Menakar Keberislaman Kita

Sudah lama ingin kutulis hal ini, tentang semangat keberislaman yang kini marak terlihat di Jakarta, atau kota-kota lainnya. Agaknya sedang menunggu momen, atau memang karena baru sempat saja, hingga tulisan ini baru muncul sekarang. Ada keinginan sekian bulan yang lalu, sepulang dari Tanah Abang seperti biasa aku lewat depan Makam Pahlawan menuju arah Cililitan, aku menulis semacam kegelisahanku karena satu hal, tepatnya karena kerumunan orang di depan Makam begitu banyak sehingga aku yang jalan kakipun susah untuk lewat karena pengajian yang diselenggarakan sebuah majelis. Takut ada pretensi negatif dalam tulisanku, mengingat aku waktu itu dalam suasana dongkol. Aku tak jadi menulis tentang hal ini (Aslinya sih males nulis he..he).
Dan kemarin malam, ketika mengantar teman ke Pondok Gede, melewati Jalan Halim, situasi beberapa bulan itu seakan terulang, bahkan lebih parah, mobil antre sudah nampak di persimpangan PGC (Pusat Grosir Cililitan). Mungkin sudah terbiasa dengan kemacetan di Jakarta, aku dapat masih nyaman mengendarai motor meski kadang harus naik turun trotoar di samping kiri. Akupun tak hendak marah pada rombongan jamaah pengajian yang menyesaki jalanan malam itu. Aku sudah terbiasa melihat mereka dengan atribut dan aktivitasnya. Marah, dongkol, dan lain sebagainya nampak tak lagi relevan, toh tak ada efek apapun marahku pada aktivitas mereka, bisa-bisa aku dapat masalah yang tak perlu aku hadapi.
Begitu ramai malam itu. Anak-anak, pemuda-pemudi, orang-orang dewasa, dan tentu mereka yang lanjut usia, seperti ditarik pada satu tempat, datang ramai-ramai ingin menghadriri pengajian yang diselenggarakan sebuah majelis. Aku tak tahu nama tempat, mungkin masjid, yang mereka tuju, hampir tak bisa membedakan tempat mereka hendak berhenti melepas hasrat, ruas jalan dipenuhi jamaah pengajian itu.
Satu hal yang sejak dulu menjadi fokus perhatianku pada “gerakan” mereka, adalah kecendrungan mereka untuk mengumbar atribut dan simbol-simbol yang dimiliki. Perlu dicatat, ada beberapa majelis dengan tipe yang hampir serupa yang kini sama-sama mengembangkan sayap mereka di Jakarta, majelis-majelis ini belum termasuk majelis dzikir Arifin Ilham, Yusuf Mansur, atau Jefri al-Buchori. Menurutku ada sesutu yang aneh, sebelum menyatakan ini sebagai sebuah kesalahan, dengan mereka setiap kali penyelenggaraan sebuah pengajian akan digelar. Atribut-atribut mereka begitu saja muncul di tepian jalan. Baliho super besar, akan mudah dapat kita temui di tempat-tempat strategis, di sekitar tempat penyelenggaraan pengajian akan dilangsungkan.
Nampak pengumuman yang meyatakan akan adanya sebuah pengajian yang akan diselenggarakan majelis mereka, yang tentunya disertai nama majelis, dan orang-orang penting yang menjadi roda penggeraknya. Selain itu, tidak jarang pula akan kita temui, banner-banner atau bendera yang beberapa saat akan memenuhi tepian jalanan, macam alat-alat kampanye Parpol kala musim pemilihan tiba.
Aku orang luar, yang merasa tak ada ikatan apapu dengan gerakan mereka, memang akan dengan mudah bilang demikian. Dengan sedikit kekesalan saja, prasangka atas apa yang mereka lakukan akan muda muncul. Meski, kadang juga aku cukup memaklumi itu, bahwa dakwah itu harus disebarluaskan, termasuk dengan baliho-baliho superbesar di persimpangan jalan yang sering kutemui.
Tetapi agaknya menurutku apa yang mereka lakukan terlalu berlebihan. Ada kesan bahwa, nuansa yang muncul adalah nuansa atributif. Mementingkan label-label daripada substansi gerakan yang mereka lakukan. Akan mudah sekali kita dapati, identitas dari setipa kelompok yang sedang aktif melakukan kegiatan karena dengan sengaja memang mereka justru menunjukkan hal itu. Akan mudah kita dapati anak-anak muda dengan seragam-seragam yang memang didesain khusus untuk menunjukkan mereka dari kelompok atau majelis mana. Akan mudah kita dapati mereka dari kelompok dari bendera-bendara yang mereka kibarkan, baik di tepian jalan, atau pun yang mereka bawa saat hendak berangkat ke majelis pengajian.
Kalau memang niat awalnya berdakwah dengan baik, aku kira pamfelt, baliho, bendera, umbul-umbul, dan seragam yang menghabiskan biaya yang tentu tak sedikit itu akan tidak ada sekalipun kegiatan mereka akan berjalan dengan baik. Tetapi agaknya ada upaya agar sekali mendayung tiga pulau terlampaui. Berdakwah iya, bergaya juga iya. Memang sah-sah saja.
Tetapi di tengah-tengah keterpurukan yang kini sedang melanda umat Islam hal itu tentu cukup memprihatinkan. “Heroisitas” yang muncul agaknya belum tentu diikuti oleh kualitas pribadi-pribadi mereka sebagai umat Islam. Meski ini sekedar asumsi, tetapi memang ada fenomena yang mengarah ke sana. Bagaimana misalnya kita dapati anak-anak muda yang akan terlihat bersemangat sekali mengikuti kegiatan kelompok-kelompo atau majelis-majelis macam itu, dari pada misalnya belajar serius pada sebuah majelis khusus yang tanpa embel-embel dan atribut-atribut yang bisa disebut membanggakan. Dan semoga ini suudzonku saja.
Atau bisa dibaca, bahwa memang berkembangnya fenomena keagamaan sekarang ini memang baru sampai pada taraf yang demikian, esok dan esok akan mengalami perkembangan kualitas seoring berjalannya waktu. Dan semoga apa yang tengah terjadi bukan semacam pendangkalan pribadi-pribadi umat Islam dengan semakin indahnya baju-baju yang mengatasnamakan Islam hadir di tengah-tengah kita. Label-label itu memang kadang cukup membanggakan. Wallahua’alam bishawab.

Entah di hari bulan tanggal, di tahun 2009 aku menulis ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s