubuhku memang tidak terasa sedingin sebelumnya. Apalagi setelah kembali dari hutan, api perapian menyala dan sedikit menghangatkan tubuh. Kembali berharap malam segera berlalu dan mentari muncul menggantikan nyala api ini. Namun, itu begitu lama terasa. Bahkan sampai pagi pun aku masih harus menunggu beberapa jam untuk dapat lepas dari cengkeraman sang dingin.

Terasa penuh tantangan. Dengan perbekalan seadanya, dulu kami melenggang ke sini. Kini suasana terasa sedikit hambar. Dingin yang menggit itu tak terasakan. Toh demikian kami abadikan momen lain ini. Di tempat yang sama dulu kami bertiga merentangkan tangan menyambut pagi, sedang pemandu mengambil gambar kami. Kini ada kamera otomatis. Kembali kami berfoto bertiga. Alay di bawah mengatur kamera, dengan mengatur waktu otomatis sekian detik, dan kemudian ia berlari bergabung bersama aku dan Hakim mengabadikan gambar. Yang meski tak sama momennya dan intensitasnya, kami berharap hal ini tetap menjadi kenangan atas kenangan yang pernah kami buat di masa muda. Mungkin nanti dapat kami ceritakan pada anak-anak kami, atau juga istri kami. Bercerita tentang ayah atau suami dengan pengalaman yang meski terlihat sederhana tetapi memiliki arti karena persahabatan di dalamnya telah nampak mengikat. Dan semoga itu terus terkait. Diingatkan kembali oleh foto-foto diam itu, bila seandainya kami khilaf atau lupa pada yang lain. Bahwa di sini kami pernah berkumpul dengan sahabat-sahabat terbaik kami. 28-07-07_0618

Rintik gerimis dan panggilan Abduh, Fathi, dan Mbak Nina menyegerakan kami untuk kembali ke atas. Meninggalkan gundukan tanah dan lapangan ini. Kami segera menemui mereka. Fathi bilang Mbak Nina telah jatuh untuk kesekian kalinya. Alay memintaku untuk mencari sebuah tongkat untuknya. Aku ingat tongkat yang dipakai Hakim mengibarkan bendera Hizbullah tadi. Aku berjalan lebih dulu. Alay sama Hakim mungkin berebut payung. Sedang yang lain mengangkat tinggi plastik lebar yang dibawa Abduh.

Aku memotong tongkat panjang tadi, agar sedikit lebih pendekan. Kuberikan tongkat itu pada Alay untuk diberikan pada Mbak Nina. Kembali kami menyusuri jalan setapak. Kali ini kami tidak saling memisahkan diri. Resiko jalanan yang lebih licin karena hujan, kabut yang semakin tebal, rasa capai, membuat kami berfikir ulang untuk membagi kelompok. Kami harus bersama dalam perjalan kembali ke tempat keberangkatan.

Jalan menurun. Lebih licin. Kami lebih berhati-hati melangkah, terlebih lagi Mbak Nina. Ia memintaku jalan di depannya. Sewaktu-waktu bisa membantunya bila jalanan licin dan menurun kami lalui. Hakim di belakangnya. Yang lain lebih di belakangnya lagi. Aku perhatikan jalan. Aku amati daun-daun petai yang telah menguncup, seperti pada umumnya di waktu senja. Sebenarnya aku sedang menelusuri kembali jejak yang tadi aku buat, sekedar memeriksa karena jalan yang kami lalui memang tidak begitu sulit untuk dikenali. Atau bahkan memang bukan daun atau jejak itu yang menguasaiku. Dua hal itu hanya pengalih perhatian. Aku teringat agar jangan melamun. Tapi kata-kata Fathi dan obrolan dengan yang lain kemarin malam di teras masjid tempat saudara Hakim membimbingku pada satu fokus. Tentang seseorang. Benar juga apa yang dikatakn si Cubrut. Mungkin aku memang seorang pengecut. Atau memang aku saja yang takut menyakiti perasaan orang lain, terlebih tentang yang seseorang yang satu ini.

