be the best of whatever you are dan kerendahan hati

“if you can’t fly then run, if you can’t run then walk, if you can’t walk then crawl, but whatever you do you have to keep moving forward.”

dr. marthin luther king, jr.

puisi be the best whatever you are dan puisi kerendahan hati. dari judulnya, keduanya jelas berbeda, atau bisalah kalau mau memaksa keduanya dihubung-hubungkan agar nampak, terasa, terbaca ada kaitan satu sama lain.

masih kalau mau memaksa menghubungkan keduanya kita dapat membaca beberapa bait kedua puisi atau salah satu diantaranya. sekali lagi agar terlihat kedua judul itu memiliki kaitan satu sama lain.

Tapi sebelumnya, penulis katakan dulu kedua puisi itu dari mana dan oleh siapa berasal dan dibuat. be the best of whatever you are adalah karya douglas malloch, seorang sastrawan asal amerika yang hidup di awal abad ke-20. ada beberapa sumber, seperti tempo interaktif bilang bahwa malloch sebenarnya bukan sastrawan yang cukup terkenal di dunia sastra. tapi memang “be the best of whatever you are” baik judulnya begitu terkenal karena sering digunakan marthin luther king dalam pidatonya.

Kemudian soal puisi kerendahan hati, nama penulisnya taufik ismail. nama ini penulis rasa cukup baik hadir di benak orang-orang indonesia, apalagi yang sering bersentuhan dengan dunia sastra.

kembali kalau mau menghubungkan kedua puisi ini, mari kita baca beberapa bait puisinya malloch atau kalau perlu puisinya taufik.

be the best whatever you are

if you can’t be a pine on the top of the hill,
be a scrub in the valley — but be
the best little scrub by the side of the rill;
be a bush if you can’t be a tree.

if you can’t be a bush be a bit of the grass,
and some highway happier make;
if you can’t be a muskie then just be a bass —
but the liveliest bass in the lake!

dan berikut beberapa bait dari puisi kerendahan hati, agar mungkin dapat kita lihat kaitan judul dua puisi ini;

kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau.
kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
jadilah saja rumput, tetapi rumput yangmemperkuat tanggul pinggiran jalan.
kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
jadilah saja jalan kecil,
tetapi jalan setapak yang
membawa orang ke mata air

alur dari kumpulan bait dari dua puisi ini hampir sama, bahkan memang terkesan sama. kalau penulis bisa mengatakan bahwa puisi kerendahan hati kurang lebih adalah terjemahan dengan sedikit perubahan posisi beberapa bait di dalamnya. tapi kalau ini terjemahan, ada hal yang cukup kurang pas menurut penulis dari sisi judul yang diambil taufik.  baik be  the best of whatever you are maupun kerendahan hati di lihat dari isi dan alurnya tak nampak terbaca bersikaplah rendah hati misalnya. atau bertutur menjadilah orang hati dalam hidup ini. tetapi keduanya lebih bercerita tentang  menjadi hadir itu menjadikan hadirmu memiliki nilai baik, menjadi manusia itu menjadi manusia yang beguna. kalau tak bisa menjadi belukar, jadilah rumput, tapi rumput yang dapat memperkuat tanggul jalanan. semampumu! menjadilah berguna sesuai kekuatanmu. sepertinya lebih tepat mengatakan makna kedua puisi di atas seperti itu.  tapi mungkin apa yang disebut kerendahan hati dari puisinya taufik ya memang sikap hidup itu. sikap hidup sederhana berbuat semampu yang dibisa tetapi tetap berguna. memang agak memaksa, semangatnya bukan semangat kerendahan hati sepertinya.

kaitan lain dari dua puisi ini dan cukup lebih tepat, sudah sempat disinggung di atas, isu plagiarisme yang dilakukan taufik ismail. tak mungkin kalau dibilang bahwa malloch-lah yang melakukan tindakan plagiat atas karya taufik, karena be the best of whatever you are menjadi bagian akhir dari antologi dari sepuluh puisi malloch dalam forest land yang terbit tahun 1906.

berita yang kini hangat tersiar dibilang taufik ismail melakuaan tindak plagiat, karena kedua puisi di atas sama persis pesan yang ingin disampaikannya, dengan perubahan beberapa bait di sana-sini. boleh dikatakan puisi kerendahan hati adalah hasil plagiat. bahasa lainnya sih terjemahan dengan modifikasi sebagai tindak kreatif dan terakhir pembubuhan nama taufik ismail menjadi authornya. lazimnya karya-karya terjemahan biasanya hanya merubah bahasa dari inggris atau bahasa asing ke bahasa indonesia, authornya tetap dari sana yang punya.
lepas dari itu penulis sebenarnya tidak ingin lebih lanjut mempersoalkan bahwa itu puisi hasil plagiat atau sekedar terjemahan. tapi bicara soal plagiatisme, penulis jadi ingat dua guru yang pernah mengajar dulu sewaktu kuliah, maman s mahayana dan edwin arifin namanya. mungkin teman-teman satu angkatan penulis, termasuk penulis, tentu punya pengalaman menarik terkait dua dosen yang satu dosen sastra, satunya lagi dosen filsafat. sama-sama njelimet. keduanya sama-sama rajin memberi tugas mahasiswanya. pertama, tentang cerpen surat untuk suamiku , tugas yang diberikan oleh pak maman pada kami. beberapa catatan khusus muncul dalam saduran yang kami bikin. di tandai kurung di sampingnya, diberi pula tanda tanya dengan bolpen merah. kurang lebih di akhir dibilang, bukan punya kalian, tak perlu dimasukkan dalam saduran yang kalian buat. “plagiatisme adalah kejahatan intelektual dan pembonsaian ide kreatif kalian.” kata pak maman.

