Siapa Bilang Kita Belum Merdeka

Hanya orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT-lah yang bilang bahwa bangsa ini, negeri ini, belum merdeka. Bagaimana kita tidak merdeka? Di negeri inilah berjuta kemudahan dan kebebasan begitu gampangnya di dapat. Coba sekarang sebutkan negara mana yang begitu bebas di dunia ini selain di Indonesia? Amerika? Inggris? Belanda? Atau bahkan Malaysia atauThailand?
Negara-negara itu aku pikir masih begitu kalah dibanding Indonesia. Amerika? Tak ada apa-apanya jika kita bicara soal kemerdekaan warga negaranya. Di hadapan Indonesia mereka musti harus banyak belajar hal. Malaysia? Ah..masih kita saksikan bagaimana susahnya orang-orang di sana atau pemerintahannya menghargai orang. Tak akan susah kita temukan diferensiasi kelas di sana berdasarkan etnis yang ada di sana, di mana etnis melayu begitu menonjol ruang gerakannya. Belum lama kita ingat kasus demo warga India di sana, menuntut hak-hak yang seharusnya mereka peroleh sebagai warga negara. Belum lagi kita bicara soal nasib TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja di sana. Belum ada kemerdekaan di sana. Di Thailand, isu diskriminasi kelas berdasarkan agama jelas menjadi isu menarik yang dapat kita sebut sebagai tanda ketidakmerdekaan warga negara di sana. Hak-hak warga negara Islam dan Buddha jelas berbeda.
Lagi-lagi hanya orang yang kurang pandai bersyukur yang bilang bahwa negara Indonesia ini belum merdeka. Kita tahu bahwa di belahan bumi lain, masih banyak saudara kita sebagai umat manusia yang masih di selimuti kondisi perang, yang mungkin seperti tak pernah ada habisnya. Awal 2009 kita begitu diguncang dengan agresi militer Israel ke Gaza. Belum lagi kerusuhan di Afghanistan, buntut dari perang yang entah kapan dimulai. Di Irak, di Somalia, dan masih banyak lagi yang lainnya. Melihat nyawa manusia-manusia di tempat-tempat itu begitu tak ada artinya, kita di negeri yang telah damai ini masih saja enggan mau bersyukur.
Tulisan ini bukan hendak mengabaikan bahwa di negeri ini masih di selimuti persoalan-persolan, dari korupsi yang merajalela sampai persoalan kemiskinan yang tak ada habisnya. Tetapi melihat hal ini terlalu dalam dan menghujat sana-sini, bilang bahwa negeri ini begitu bobroknya, belum merdeka, adalah sikap tidak mau mensyukuri nikmat dan anugerah itu. Saya khawatir dari sikap semacam ini apatisme dan pesimisme akan melanda negeri ini, hingga lupa bahwa kemerdekaan fisik dengan segala kekurangannya ini perlu diisi dengan segala macam tindakan perbaikan.
Begitupun dengan segala macam heroikisme yang kini masih saja menjadi acara resmi di negeri ini kala merayakan ulang tahunnya. Berteriak-teriak macam orang gila, atau melakukan upacara yang dianggap sedemikian sakralnya tetapi minim penghayatan. Hal ini begitu nampak berlebihan. Belum lagi kalo melihat para pejabat yang perutnya buncit-buncit itu dengan bangganya mengangkat tangan berpawai ria mengitari kota. Merayakan kemerdekaan Indonesia, lupa dengan keprihatinan yang seharusnya menjadi perhatian kita semua.
Semoga dengan adanya nilai penghargaan sebagai bentuk dari rasa syukur kita pada nikmat dan karunia Allah SWT dan adanya nilai keprihatinan yang melandasi di sisi yang lain, kita dapat dengan optimis membangun negeri ini. Dan rasa optimis saja tidak cukup untuk merubah negeri ini tanpa tindakan dan kerja nyata dari kita semua yang menyebut diri manusia-manusia Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s