untukmu si miskin, selamat berlebaran, selamat berhari kurban

Antri Menanti Daging Kurban

ah saban hari juga kita makan kambing, makan ayam, makan sapi, sampai bosan. dan setelah bosan kita carilah menu-menu makan yang agak berbeda. kadang menyesuaikan trend, dan biar dibilang anti global warming kita siapkan di meja makan itu menu vegetarian, berbagai macam rupa dari sayur buncis hingga sop wortel dicampur kentang. dari satu sayur, ke sayur lainnya, yang semuanya kita pastikan yang terbaik, impor punya karena yang tak impor kita nilai tak terbaik. begitulah kita, lama-lama kita bosan juga dengan sayur dan sayur lagi, hingga mau muntah dan neg mencium aromanya.

bebek peking. kembali menu daging mengisi meja makan kita. aroma khas rempah-rempah china yang begitu kuat dan serasa nyaman dengan lidah indonesia kita, memberi nuansa baru bagi perut dan mulut kita, yang sebelumnya getol mengkampanyekan tradisi makan vegetarian, yang karena bosan kita sebut akhirnya sebagai tradisi orang-orang miskin, atau katakanlah tradisi biksu-biksu yang tak lagi peduli dengan hingar bingar dunia. hidup bersahaja adalah ungkapan ketidakmampuan manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. lalu kita penuhi lagi perut kita dengan daging-daging lagi. perut semakin membuncit karena lemak-lemak dari daging-daging itu merayap dan memenuhi ruang-ruang antara kulit dan daging kita. tak heran, karena setiap hari makan daging, kembali tak hanya bebek peking itu, bebek peking hanya satu diantara menu favorit yang biasa kita makan, ya daging sapi, daging kambing, daging ayam, kalau ada kesempatan ibadah haji ke arab mencoba menu daging unta yang rendah lemak itu katanya. daging dan daging.

saat tubuh semakin gemuk, darah tinggi hampir tak terkontrol, tensi darah meningkat, jantung berdenyut kencang, datanglah kita berobat, tak tanggung-tanggung ke singapur lah. di indonesia tak ada yang sehebat singapur bagi kita, sekalian belanja sepulang berobat dari rumah sakit, beli ipad, beli laptop, beli gadget macam-macam dari blackberi sampai iphone, semua kita beli mumpung lagi di singapura yang barang-barang itu murahnya setinggi langit bagi kita. lantas kita pulang dengan kepala mendongak menebar kekayaan pada sesama, “sambil bilang ini ipad untukmu langsung aku beli dari singapur, aku yakin kamu tak akan mampu beli, ke sana saja tak mampu apalagi beli ini.”

tensi darah, detak jantuk, darah tinggi mulai menurun, lemak-lemak jenuh berkurang, sambil mengingat pesan dokter kita tak lagi makan daging, daging ayam, daging sapi, daging kerbau, apalagi daging kambing yang katanya bikin darah naik drastis, meski bikin juga bikin hot semangat. kita lupakan daging-daging merah itu. kita cari di restoran dan menu-menu francise-francise makanan segala jenis ikan. yang termahal tak apalah, demi kesehatan. kita akan pastikan ikan itu yang terbaik, jangan sampai tercemar limbah merkuri, itu yang dari perairan teluk jakarta. kadar logam yang terkandung di dalamnya terlalu tinggi, kita anti pada yang itu. pilihan kita satu, daging putih impor dari jepang, karena kita tahu nelayan-nelayan dari jepang itu punya peralatan yang canggih, lebih canggih bahkan dari kapal-kapal tentara laut kita. kapalnya dilengkapi dengan alat-alat mutakhir baik untuk menjelajah, mengintai, maupun menangkap ikan. dengan itu kita diyakinkan bahwa ikan-ikan yang di tangkap adalah ikan-ikan terbaik, ditangkap di perairan-perairan yang cukup dalam, yang belum tercemari limbah-limbah logam maupun sampah. kita bisa makan dengan tenang ikan-ikan itu, mentah-mentahpun tak ragu kita memakannya, dicocol dengan saus-saus yang sekali lagi maaf, bukan untuk sombong, semuanya impor dari jepang.

menu bagi kita ibarat baju, sesuka hati bisa kita ganti. kalau kita bosan dengan masakan-masakan restoran, kita mintalah istri tercinta kita memasak bersama untuk melepas kejenuhan di antara kesibukan-kesibukan yang memenuhi jadwal kita. kalau mau masak sayur, sayurnya yang terbaik impor dari thailand. kalau mau masak daging, dagingnya yang terbaik, impor dari australia atau new zealand. kalau mau masak ikan, ikannya yang terbaik, kita beli yang impor dari jepang itu. jangan lupa, ini yang paling penting kalau kita masak sendiri, garam, garamnya juga harus yang terbaik. jangan sampai pakai garam grosok dari sumenep madura atau dari rembang jawa tengah, garam yang ini bisa merusak rasa. kita selalu ingat pepatah, ‘bagai sayur tanpa garam, hambar rasanya’. bagi kita, masakan tanpa garam terbaik, tetap hambar rasanya, kita pilihlah garam yang terbaik, impor dari india atau australia. saat makan tiba, tak lengkap rasanya kenikmatan kita tanpa nasi, yang juga kita siapkan khusus dengan kualitas terbaik, impor dari vietnam.

met lebaran, kaum miskin dan dhuafa. lebaran kurban bagi kalian yang jarang menikmati daging-daging, yang begitu sangat biasa menurut kami. selamat berkurban.

cililitan, 06 november 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s