lain hal dengan mas edwin arifin. tugas terakhir ujian, membuat makalah dengan tema-tema filsafat yang pernah diajarkan. silahkan berimprovisasi. dosen yang satu ini agak killer kalo di kelas meski sebenarnya baik. saat pengumuman nilai, jeger!! ada tanda khusus di beberapa daftar nilai teman-teman penulis. “p” dengan huruf kapital. syukurnya penulis tak ikut kena. beberapa teman mengeluh, nggak tau kenapa bisa muncul nilai p. beberapa lainnya, yang cewek, menagis karena tahu masuk daftar hitam plagiatisme yang dibikin mr. edwin. beberapa protes karena merasa tak melakukan hal itu, tapi semuanya harus mengalah dan terpaksa mengikuti kelas khusus beberapa minggu untuk mendapatkan nilai, kerena mr. edwin bersikukuh tulisan-tulisan yang dibuat adalah hasil copi paste dengan coret-coretan yang kalau tidak salah beberapa merifer ke beberapa alamat situ yang mudah dicari di google. dasar mr. google ! gerutu beberapa teman.

soal aksi plagiat memang bukan hal yang remeh atau kalau tren sekarang yang sekarang berkembang tidak bisa mengatakan itu, katakanlah bahwa itu seharusnya memang bukan hal yang bisa dianggap remeh. kembali pada kaitannya dengan karya taufik ismail, fadli zon, kepnakan penyair taufiq ismail bilang bahwa itu isu serius yang hukumannya bisa pada level hukum perdata. dari sinilah kaitan bahwa kenapa isu plagiatisme puisi kerendahan hati menjadi santer jadi pembicaraan. penyair sekelas taufiq ismail kalau memang melakukan tindak plagiat dengan menghadirkan puisi kerendahan hati, tentu akan menjadi soal serius dan masalah besar dalam selain karir juga kharismanya dalam panggung sastra indonesia. oleh karena itu, fadli zon berapi-api untuk melakukan klarifikasi terkait isu itu, pertama, taufiq ismail bukan plagiat. kedua, dalam karya-karya taufiq ismail yang pernah diteliti fadli, tak satupun yang memuat kerendahan hati. ketiga, “itu taufik ismail bukan taufiq ismail. taufiknya pake ‘q’ bukan ‘k’.” katanya pada tempo.

sebenarnya penulis suka kalau puisi kerendahan hati bukan puisi hasil plagiatan. pesannya jelas, mendalam, dan kata-katanya bagus didengar kalau dibacakan. dari sudut pandang penikmat, penulis sebenarnya tak mempersoalkan itu karya saduran, sekedar terjemahan, atau hasil plagiatan. puisi bagus dan memang bagus, bahkan untuk dikatakan sebagai karya taufiq sungguhan sebenarnya puisi ini pantas.

cukup menarik komentar di salah satu thread di pedoman news, bahwa puisi kerendahan hatinya taufik ismail tak pantaslah disematkan pada taufiq ismail yang terbiasa menghadirkan puisi-puisi islami. karena puisi kerendahan hati taufik terjemahan dari orang barat yang tidak islam. terdengar agak aneh, paling tidak bagi penulis. mungkin yang dianggap islami bagi komentator itu semacam tuhan sembilan centimeternya taufiq ismail karena ada kata tuhannya, dan bukan terjemahan dari orang barat.

islami atau tidak islami, baik puisi kerendahan hati atau be the best of whatever you bisa jadi inspirasi, inspirasinya lebih bisa menterjemahkan diri tak terkungkung sekat-sekat agama, karena pesan-pesan bijak di dalamnya dapat tumbuh dan semai di hati setiap manusia yang mau membuka hati merasai dan menyerapnya.

cukup lama penulis tidak membaca karya-karya puisi, baik be the best of whatever you are maupun kerendahan hati, keduanya menggugah kembali penulis untuk menikmati, meresapi, dan menghayati makna di balik kata-kata yang hadir dalam sebuah puisi. nanti saatnya membuka, sayap-saya patah kembali. terima kasih untuk malloch dan taufik atas karya indah ini

be the best of whatever you are seperti yang dikatakan luther king tempo hari atau be the bes of whatever you are seperti yang dituliskan Gie dalam buku catatan hariannya. cukuplah kerendahan hati seperti yang dihadirkan taufik ismail.

[kay,02-04-11]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s