Tentang hal ini, kemarin malam memang kami sedang omong-omong soal pasangan hidup. Dasar si Cubrut bikin ulah, dengan membuka topik ini. Gara-garanya kami mengingat SMS yang diterima Alay di stasiun sebelum berangkat, ke Sukabumi. SMS gandengan barunya, yang ditanggapi Fathi sedemikian rupa. Kelihatannya sih ungkapan mesra. Mungkin karena itu si Fathi menimpali dengan mengatakan bahwa SMS itu tipuan. Gurauan ini kami lanjutkan pada obrolan di teras masjid. Masih saja Fathi mengklaim SMS itu tipuan. Alay yang tak mau kalah menyanggah hal itu. Dengan bilang seratus persen memang dari ceweknya.

“Mendinglah, ada SMS mesra untuk si Alay. Meski benar apa kagak sumbernya. Paling tidak kalau itu benar, berarti si Alay (yang diragukan telah jadian oleh Fathi) ada yang memperhatikan. Dari pada yang sudah pasti punya, namun SMS satu pun tak muncul darinya!” Aku menimpali sambil tertawa.

Sesaat kemudian, Si Fathi dapat SMS.

“Ini pasti tipuan!” Kata Alay

“Dia buat SMS mesra sendiri, agar dapat di forwad Tenny!” Lanjutnya

“Ni beneran! Memang kamu, pake SMS tipuan!” Kata Fathi membela diri

Target pembicaraan beralih. Kini Aku, Abduh, dan Hakim yang jadi sasaran, terutama aku. Memang dasar Si Cubrut ni sialan.

“Gamana ni si dia?” Katanya padaku

“Sialan!” Gumanku dalam hati

“Kamu juga gimana Duh? Masak diam-diam saja. Di kelas kan banyak tu cewek-cewek yang masih sendiri. Pilih saja satu!” Tambah si Fathi bikin ulah

Aku tidak langsung menanggapi kata-kata dia.

“Jangan sampai kalian jadi perjaka tua! Ya…nggak Lay?” Kata Fathi meminta persetujuan Alay yang sedang nampak manggut-manggut saja.

“Kampret!” Kataku dalam hati

“Mulai dari sekarang kalian harus mulai menetapkan kategori wanita seperti apa yang kalian inginkan! Agar nanti tidak kesulitan mencari!” Tandasnya

“Banyak hal yang harus aku fikirkan!” Kataku

Si Fathi kembali melanjutkan petuah-petuah bijaknya malam itu, melanjutkan studi kasus ini sampai pada persoalan penyesalan dengan mengambil beberapa contoh. Tentang wanita yang akan nyaman dengan kepastian, dan tetek mbengek lainnya. “Jangan sampai karena ketakutan dua orang yang sebenarnya saling mencintai tak saling memiliki!” Ujarnya

Mungkin benar juga apa yang dikatakannya. Tapi persoalan yang kuhadapi, bukan soal ketakutanku mengungkap apa yang kuinginkan. Jelek-jelek begini aku cukup makan asam garam perihal menakhlukkan ketakutanku. Mungkin ini lebih berat dari sekedar mengungkap cinta atau tak cinta pada orang yang dituju. Begitu rumit. Meyakinkan diri bahwa ia orang yang aku cintai. Sampai sekarang aku terombang-ambing soal itu. Ada saja godaan yang datang. Dari gadis yang begitu cantik di kereta, sampai prediksi-prediksi ke depan, mungkin juga terkait tradisi perhitungan orang Jawa yang cukup kuat melekat dalam diriku. Soal menyatakan suka atau tak suka bagi bukan hal luar biasa yang membuatku susah untuk bicara, berkeringat, atau hilang nyali saat di depannya. Aku mungkin dapat tegaskan pada Fathi bahwa hal itu sekali lagi mudah bagiku. Ini persoalan keyakinanku pada cintaku padanya. “Akan kuperjuangkan apa yang patut aku perjuangkan, tentang dia pun demikian jika aku yakin dia patut aku perjuangkan!”. Kata-kata yang sempat aku buat di FS.

