Saat Kali Pertama Kita Jumpa

Ingatku saat kali pertama kita benar berjumpa. Di halte yang kau aku sama tau. Kau suruh aku menunggu sebelumnya, sedang kau masih menunggu hujan cukup reda. Cukup lama, sejam, mungkin dua jam, bagiku tak apa. Dan hujan juga belum hendak reda. Aku menunggu, sesekali membalas sms-mu.
Cukup lama, hujan belum juga reda. Kembali kuterima sms-mu, entah yang ke sekian, memintaku untuk kembali saja karena telah terlalu lama aku menunggu. Dan memang sepertinya hujan belum mau mereda. Handphonku berdering, kamu menelpon rupanya, tak kuangkat, baterai habis, selain itu suara di sekitarku begitu berisik. Kamu sms lagi, tetap memintaku untuk kembali, lagi-lagi karena sudah terlalu lama aku menunggumu. Aku tetap menunggumu, kubalas sms-mu itu. “Kamu sih nekad segala!” katamu karna tahu awan di langit begitu tebalnya siang menjelang sore itu.
Benar juga. Ketika berangkat, melaju di jalan Raya Cawang, belok ke kanan arah UKI, ke kiri menuju Jatinegara, awan di atasku seperti sudah mau tumpah. Di cakrawala langit utara, kulihat masih ada harapan, sebagian sisi langitnya tak banyak tertutup mendung. Aku pun berdoa hujan tak turun. Berharap tempatmu ada pada naungan mendung yang tak begitu tebal itu. Di lampu merah Jatinegara, aku harap-harap cemas dengan awan tebal di atasku, selain berdebar segera bertemu kamu. Menelusup di antara ruang-ruang kosong mobil satu dengan yang lainnya, aku berebut ruang dengan pengendara motor lainnya untuk ada pada barisan depan antrian panjang di lampu merah. Kembali motorku melaju, lurus ke timur, menuju tempatmu.
Di Cipinang, angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering dari pohon di tepi jalan. Tak begitu cepat, tapi inginku segera sampai tempat yang kutuju. “Stasiun Klender! Habis ini gumanku. Terus melaju. Sampaiku di sebuah halte di depan stasiun yang kamu ceritakan padaku. Aku menunggu di situ. Dan sepertinya benar juga katamu, aku seperti tak mau memperhitungkan air yang akan segera tumpah ke bumi ini. Tapi awan-awan itu nampaknya berbaik hati menungguku untuk sampai pada tempat yang aku tuju. Sesaat hujan turun dengan derasnya. Kuterima SMS-mu.
Beberapa jam setelah kusampai, hujan mulai reda, dengan rintik-rintik kecil yang masih tak hendak berhenti. Kau bilang segera menemuiku. Aku tunggu. Benar juga beberapa saat kau datang juga. Ya benar, dengan senyum manismu itu, kau menyapaku. Halte sudah cukup rame kala itu, dengan turunnya kembali air dari langit itu. Kau dan aku tau setelah itu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s