beri saya harapan untuk hal kecil yang ingin saya lakukan

Sumber Gambar: kab-lampungselatan.bpn.go.id

sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. kata-kata ini cukup baik teringat dalam benakku. sebab itulah aku kemudian punya keinginan berpetualang yang tinggi. dengan itu ada harapan nanti suatu saat bisa kembali ke kampung halaman untuk melakukan sesuatu bagi orang-orang yang hampir ku kenal satu per satu itu di sana. kampungku bukan kampung yang tak ada detak kehidupan, tetapi memang detaknya masih kurang untuk membuat satu kemajuan yang berarti di sana. masyarakat petani, dengan sawah tadah hujan dan ladang yang tak begitu subur untuk ditanami palawija, tapi cukup baik untuk tanaman-tanaman keras seperti buah jambu monyet, kelapa, dan mangga. mereka yang dikatakan terdidik biasanya para lulusan pesantren, sekolah umum paling tinggi lulus sd (sekolah dasar) atau dulu yang beruntung pada zamannya bisa sekolah di sr (sekolah rakyat). dengan bekal sebegitu, tidak hendak meremehkan, wawasan masyarakat di kampungku tak lebih dari wawasan warisan dari masa lampau, yang berkutat di kampung hidup di kampung. pada umumnya, termasuk ayahku, dan keluargaku lainnya, masyarakat di tempatku adalah petani.

ayahku masih nyambi untuk berjualan dengan dagangan tetapnya kelapa yang diedarkan dari satu kampung ke kampung yang lainnya, selain kalau musim-musim tertentu ayahku bisa berjualan, mangga dan jambu monyet. aku masih ingat, saat musim mangga saat istirahat aku menjajakan mangga di sekolah, guruku kadang membeli banyak mangga-mangga daganganku itu. sempat aku malu untuk melakukan itu. pernah, waktu ayahku memintaku untuk menjual satu ‘antingan’ (wadah dari bambu yang ada pegangannya, sekarang fungsinya sudah digantikan ember plastik) aku sempat menolak, meski tetap membawanya ke sekolah juga akhirnya. aku mulai membantu ayah berjualan waktu itu kelas 4 sd, hanya saat musim mangga. rasa malu itu, kadang masih terasa sampai sekarang. mengingat teman-teman dulu jarang yang melakukan itu, mereka sekolah untuk belajar dan bermain saja, meski mereka kebanyakan orang tak punya juga sepertiku. tapi saat ini, di sela rasa malu yang masih tersisa itu tumbuh rasa bangga aku pernah melakukan hal itu.

rumah-rumah di kampungku, masih umum menggunakan bilik bambu, meski bagian depannya sudah pada ditembok. pendapatan keluarga pada umumnya lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan perut keluarga, itupun belum tentu dengan lauk pauk yang cukup memadai, sekedarnya saja, yang penting ada nasi dan sayur. sayur yang bisa ditanam sendiri atau dipanen dari sawah, saat misalnya menanam kacang merah, lembayungnya enak diurap. praktis pada umumnya kehidupan di kampungku mengandalkan sumber daya alam yang masih bisa dipetik untuk menyambung hidup. yang nyambi pedagang seperti ayahku mungkin punya sedikit tambahan penghasilan, yang dari situ aku akhirnya bisa sekolah sampai sekolah menengah atas, sebelum kemudian hijrah ke jakarta. tak heran dengan kondisi yang seperti ini, kebanyakan orang-orang di kampungku sekolah hanya dapat sekedarnya, semasaku belum ada dana bos dan sebagainya. katakanlah untuk soal pendidikan memang kurang.

menurutku, pendidikan sampai sekolah menengah atas saja aku rasakan begitu kurang untuk menjadi bekal. padahal yang anak-anak di kampungku yang bisa lulus sampai sekolah menengah atas itu tak banyak, paling 5-10 persennya saja. sekolah sembilan tahun hanya menjadi dasar saja menurutku, sedang yang dari lulusan pesatren, karakternya lebih banyak ke soal ukhrawi daripada fokus ke persoalan duniawi. padahal menuurtku persoalan yang melanda kampungku adalah persoalan hidup di dunia ini dengan kebutuhan yang tak ada habisnya. dengan tidak menafikan perlunya penguatan spiritualitas masyarakat. keduanya menurutku harus seiring.

