Malem Mingguan Yuk!

 Ask Me About My Conspiracy Theories Glow-In-The-Dark T-Shirt by Scot t Beale

Hehehe..namanya juga anak muda. Punya pacar. Punya jadwal wajib hadir tersendiri di akhir pekan. Yah, malam mingguan buat muda-mudi yang sedang jatuh hati, moga tak dipungut orang karena hatinya jatoh, budaya kunjung pacar sudah menjadi hal lazim. Bahkan mungkin menjadi semacam keharusan, untuk mereka yang punya pacar tentunya.

Tapi kenapa harus malam minggu. Ah, lagi-lagi pertanyaan ini muncul. Kenapa malam minggu yang menjadi malam “wajib” untuk muda-mudi, bertemu dan memadu kasih? Ada yang bilang itu kan kerjaaanya orang Barat dengan proyek Westernisasinya, agar budaya Westernisme berkembang di Indonesia. Hal yang paling efektif ya dengan memperdayai anak-anak mudanya, paling tidak dunia untuk anak muda dikuasai. Yah, ini semacam teori konspirasi kebudayaan. Di mana satu budaya, diupayakan untuk mempengaruhi kebudayaan lain, agar budaya itu terus berkembang dan tetap eksis.

Soal konspirasi ini, bagi mereka yang suka nonton bioskop kalo sedang malem mingguan pasti agak tau, paling tidak pernah ngelihat bagaimana konspirasi itu secara diam-diam merubah pola pikir. Lihat saja film2 hero ala Amrik. Yang jelas-jelas ada unsur muatan yang ingin dimasukkan ke dalam otak penontonnya, film Spiderman & Superman. Lihat saja spidermannya, kalo di akhir mencloknya di mana. Superman juga gitu. Terkait dengan film-film superhero yang kini begitu banyak bermunculan menjadi film-film Hollywood yang didanai dengan uang milyaran dolar Amerika, aku jadi teringat kata seorang teman. ‘Amerika sedang memberikan harapan pada manusia dengan manusia-manusia supernya, dan perlahan membunuh Tuhan dari dalam diri mereka.’ Wow…analisa yang bagus gumanku. Dari film-film Humanisme benar-benar coba dihidupkan.”

Mungkin benar juga begitu sih. Teori konspirasi. Konspirasi budaya. Berebut ruang untuk dapat dipengaruhi dan dikuasai. Barat kini sedang mendesain sebuah konspirasi besar yang sedang berjalan, memperbaikinya dan menyempurnakannya, biar esok mereka dengan budayanyalah yang berkuasa. Upaya yang mungkin dapat dipahami sebagai neokolonialisme, atau bentuk penjajahan baru yang kini akan semakin sulit saja dilakukan dengan bentuk adu senjata. Tentu perlawanan yang akan timbul akan mudah sekali muncul, selain nampak kurang elegan tentunya. Di masa depan, Perang dunia Ke-III bukan lagi dalam bentuk perang fisik, tetapi perang budaya. Dalam beberapa hal, aku setuju dengan tesis Huttingtong, dengan Benturan Antar peradabannya. Dan modal pentingnya adalah budaya. Pihak yang punya budaya yang kuat, mengakar, dan kokoh, merekalah yang nantinya akan bertahan, atau malah menguasai dunia. 

Ah mungkin itu sekedar asumsi saja. Malam minggu tetap malam minggu bagi anak-anak muda memamadu kasih. Bukan karena ada teori konspirasi. Karena memang moment yang cukup pas untuk berduaan saat-saat itu, di akhir pekan. Ketika esok Minggu libur, dan penat setelah semingguan kerja bisa dibebaskan. Akhir pekan memang waktu tepat untuk santai. Bahkan Jalur Buswa Koridor Lebak Bulus ikut-ikut memberi kesempatan tersendiri bagi mereka yang mau berakhir pekan ke kota, Bus yang biasa hanya berhenti sampai Grogol, kalo Sabtu dan Minggu bisa langsung sampai Harmoni.

Hehehe…sekali lagi mungkin itu sekedar asumsi saja kalo ada konspirasi budaya kenapa musti malam minggu jadi hari penting bagi muda-mudi bertemu kekasihnya. Untukku sendiri sih tak jadi soal. Malam Minggu bisa, di hari lain pun bisa, tergantung si DInda pengen ketemunya kapan. :)     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s