Ruang privat, Ruang publik

Public Space & Private Space, [Drawings  - Public Space Private, JK. Keller's Project]

Beberapa hari yang lalu aku ditegur seseorang yang notabene pacarku karena aku memposting tulisan terkait dengan hubungan kami di wall FB-Q. “Kak, kalo curhat jangan di FB, napa!” Katanya. Bukan berarti kalo curhat di tempat lain semisal blog atau my yahoo, twitter, atau apalah, boleh juga, tetapi dia ingin bilang kalo untuk urusan kami berdua jangan disebarkan pada khalayak ramai. Yah, akhirnya aku hapus juga statusku itu. Masalah yang ini beres. Pacarku tak komplain lagi.

Kemarin, sepulang dari Monas, karena saking keselnya pada penjual soto di Parkiran Irti, aku buat status yang isinya kurang lebih semacam pernyataan ketidakpuasan saya pada pelayanan di tempat itu. Teman saya mencak-mencak dengan status saya itu. Bahkan dengan bahasa Inggrisnya yang lancar itu dia mengatai saya nggak dewasa karena komplain di FB seperti itu. Hal yang membuatnya marah karena saya dianggapnya mendiskriditkan sukunya karena aku menyebutnya dalam statusku itu. Aku hanya diam soal itu. Tak juga tertarik untuk mengklarifikasi pernyataanku, yang kira-kira isinya adalah makan di tempat sekitar Monas dan Istiqlal yang penjualnya orang dari suku temenku itu. Mungkin temenku masih marah sekarang. Aku tak mau ambil pusing. Yang terjadi, aku begitu dirugikan dan merasa “diperas” dengan harga makanan yang setinggi langit tetapi tidak memadai jika diukur dengan kualitas pelayanan yang diberikan. Biarlah temenku mencaciku nanti kalo ketemu. Persoalan belum selesai, meski tlah aku hapus statusku itu.

Semalam, pacarku minta foto2 yang dari perjalanan di Jogja dan Magelang agar diupload di FB. Dia pengen lihat katanya. “Tag-in ke Q ya!” dia bilang. Ya sudahlah aku upload juga akhirnya foto2 itu. Dan tak satupun foto2 yang aku hapus, karena emang dia suka dengan itu. 

Ruang privat, Ruang publik, di mana keduanya kini harus ditempatkan. Dunia semakin kabur. Belum lagi kalo kita dihadapkan pada tanyangan-tanyangan infotainmet di televisi. Akan dikatai gila kalo kita maksa bilang Privat as Privat, Public as Public.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s