Bukankah image pada diriku, adalah seorang yang cuek, nampak tidak peduli, dingin, dan sebagainya. Dalam beberapa hal memang nampak demikian. Pada diri teman-temanku semasa SMA (Rina, Zam, Si Embek, Simbut, bahkan Ela) aku tetap dikenal tipekal orang demikian, plus pendiam dan terkadang nekad. Pernah suatu kali di pagi hari, tepat tanggal 14 Februari, aku ke rumah cewek yang aku suka. Sekedar memberikannya hadiah padanya. Dengan gaya pendiamku, teman-temanku begitu kaget dengan apa yang aku lakukan. Aku memang cenderung tidak peduli dengan apa yang terjadi kemudian, perihal hal ini. Apalagi jika hanya sekedar menyatakan cinta pada si Dia. Soal takut ditolak atau apalah itu, tidak ada dalam diriku. Jika benar memang demikian, paling-paling aku merasa ada sesuatu yang tidak enak sesaat dalam hatiku, setelah sejenak berlalu perasaan macam itu aku pikir dan rasa akan hilang dengan sendirinya. Sekali lagi harus kukatakan pada Fathi bahwa ini bukan persoalan takut dalam diriku. Tapi soal keyakinan tentang cintaku padanya.

Dalam perjalanan balik ke tempat kami berangkat, menyusuri jalanan licin, aku terus saja meraba hati, terus bertanya apakah aku benar-benar cinta dia. Terus saja demikian, tentang dia selalu mengisi benakku. Hal ini nampak begitu sulit, karena aku percaya bahwa cinta bukan datang dan pergi begitu saja. Ia hadir dalam proses pengenalan dua insan. Cinta pandangan pertama nonsense bagiku. Meski hal itu ada, bagiku hal itu nampak sebagai birahi sementara karena seseorang melihat kecantikan atau ketampanan lawan jenis. Dan itu bukan cinta bagiku. Proses meyakinkan diri bahwa dia yang aku cinta inilah yang kini sedang lama berjalan dalam diriku. Aku tak tahu entah sampai kapan. Semoga cepat aku memastikan diri. Kalian boleh menyebutku pengecut, pecundang atau kata-kata rendahan lainnya. Tapi sekali lagi bukan itu persoalannya.

Sekitar jam empat sore, kami tiba kembali di warung. Kabut tetap saja tebal. Dan langit semakin terasa gelap. Kami bicarakan lagi rencana berikut. Mau tetap bertahan di atas semalam lagi dan kembali besok, atau turun sore ini? Akhirnya kami memutuskan untuk turun saja sore ini. Perbekalan mulai menipis, meski ada warung. Gelap malam tidak menjadi soal, walau senter yang bisa digunakan hanya satu, plus dua korek api dengan senter kecilnya. Hal itu sudah cukup untuk menerangi jalan kami malam ini. Lagian, kami berangkat tidak petang-petang amat. Paling benda itu akan kami butuhkan saat kami telah sampai tengah perjalanan.

Setelah istirahat sejenak, kembali mengecek barang. Abduh kehilangan HP-nya. Kami sempat kebingungan mencari. Ke belakang tempat ia ganti pakaian. Di tas, mungkin saja ia lupa memasukkan HP-nya pada salah satu tas kami. Untung saja ketemu. Terjatuh di bawah tempat ia menaruh tasnya. Pengecekan barang beres. Membayar apa yang kami beli di warung. Berpamitan pada pemilik rumah. Kami kembali meneruskan perjalanan.

Ketika di Cijurai sebenarnya ada tiga opsi yang dapat kami pilih. Namun, hal itu urung kami lakukan dan memilih opsi baru dengan kembali ke tempat saudara Hakim di Cijurai. Ke tempat nenek Hakim dan berkemah di kebun teh kami batalkan. Jalanan menjadi begitu licin. Gerimis seperti tak mau berhenti membayangi perjalanan kami. Aku tetap membawa bungkusan besar tenda biru. Aku ikatkan begitu saja di punggung tasku agar lebih mudah membawanya. Jaketku yang tak mungkin dipakai karena basah aku taruh menutupi tas dan bungkusan tenda ini. Aku memegang korek dengan senter mininya. Menelusuri setapak dengan bertelanjang kaki, lebih praktis.