ada pergeseran mendasar, di mana anak-anak petani di kampungku lebih memilih meninggalkan sawah-sawahnya. kalau perlu mereka jual semua sawah ladang yang dimiliki, dan hijrah entah ke mana tak perlu kembali. kebanyakan merantau, menjadi tukang bangungan, kuli, atau pekerja di kebun-kebun sawit di sumatera. kakak sepupuku malah pernah menjadi penebang pohon di hutan sumatra, yang pulang sama sekali tak membawa uang. saat sawah-sawah dan ladang tak banyak memberi harapan, mereka mencoba beralih profesi.

ini buntut dari kegagalan dari pengolahan-pengolahan lahan yang tak terukur dan minimnya kesadaran aka perlunya inovasi. saat ini, banyak sawah di kampungku yang dulunya pernah berton-ton menghasilkan gabah, hanya mampu mentok satu ton saja. sepuluh sampai 15 karung itu sudah bagus untuk ukuran sekarang. misalnya saja sawah pak rt-ku. dengan hasil yang semakin merosot seperti itu, anak-anak muda dengan kebutuhan yang semakin beraneka rupa itu memilih jalan lain, bahkan yang tak tahan diantaranya ada yang jadi pencuri ayam, ayam tetangganya sendiri yang nasibnya kurang lebih sama.

untuk itulah aku, secara pribadi ingin melepaskan diri dari kungkungan-kungkungan di kampungku. sejak smp aku punya keinginan besar untuk terus bersekolah terus. saat jelang kelulusan smp, aku masih ingat ayahku bilang padaku, beliau tak bisa melanjutkan sekolahku, sampai smp saja sudah syukur katanya. tanpa sepengetahuannya, selepas menerima ijazah smp aku berboncengan dengan kawan karibku mendaftarkan diri ke sma tak jauh dari smp-ku, sekitar dua kiloan bersepeda. tau aku mendaftarkan diri dan diterima, mau tak mau ayahku meneruskan niatku. konsekuensinya ayahku semakin giat mengayuh sepeda ontelnya dengan muatan seratusan kelapa di keranjang kanan dan kiri. keinginanku dan semangatku itu yang seingatku memompa semangat ayah untuk terus bekerja dari pagi keliling dari kampung ke kampung.

kehidupan yang agak keras ini, yang sampai sekarang, setelah lima tahun meninggalkan rumah, untuk memperluas wawasan dan menguatkan ide-ide, dan tentu mengembangkan modal dan jaringan, dengan harapan ke depan bisa pulang melakukan sesuatu untuk kampungku.

untuk musim hujan nanti aku ingin membeli beberapa bibit buah kelengkeng dan rambutan dari kampung halaman ayah, yang kualitasnya bagus. sebelumnya sudah ada beberapa pohon sengon laut yang sudah aku tanam. niatnya, pohon-pohon kelengkeng dan rambutan, juga sengon laut ini niatku memang aku proyeksikan untuk mengganti pohon-pohon jati yang memang biasa ditanam orang-orang kampungku di ladang-ladang mereka. harapanku sepuluh tahun ke depan, masyararakat di kampungku sudah mengganti pohon-pohon jati yang menurutku membuat lahan terasa panas, dengan pohon buah-buah itu. dua puluh tahun ke depan paling tidak harapanku kampungku bisa menjadi desa sentra buah kelengkeng dan rambutan.

namun, kemarin malam saya ketemu teman sekabupaten, kuliah di jogja, yang tempatnya cukup jauh dari kampungku. aku sempat sedikit cerita tentang keinginanku itu. ternyata dia sudah melakukan upaya itu, dengan tanaman berbeda, jauh di depan dari apa yang aku lakukan. dia bilang sudah menanami lahannya pepaya-pepaya yang buahnya super, baru buah kecil-kecil katanya. dari beberapa pembicaraan, pola pemberdayaan yang ingin aku lakukan itu menurutnya kurang berarti, karena banyak gagalnya daripada suksesnya. dia juga bercerita soal usaha lele-nya yang sebelumnya berhasil, masyarakat di sekitarnya juga sudah mengikuti, tapi sayang ternak lelenya habis diterjang banjir, usahanya akhirnya berhenti.

hal inilah yang membuat nyaliku menciut.