Di jalanan yang telah jauh dari kampung, kami mulai berhadapan dengan gelap. Perjalanan nampak semakin sulit. Aku lebih banyak diam. Berkosentrasi mencari jalan yang lebih baik untuk kakiku ini, memilih tepian jalan. Abduh dan Alay kerap mengingatkanku dengan jurang di samping. Aku tetap di tepian jalan, kadang di kiri, kadang di kanan. Jelas tak mungkin bagiku untuk menapaki tengah jalan. Batu-batunya begitu tajam. Bisa ketinggalan aku jika lewat di tengah, belum lagi luka yang bisa saja aku dapat. Di tepian pun kerapkali kakiku masih bersentuhan dengan batu tajam. Terasa sakit, meski dapat aku anggap sebagai pijat refleksi. Tapi memang seperti pijat refleksi si.

Sesekali kami berhenti. Terkadang karena menunggu salah satu di antara kami yang sedang buang air kecil. Atau sekedar membersihkan sandal, agar tidak terlalu licin. Sampai di tempat kami pertama kali menemui jalan raya, sebelum ke curuk tadi kemarin pagi, kami berhenti. Cukup tenang rasanya telah sampai di sini, karena kami telah dekat dengan perkampungan.

“Oh ya….di sini kemarin kita ketemu gadis-gadis itu di sini ya..! Nia Pei!” Kataku

“Weleh Cubrut ingat terus ama Nia…padahal aku yang kenalan ama dia kemarin!” Fathi menimpali sambil tersenyum

“Pasti mereka bilang kalau yang menyapa mereka cakep sekali!” Kata Alay menyombongkan diri

“Bodoh amat!” Kataku dalam hati

Sekedar memperjelas situasi. Kemarin sebelum berangkat ke Pinus (rencana awal) kami memang ke Curuk Luhur terlebih dahulu. Rintis dan Mas Jono masih bersama kami kala itu. Dan di jalan inilah kami bertemu dengan rombongan lain. Semuanya cewek. Lupa berapa orang, sepertinya enam orang. Aku kira mereka penduduk daerah sini yang sedang jalan-jalan pagi. Tetapi ternyata mereka sama dengan kami, gerombolan pendatang yang sedang maen di Cijurai.

“Pada mau ke mana?” Sapa Alay pada mereka (diterj. Dari teks bahasa Sunda Asli). Kebetulan saja penjahat satu ini berjalan paling depan.

“Mau ke depan!” Jawab salah satu di antara mereka. (lagi-lagi dengan Bahasa Sunda Asli yang penulis lupa gimana nulisnya)

Kami meneruskan perjalanan ke Curuk. Lupa-lupa ingat, aku, Alay, dan Hakim mencoba mencari jalan yang dulu pernah kami lewati. Sempat aku dengan Hakim ngotot tentang jalan yang kami pernah lalui. Jalan terbaik, akhirnya kami bertanya pada penduduk setempat yang kami temui. Dan ternyata memang benar, pepatah “Malu bertanya sesat di jalan” nampak begitu manjur. Rombongan gadis-gadis itu buktinya. Mereka ternyata juga hendak ke curug, tapi karena sepertinya tidak mau atau enggan bertanya, mereka harus jalan jauh menyusuri jalan raya, sebelum akhirnya bergabung dengan rombongan kami.

Kami menyusuri jalan ke bawah. Dan mulai terlihat persawahan. Kami mulai menemukan jalan. Hakim, Alay, dan aku mulai mengenali jalan yang pernah kami lalui dulu. Hakim dan aku berjalan duluan. Neng Rintis menyusul bersama Mas Jono. Mbak Nina berikutnya. Sedang tiga penjahat lainnya tidak aku lihat batang hidungnya. Setelah berteriak-teriak memanggil mereka. Muncul juga sosok buaya-buaya itu. Mereka sedang terlihat menunggu sesuatu. Ternyata memang benar. Gadis-gadis itu yang mereka tunggu. “Sialan!” Pikirku.

Kami selain ketiga penjahat itu, melanjutkan perjalanan. Memilih ke kiri setelah di cek jalan yang lurus buntu. Jalan mulai menanjak. Kami berhenti di persimpangan kecil. Aku telusuri jalan yang ke kanan. Dari kejauhan terdengan suara air mengalir deras. Terdengar seperti dua curug yang pernah aku datangi dulu. Namun, sayang jalan ini tertutup semak belukar. Aku kembali ke persimpangan. Bertemu dengan yang lain. Bersama Hakim berjalan lebih dulu. Dari jauh aku lihat tiga penjahat mulai berjalan, mengekor pada gadis-gadis itu. Kami berdua berjalan agak cepat, untuk terlebih dahulu memastikan jalan yang akan kami lalui. Agak sulit mengenali daerah setapak ini kembali. Aku terus saja berjalan. Deru suara air semakin terdengar jelas di samping jauh kananku. Tapi, sepertinya kami tidak akan ke sana. Jalan yang sedang kami telusuri semakin ke atas dan menjauh dari dua sumber suara tersebut. Ternyata Hakim masih di belakang. Di tikungan pertama aku kembali saja, dan menyatakan bahwa jalur yang kami lalui menuju tempat yang benar. Meski aku tak dapat memastikan itu. Mulai kulihat Mas Jono dan Neng Rintis, kemudian Mbak Nina, tentu saja Hakim juga. Bersama Hakim aku kembali berjalan duluan. Menelusuri jalan. Memasuki setapak yang ditutupi rerumputan. Suara air menderu, menjadi penunjuk langkah kami. Aku terus berjalan, di susul Hakim. Sampai benar-benar aku lihat Curug Ciluhur di depan mataku. Aku kembali lagi. Dan menunggu di persimpangan. Kali ini Mas Jono dan neng Rintis berjalan di depan kami. Aku juga berjalan. Disambung Hakim dan Mbak Nina. Di belakang para gadis itu, telah dekat menguntit kami. Para penjahat lain juga mulai nampak.

“Cepat juga jalan mereka!”

Mendekati curug, jalan mulai menurun. Licin pula. Sebelum turun ke lokasi, Mas Jono terlebih dahulu memastikan jalan. Aku sudah di bawah. Hakim menyusul. Angin yang aku rindukan kini kutemui lagi. Mungkin agak terlalu besar, dibandingkan satu setengah tahun yang lalu. Karena musim penghujan mungkin. Baru mendekat, tubuhku telah dihembusi angin bercampur air. Terasa segar. Yang lain berdatangan. Mulai mendekat. Dan dengan segera mereka dibasahi air angin ini. Si Fathi dan Alay, memilih ke bawah. Di balik batu besar serupa gua. Alay berdiri tenang, tidak segera menceburkan diri ke air. Si Ipay ternyata, minta dijaga karena ia sedang sesuatu.2158_6881378571378603021_1955_n

Entah beberapa jepretan kamera dihasilkan dari lokasi ini. Sebentar kami tepat di depan air terjun. Ke bawah. Kembali ke depan air terjun. Ke samping. Kembali lagi ke bawah. Ke depan air terjun lagi. Eh.. mas Jono naik ke atas batu besar di depan air terjun. Beberapa kali kamera berhasil mengabadikan momen aneh itu, termasuk kamera HP para gadis itu.

Kami mulai menggigil. Untuk memotret saja, tanganku sampai gemetaran tak dapat aku kendalikan. Jam setengah sepuluh lebih kami meninggalkan Curug Ciluhur, kembali ke tempat saudaranya Hakim yang kini kami tuju kembali untuk ketiga kalinya.

Kami mulai mengenali jalan-jalan yang kemarin pagi waktu ke curug kami lewati. Meski gelap. bayangan saung di samping jalan kami turun ke curug nampak begitu jelas tergambar. Kami terus menapaki jalan raya ini. Mungkin sebentar lagi kami sampai di perkampungan. Aku tak dapat lagi memilih jalan tepian. Semuanya sama, baik terpi maupun tengah rata dengan batu. Kakiku mengeluh. Meski batu-batu tidak setajam di jalan atas, karena sering dilewati orang dan mobil pengangkut kayu bakar, tetap saja terasa sakit. Mungkin jam tujuh malam sudah. Kami sampai di jalan raya, kali ini jalannya beraspal, tidak bebatuan runcing macam di atas. Kakiku terasa nyaman menapakinya. Kami berhenti sebentar. Si Hakim mengajak bergegas dan menganjurkan untuk istirahat di warung saja. Kami melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan raya kampung Cijurai. Bertemu dengan beberapa anak yang hendak mengaji. Mereka menyapa. Aku sedang membaca SMS dari Pipit yang baru masuk. Berita tentang para pendaki yang hilang di gunung Salak sedang menjadi pembicaraan. Aku balas SMS-nya. Memberitahukan bahwa kami baik-baik saja, para pendaki yang hilang itu bukan kami. Di Poskampling, kami berhenti. Menyapa seorang penduduk, yang sedang ada di sana. Tas aku serahkan Fathi, untuk di taruh di belakangnya. Hakim ke warung, membeli sesuatu sekaligus menanyakan perihal mobil sayur yang bisa kami tumpangi esok. Dari info yang ia dapat, yang ternyata dari bibinya, besok kami dapat menumpang mobil sayur ke Sukabumi, mengejar kereta.

Kami kembali ke tempat saudaranya Hakim. Jalan, pesantren, dan sebuah rumah begitu lekat di benak. Dulu aku pernah ke sini. Menumpang mobil balik ke Jakarta dari sini. Aku pulang sendiri kala itu, sedang Hakim dan Alay melanjutkan kembali perjalanan ke kebun teh esok harinya. Kulewati tempat ini. Aku teringat juga tentang kakeknya Hakim (Almarhum, semoga amal baik beliau diterima di sisinya). Rumahnya ada beberapa blok di samping kiri jalan. Tepat di tepi sawah. Di pagi hari aku, Alay, dan Hakim pernah memandangi bukit hijau di depannya. Sunggung indah. Keramahan sang kakek, tak pernah hilang dari dalam diriku. Ingin rasanya aku menemuinya lagi, dan bercakap panjangan lebar. Selamat Jalan kek!

Aku terus menyusuri jalan, bersama Hakim. Yang lain menyusul. Bayangan kubah masjid telah nampak dari kejauahan. Jalan begitu gelap. Aku gunakan senter miniku. Cukup membantu. Di samping masjid, kami menuruni tangga. Mencuci kaki. Dan mengistirahatkan tubuh di teras samping masjid. Yang lain mulai muncul. Turun, segera membasuh kaki dan membersihkan sendal atau sepatu mereka. Aku sekedar memandangi. Aku kelelahan. Terdiam.

Cukup lama aku terdiam. Anak-anak bubaran dari masjid setelah shalat Isya berjamaah bersama Pak Kyai pemilik rumah yang kami singgahi. Aku tetap duduk di teras masjid. Memilih diam dan meluruskan kaki.

Alay mulai beraksi menuju kamar mandi. Tanya pada Abduh sabunnya di mana, sambil mengutak-atik ransel hijau itu. Malam semakin mendingin. Membuatku semakin malas untuk membersihkan badan. Tapi apa boleh buat. Tubuhku penuh lumpur hari ini. Aku harus mandi. Kuketok pintu kamar mandi. Alay sudah begitu lama di dalam. Kusuruh ia bergegas. Aku menunggu di luar.

Alay keluar. Aku masuk. Begitu gelap. Suasana menakutkan. Aku coba menetralisir keadaan. Bayangan tentang setan, kuntilanak, genderuwo, atau setan air aku buang jauh-jauh. Agar tidak takut aku tidak memejamkan mata sedikitpun. Tubuh kembali segar. Celana kuganti dengan sarung. Perasaanku mengatakan, celana ini sudah begitu kotor untuk dapat dikatakan layak dipakai malam ini. Lagian kondisinya masih nampak basah. Selesai mandi aku kembali ke teras kiri masjid. Mengambil tas dan memasukkannya ke rumah pak Kyai. Aku ambil baju-baju di dalam tas, yang semuanya masih lembab. Sweeter dan celana yang rada kering aku taruh di atas tas, lainnya aku jemur di luar.

Di ruang hangat dengan karpet menjadi alas, malam ini, aku menulis catatan perjalanan tiga hari ini, tepatnya dua hari. Mungkin banyak hal yang tak terceritakan, atau mungkin juga penambahan begitu banyak kumasukkan. Cerita sehari sebelum dan sesudah ini, belum sempat aku tulis. Aku terlalu lelah dan mengantuk untuk melanjutkannya.

Hari-hari yang melahkan. Entah apa yang dapat kami temukan dalam perjalanan ini. Mungkin di akhir kami mendapatkan sesuatu yang membahagiakan hati. Tentu saja demikian, paling tidak aku sampai hari ini. Besok kami harus bangun pagi.

4 thoughts on “Catatan Perjalanan: Kami Ingin Merasakan Goresan Angin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s